CERPEN

Perjalanan "Ruh" (2)

20 Apr 2017 | 10:48 Diperbarui : 20 Apr 2017 | 11:09 Dibaca : Komentar : Nilai :

Perjalanan Ruh (2)

Setelah mengalami kejadian beberapa waktu lalu, aku jadi sering kepikiran.

Entah mengapa tiba-tiba disore ini aku merasa ngantuk. Kulihat jam dinding kamarku menunjukkan pukul 14.35 wib. Ini bukan waktu yang tepat untuk tidur, tapi mataku tak mau kompromi. Akupun tertidur dikursi dengan posisi tangan dan kepala diatas meja.

Aku belum benar-benar tertidur, karena aku masih mendengar sayup-sayup alunan musik Qasidah yang aku putar dari hp-ku.

…………………………

Setelah… engkau dimandikankan

Kain putih yang dibalutkan

Setelah…. Kau disholatkan

Ke pusaramu… kau dihantarkan

Kau ditinggalkan didalam kubur

Yang gelap gulita

Kau tinggalkan dunia yang selama ini kau anggap surga

…………….

Antara sadar dan tidak, aku mulai merasakan hawa sejuk disekitarku.

Beberapa detik kemudian……..

Aku merasakan tubuhku begitu ringan menembus lapisan-lapisan kabut tipis, hingga aku seperti melihat hamparan padang pasir yang gersang dan terik. Kearah manapun aku memandang tak ada satupun pohon ataupun gunung. Benar-benar hanya hamparan padang pasir.

Samar-samar dari kejauhan muncul rombongan beberapa orang yang sedang berjalan kaki. Dari arah mereka sayup-sayup kudengar raungan seperti orang kesakitan. Suara raungan itu benar-benar membuat kepalaku sakit sekali. Suara itu, belum pernah kudengar raungan kesakitan sepedih itu didunia. Entah, mungkin karena terlampau sakitnya si empunya suara itu.

Semakin mendekat, tampak semakin jelas terlihat ada seorang yang dirantai lehernya dan dibelenggu kedua tangannya. Dialah yang meraung-raung itu. Tidak jelas apa yang dia katakan, tapi sepertinya dia meminta pengampunan. Dia dikelilingi beberapa orang yang gagah dan kekar. Masing-masing memegang senjata dan tidak mengenakan baju sehingga kulit mereka terlihat hitam mengkilat terkena sinar matahari.

Sepanjang perjalanan, seorang yang dibelenggu ini disiksa habis-habisan oleh mereka. Yang memegang rantai menyeret paksa, ada yang mencambuk dengan bengis, ada pula yang menusuk-nusuk punggungnya dengan tombak. Mereka tidak memperdulikan jeritan dan kondisi orang yang mereka siksa. Walaupun sekujur tubuhnya penuh lebam dan luka sayatan berlumuran darah, mereka terus saja menyiksa orang itu. Kondisinya benar-benar mengenaskan.

Ketika mereka melewati tempatku berdiri, mereka seolah tidak menghiraukan aku yang menyaksikan kekejaman mereka. Mereka tetap meneruskan siksaan mereka sambil berjalan. Semuanya ada lima orang yang bertindak melakukan penyiksaan sadis itu.

Akupun mulai mengikuti dibelakang mereka. Kuberanikan diri untuk bertanya “siapakah orang yang mereka siksa ini ?”. Salah satu dari mereka menjawab, “ini adalah Firaun yang sombong !”.

Deeggg,,,,, seketika jantungku seperti berhenti berdetak, seluruh tubuhku terasa kaku dan berat. Keringat dikeningku kuusap berkali-kali.

“Apakah kamu pernah mendengar kisah si Firaun ?”.

“Yaa, aku pernah mendengar kisah Firaun dari salah salah satu guru mengajiku. Beliau menuturkan bahwa Firaun adalah raja yang sangat congkak. Seumur hidupnya tidak pernah mengalami sakit meski hanya demam sekalipun, sehingga ia mengaku sebagai Tuhan”.

“Lihatlah, inilah siksaan bagi Firaun yang sombong dan tidak mau menerima ke-Esa-an Allah. Dia diarak keliling dunia sambil dicambuk dan ditombaki. Siksaan ini akan terus-menerus ia jalani sampai hari kiamat datang”.

Tubuhku terasa semakin kaku. Keringat semakin deras mengalir. Aku hanya berdiri mematung sembari menyaksikan mereka perlahan-lahan menjauh dariku sambil terus-menerus melakukan siksaan mereka.

Kudengar kumandang adzan, perlahan-lahan aku mulai tersadar. Kudapati diriku dalam posisi duduk dikursi dikamarku. Tubuhku kembali basah oleh keringat. Aku beristighfar berkali-kali sambil beranjak melihat keluar jendela, ternyata ini hari sudah gelap. Ini sudah masuk waktu maghrib.

Aku duduk kembali sambil mengingat-ingat kejadian tadi. Apakah tadi aku hanya bermimpi, ataukah aku benar-benar menyaksikan kejadian yang sesungguhnya ???

Wallaahu a’lam………..

*****

Gunungkidul, 2017

Facebook: Eko Bagiyo Pache

Kang Bagiyo

/ekobagiyo

Simpel dan sederhana saja.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.