PUISI

Puisi | Kartini Menangis Bukan Minta Kawin

21 Apr 2017 | 09:11 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 09:43 Dibaca : Komentar : Nilai :
Wanita menangis karena sesuatu.... (Foto. Laman)

Kartini Menangis Bukan Minta Kawin


Usai shalat Subuh, Kartini menangis lantaran ingat wanita pejuang. 

Riwayat wanita pejuang selalu didengar tatkala Kartini mendapat tuntunan untuk panutan.

Panutan sebagai tuntunan hidup harus nyatu dengan jiwanya, sebagai semangat hidup dan untuk menghidupkan akhlak mulia bagi wanita pejuang.

Wanita pejuang bernama Kartini tak pernah mati. Nyala api di Bumi Nusantara adalah ruh Kartini sebagai semangat hingga nanti.

Ruh Kartini kini menjadi panutan, tak padam karena kepalsuan berselimut kemajuan.


Para ustadzah pun menyalakan semangat Kartini. Dan, dari Rembang kota nan indah itu kini negeri ini bertabur bunga aneka warna indah.

Kartini masih menangis di pagi hari meski ustadzah telah menyampaikan kalam Ilahi.

Bukan lantaran bayi kurang gizi, bukan karena tidak memperoleh beras miskin, bukan karena bunda sakit tak dapat pelayanan pengobatan....

Kartini menangis karena para penghotbah menebar kepalsuan.


Kartini makin kuat menangis, tidak bermaksud menandingi gadis manis menangis minta kawin.

Kartini yang bertebaran di negeri ini menangis karena: diperdagangkan, dikomersilkan dan direnggut hak-haknya.

Kartini masih keras menangis. Tak ada suara menyambut kesedihannya, yang ada belas kasih kepalsuan untuk memoles bibir petinggi agar terlihat lebih manis


Diam, anak manis. Di rumah masih ada susu kental manis. Esok hari Kartini balik dari negeri jiran dan wilayah seberang.

Bawa devisa sudah pasti, cerita pilu pun menyertai dan sakit hati menambah perih.


Kepada Kartini, ulama negeri pun memberi petuah.  Sayang, isinya pun bercampur kuah sayur.

Kartini kehilangan rasa ketika makan sayur, karena petuah sudah bercampur baur.

Penyebabnya, karena Kartini masih dipandang sebelah mata, karena atas nama agama masih dibolehkan diduakan.


Kartini tidak lagi memandang negeri ini indah, karena memang masih banyak yang memandangnya rendah. Manis madu tentunya tidak selezat ketika dimadu.


Bangkitlah,

Jangan tangisi negeri diwarnai kepalsuan, sebab Kartini masih punya kekuatan. Jangan biarkan kekerasan atas nama apa pun, sebab Kartini masih kuat menyangga negeri.

Mata telinga Kartini ada dimana-mana, Kartini punya kemampuan menyelamatkan negeri. Bumi Nusantara, di negeri itu, Kartini masih dapat mengabdi meringkus para perampok negeri.


Jakarta

2142017

Edy Supriatna Sjafei

/edysupriatna


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.