PUISI

Puisi|Kritis

20 Apr 2017 | 18:22 Diperbarui : 20 Apr 2017 | 18:43 Dibaca : Komentar : Nilai :
Ilustrasi | Sumber : 1.bp.blogspot.com


KRITIS

Kulihat berita-berita yang mengulas ulah para politisi itu

Ketika yang diberi amanah saling fitnah, dan saling sindir tak karuan

Tak menarik! timpal ku dalam hati. Semua itu sudah terlalu biasa

Hal tak berguna yang dipertontonkan sang pemangku kebijakan

Bosan....bosan sekali melihat mereka!!


Mendadak inginku jadi seorang yang apatis saja. Karena tak ada untungnya,

orang dengan idealisme tinggi saat ini pun akan luluh bila diberi umpan jabatan.

Siapa yang tak mau duduk manis dibelakang skenario kehidupan orang banyak?

siapa? kamu? kau? mereka? kita?


Negara ini terlalu kasihan bila harus berakhir seperti ini saja.

Dia tak salah apa-apa. cukup dengan candaan yang tak lucu ini!

Jangan sampai keadaan ini memaksa leviathan muncul ke permukaan.

Tak mau bila aku hidup dalam keadaan seperti Hobbes.


Tolong jangan buat negeri ini tak berbudi lagi karena saling benci.

Aku tak mau tanah tumpah darah ini hanya jadi tanah rebutan kekuasaan.

Penindasan tak lagi dalam bentuk fisik, tapi lebih sadis dari itu.

Hak kita dirampas tanpa adanya rasa iba dari mereka para "spesialis".


Kita dipaksa bungkam dan percaya pada apa yang dikatakan.

Tidak ada yang merasa bersalah sebelum adanya inkrah.

Semua pesakitan yang menjadi sumber cerita dianggap tukang fitnah.

bosan bosan bosan....sudah bosan aku dengan semua cerita itu.


(Cianjur, 2017)

Febri Fajar Pratama

/ebbytama

TERVERIFIKASI

Hanya penulis biasa, tidak terlalu pandai merangkai kata, mencoba jujur dengan apa adanya, selalu ingin berkarya, dan mencapai apa yang jadi tujuan utama.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.