CERPEN

Ayah, Aku bukan Mesin

17 Feb 2017 | 09:12 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 09:22 Dibaca : Komentar : Nilai :
ilustrasi(dakwatuna.com)

Segala pengorbananmu sungguh luar biasa Ayah, sejak kecil aku kagum dengan dirimu, sesosok ayah yang sempurna. Dari kecil membaca gesture, sikap, konsistensi, perencanaan masa depan, kecerdasan dan caranya bertutur sapa, ayahku tiada duanya.  Ibuku adalah pengagum terberat ayahku. Ia jatuh cinta oleh citra sempurna yang diperlihatkan ayahku. Intonasi suara, keterukuran kata-katanya adalah hal istimewa yang membuat para wanita klepek-klepek. Hanya Ayahku itu bukanlah seorang pemimpin yang berani menabrak  nabrak aturan. Ia bukan tipe orang nekat. Semua harus direncanakan, dipikirkan. Ia punya strategi rumit yang mengagumkan untuk menjalankan pekerjaan.

Aku tumbuh menjadi manusia kuat, karena didikan disiplin ayah, sedikit banyak aku ini representasi ayah, maka segala asa dibebankan ayah kepadaku. Ia punya rencana jangka panjang bagi masa depanku. Ayahku ingin ia sepertinya, yang mempunyai kedudukan baik, karier melejit dan kecerdasan di atas rata-rata. Bahkan puncak tertinggi karierku pun telah ia rencanakan. Aku seperti mesin ciptaan ayah, remotenya ia yang pegang dan aku harus siap sedia dengan segala konsekwensi menjalankan rencana-rencana ayah yang sudah direncakanan dalam benaknya.

sebetulnya ada keluhan kecil dalam nuraniku, mengapa harus menjadi  seperti ayah. Bukankah aku adalah milikku dan segala nasib hidup seharusnya ditanganku, Mengapa harus ayah yang menentukan hidupku bukan diriku yang mampu mengubah perjalanan hidup.

Mungkin bagi tetanggaku, rekan, kerabat dan kenalan ayah, mereka mengenal aku sebagai anak ayah, bukan diriku si  Angga anak rangking satu di kelas dan ketua osis SMA. Setelah SMA aku masuk Akademi Militer. Di akademi militer aku juga menonjol sama seperti yang dialami ayah. Sepertinya sejarah hidupku memang seperti foto copy dari ayahku. Perjalanan hidupku tidaklah terlalu dramatis sebab aku melaluinya dengan kesuksesan-kesuksesan karena aku bekerja keras, belajar giat dan selalu mendengar nasihat ayahku. Rasanya bagi orang lain akulah pria sempurna dari keluarga sempurna pula. Tidak ada keraguan bahwa hidupku ini adalah sebuah cita-cita yang didambakan banyak orang dan aku beruntung mendapatkannya. Tapi tahukah, sebenarnya ada yang kosong dalam diriku. Aku merasa jiwaku ini terlalu terkendali dengan rencana-rencana Ayahku. Aku tidak menapakkan kaki seperti orang lain yang bekerja keras untuk dirinya sendiri dan untuk identitas diri sendiri. Aku tercetak menjadi anak Ayah.  Dewangga Putra Bratasena.

Suatu kali aku pernah mencoba protes kepada ayah.

“Ayah…?”

“Ada apa Nak….?”

“Bolehkan aku bertanya…?

“Tentang apa…?”

“Aku ingin memilih Keluar dari kesatuan, ingin menjadi  pengarang?”

Terhenyak Ayahku mendengar.Tapi wajahnya tetap datar-datar saja.Ayahku memang termasuk orang yang susah tersenyum, sekali tersenyum rasanya malah seperti orang menyeringai.

“Ayah,mendidik kamu bukan menjadi pengarang, tapi menjadi Jenderal besar dengan pangkat tertinggi.”

“Itu khan kemauan ayah. Aku berterimakasih telah ayah didik sehingga karierku melejit, tapi aku merasa bukan menjadi diri sendiri....?”

“Bukankah sudah ayah bilang kau itu representasi diriku, kau harus mengikuti jejak diriku.”

“Tapi….?”

“Sudahlah, nikmati saja kariermu saat ini, bahagiakan dirimu.”Ayahku segera berlalu.

Saat- saat sunyi tanpa Ayah aku menatap dinding rumahku, tembok putih bersih, tidak ada debu, tidak ada kotoran yang menempel, karena para pembantuku selalu mengelap tembok hampir setiap hari. Rumah besar ini adalah sebuah istana megah tempat diriku seperti terkurung dalam idealisme Ayah yang ingin selalu terlihat sempurna dan menuntutku juga seperti ayah yang (mungkin)sempurna.

Sejak aku menyukai bacaan novel, aku seperti merasa tersadar banyak hal tidak kuketahui, banyak hal luput dalam hidupku. Kesadaran sebagai layaknya manusia yang hidup dalam lingkungan sosial dengan banyak karakter unik menjadikan aku tersadar. Aku selama ini hidup dalam Menara gading yang susah dijangkau rakyat biasa. Aku adalah mesin pendulang masa depan ayah, yang sudah diplot untuk menjalankan  dinasti kekuasaan. Kekuasaan absolut yang sudah terpagar kuat dalam citra diri seorang ayah. Ayah adalah seorang pemimpin yang tidak ingin melepaskan kekuasaan meskipun waktu terus berlalu dan saatnya regenerasi kepemimpinan dari yang tua ke yang muda. Aku adalah calon pengganti ayah. Beban seorang anak Pembesar bagi diriku sungguh membuat aku tersiksa. Aku ingin lepas dari bayang-bayang ayah, aku ingin menjadi diri sendiri, yang bisa mengembara, melanglang buana tanpa kontrol dari keluarga terutama ayahku.

Sudah cukup aku menjadi mesin saatnya menjadi  manusia biasa yang bisa tertawa, bercanda tanpa  ikatan protokoler. Dewangga adalah Dewangga bukan Dewangga putra  Bratasena sang pemimpin kharismatik yang sudah pensiun tapi masih ingin berkuasa. Ayahku menunjuk aku untuk mewujudkan ambisi menjadi seorang pemimpin. Aku terpaksa mengiyakan meskipun dalam hatiku berkata.

“Sssth sudahlah ayah, aku ingin menjadi diriku sendiri,sudah capek mengikuti ambisi ayah. Aku ingin membanggakan dirimu tapi dengan caraku sendiri.”

Jakarta, 17 Februari 2017

Ign Joko Dwiatmoko

/dwiatmoko

TERVERIFIKASI

Seorang Guru, Suka Menulis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.