PUISI

Ziarah

20 Apr 2017 | 21:34 Diperbarui : 20 Apr 2017 | 22:12 Dibaca : Komentar : Nilai :
Sumber: desirze.WordPress.com

Yang sudah hilang kenapa harus di kenang?
Rindu telah kukuburkan
Sepi telah kumuntahkan
Mengapa kesetiaan sejati selalu mengguncang?
Walau cinta jadi gunung berapi
Meski benci jadi sungai berahi
Yang sudah hilang usahlah dibilang

Menanti di ujung sepi
Di bawah terik di tengah galau
Menunggu tanpa rindu
Tanpa janji, tanpa rasa ingin bertemu
Mengapa luka kian membuta?

Yang sudah pergi
Yang membawa hati
Kenapa mesti dicari?
Hidup, lahir dan mati
Berapa tahun kita sanggup berlari?
Kemarahan yang sia-sia
Kesedihan yang tak membuahkan apa-apa
Kapankah pendakian ini sampai pada puncaknya?

Butir-butir air mataku teruntai bak tasbih
Rindu aku menjadi peziarah yang terus mencari
Bersama kawanan ikan yang rumahnya seluruh samudera
Bersama kawanan burung gaib yang bersarang di cakrawala

Aku belajar membaca luka
Aku belajar menulis tangis
Kuputuskan sembahyang abadi membelah sunyi
Sajadahnya adalah kesunyian itu sendiri.

Ciledug, 20 April 2017
(Dicky Rivaldi & Indar Indiarti)

Dicky Rivaldi

/dikirifaldi

Aku melihatmu; aku membaca. Aku melihatmu; aku menulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.