NOVEL

Cinta Aisa 87: Tujuh Tahun Kemudian Kugentayangi Kamu

19 May 2017 | 06:29 Diperbarui : 19 May 2017 | 08:30 Dibaca : Komentar : Nilai :
cinta-aisa2-590a68c6dc22bd7209f257be.jpg

Will ? Bisakah ? “ tanya Lalita dengan mimik minta dimengerti.

“ Tidak! Aku tak bisa mengerti. Aku tak mengerti kenapa mencintai seseorang harus mendapat penolakan! Aku tak bisa menerima penolakanmu. Kamu kejam!“ teriak Willi.

“ Aku menolak karena tak ingin kamu celaka, Willi. Aku bukan memikirkan hidupku, masa depanku, aku memikirkan hidupmu dan masa depanmu.”

“ Kamu kejam, Lali. Kamu kejam !!! Kamu akan menyesali penolakanmu seumur hidupmu!!!” Willi langsung keluar, langsung pulang ke rumahnya.

Orangtua Willi kaget melihat Willi pulang dengan wajah keruh. Mereka bertanya kemana Willi dan apa yang terjadi? Willi mengatakan ia pergi mencari Riko, tidak bertemu berhubung Riko sedang keluar, dan itu memang dilakukannya. Setelah pulang dari Tegalega, ia lewat di Sudirman, singgah ke toko Riko. Pekerja Riko mengatakan Riko sedang keluar. Willi tidak bertanya lagi, ia langsung pulang.

“ Sudah malam, Will. Mandilah, setelah itu kita makan. Sudah lama kita tak makan bersama.” Kata ibunya.

“ Baik, Ma,”

Ibunya tidak gembira sama sekali orangtua Lalita menerima perjodohan Willi dengan Lalita, tapi terpaksa menerima demi masa depan anaknya. Saat makan tak ada yang bertanya apa yang terjadi. Willi selama ini memang pendiam. Makan tak pernah berbicara. Setelah selesai maka Willi masuk ke kamar. Tidak ada yang mengunjungi kamar Willi di malam itu.

Di dalam kamar Willi menulis 2 lembar surat. Satu ditujukan buat Riko, satu lagi ditujukan buat Lalita.

Dalam surat yang ditujukan buat Riko, Willi menceritakan apa yang dialaminya, kunjungan ke Bengkalis, omongan Asiu Pek, ketidaksetujuan ibunya,  menemui Lalita pulang dengan tangan hampa, mengancam ibunya, ibunya menyuruh comblang melamar Lalita, kegembiraannya saat lamarannya diterima, ia pergi mencari Lalita, ingin berbagi kegembiraan, tapi ditolak mentah-mentah oleh Lalita.

Di akhir surat Willi menulis, Aku gagal menyuntingnya untuk mengisi hatiku, aku memang tak berguna, hidupku sia sia, tapi aku tak ingin ia melajang sampai tua. Kamu sahabatku, aku ingin kamu mewakiliku menjaganya hingga hari tua. Untuk itu kamu harus menikah dengannya, dengan cara apapun kamu harus menikah dengannya. Ini pesan terakhirku, harus kamu jalankan. Kalau tidak kamu jalankan, aku akan menghantuimu sepanjang hidupmu. Selamat tinggal Riko, sahabatku !

Sedangkan surat Untuk Lalita isinya singkat. Aku mencintaimu, sungguh-sungguh mencintaimu, tapi kamu lebih percaya mitos ketimbang cinta sejatiku. Aku sangat mengharapkan hidup bahagia bersamamu, tapi kamu menolakku. Sakitku tak terkira. Namun aku hargai keputusanmu. Hidup tidak adil padaku, maka mati aku tidak adil untuk orang lain. Aku menulis surat ini sebagai pesan terakhir. Aku ingin kamu menikah dengan Riko ! Harus ! Kalau tidak, aku akan menggentayangimu. Kamu percaya mitos angka tujuh! Jadi, kuberi kamu kesempatan menyesali sikapmu. 7 tahun mendatang jika kamu belum menikah dengan Riko, aku akan datang menghantuimu ! Selamat tinggal Lalita. Cintaku padamu selamanya tidak akan berubah !

Setelah menulis kedua surat, kedua surat dimasukkan ke amplop, ditaruh dengan rapi di atas meja di kamarnya. Ia  ke gudang mencari tali. Ia membawa tali yang dimasukkan ke kantong semen dan dibawa ke kamarnya. Tidak ada yang curiga padanya.

Ia masuk ke kamar. Mengikat tali ke tiang plafon. Ia berjalan ke lemari buku. Ia mengeluarkan sebuah album. Ditatapnya foto Riko, ditatpanya foto Zhu lali, ditatapnya hingga lama sekali, seakan ingin memasukkan gambar kedua orang itu ke benaknya, agar setelah mati pun ia tak melupakan wajah kedua orang itu.

Ditutupnya album, dikembalikan ke lemari. Di-periksanya kamar, semua rapi. Diambil kursi, ditaruh di tengah ruangan tempat seutas tali menggantung. Ia naik ke  kursi, dan mengucapkan selama tinggal pada orang orang yang dicintai. Setelah mengalungkan tali ke leher, pelan pelan ia menendang kursi hingga terguling, tepat pada jam 12 tengah malam dimana lonceng jam berdentang 12 kali.

Kelopak mata Riko membengkak, sebahagian akibat ia selalu mengucek matanya, sebahagian lagi akibat mengantuk. Prana bergidik mendengar kisah yang dituturkan sahabat barunya.

“ Maaf, Pran, sudah larut malam. Kami ingin tutup.” Mas Ipul bukan hanya sudah ingin tutup, tapi sudah menutup separo pintu kedainya.

Prana bagai terbangun dari mimpi. Cerita yang dituturkan Riko sangat menyentuh kalbu, mengoyak perasaan, sekaligus mengharukan. Ia meraih dompet dan membayar. Riko terbengong bagai orang badoh, pasti tak ingat apa-apa selain kisah sedih yang dituturkannya. Sangking asiknya Prana mendengar cerita Riko, malam itu ia lupa mengantar kepulangan Aisa.

“ Bang Riko, sudah larut malam. Ayo pulang,” Prana menepuk pundak Riko. Riko kaget, hampir terjengkang. Untunglah Prana menahan kursi yang diduduki Riko.

“ Oh, ya, sudah jam 12. Eh… sudah mau tutup.” Ucap Riko salah tingkah. Ia masih terbayang cerita yang ia kisahkan pada Prana. “ Besok, jadi ikut aku ke Bagan Besar ? “ tanya Riko.

“ Oke, bang. Kutunggu di gerbang Pinang Kampai.” Kata Prana. Riko sangking bingung ingin membayar lagi, Mas Ipul mengatakan baksonya sudah dibayar. Riko ber ah oh, memakai jaket, memakai topi, dan keluar bersama Prana. Hujan masih gerimis. Penjahit Lalita sudah tutup. Prana menoleh ke plang nama bertuliskan Penjahit Lalita. Almarhum Willi dalam suratnya mengatakan meminta Lalita menyesali tindakannya selama 7 tahun. Jika diterawang dari cerita Riko, kejadian bunuh diri Willi terjadi di  tahun 1978 atau 1979. Tujuh tahun telah berlalu. Apakah Lalita sudah cukup menyesal? Prana merasa pundaknya dingin.  Sekarang akhir tahun 1985, mestinya inilah tahun ketujuh kematian Willi. Bulu kuduk Prana berdiri, membuat tengkuknya terasa dingin. Apakah roh penasaran Willi akan mulai meng-gentayangi Lalita tahun depan? Tahun depan tinggal belasan hari. Ih… mengerikan, guman Prana dalam hati. Riko menghidupkan motor, lalu tancap. Prana juga menghidupkan motor, menjalankan motor pelan-pelan. Sepanjang jalan ia memikirkan cerita Riko tentang Lalita dan Willi, siapa yang bersalah dalam pertiwa bunuh dirinya Willi? Apakah kesalahan itu bermula akibat Riko memalsukan surat balasan Lalita? Ataukah keyakinan Lalita yang berlebihan terhadap mitos putri ketujuh meminta tumbal ? Atau, cinta terlalu mendalam mengakibatkan Willi putus asa lalu mengakhiri hidup? Haruskah sebuah kisah cinta berakhir seperti itu ?

Akibat malam kemarin berkendara di tengah grimis, hari ini Prana bersih-bersin. Prana memakan sebutir obat anti flu. Semalam Riko mengajaknya ke Bagan Besar. Ia lupa bertanya jam berapa mereka akan berangkat. Mau tak mau Prana mengendarai motornya ke Dumai. Ia mencari kedai kopi Asahan di jalan Datuk Laksamana. Ia berhasil menemukan sebuah kedai kopi di deretan ruko dua tingkat yang dindingnya bukan beton, melainkan kayu, dan atapnya seng bergelombang. Kalau hujan pasti atapnya ribut.

Jam 9 pagi. Prana mencari meja kosong, duduk sambil memesan segelas kopi. Ketika pelayan mengantar pesanan, ia bertanya. “ Apa betul Riko Tandi tinggal disini ?”

Wa-ku 08561273502 line id Deriprabudianto. Mau versi cetak?

Bersambung

Deri Prabudianto

/deri-chua

TERVERIFIKASI

Hanya orang biasa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.