NOVEL

Cinta Aisa 48: Yang Sedang Hangat

20 Mar 2017 | 06:43 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 08:17 Dibaca : Komentar : Nilai :
Dok.pribadi

Prana tak berani menjawab, hanya tersenyum lebar.

“ Nih, bawa dia jalan jalan untuk menghiburnya !” kata Lalita.

Aisa menggeleng. “ Jangan, kak Lit. Tadi Juliet keluar, aku takut bertemu dia di tengah jalan. Kalau dia mengadu ke mama, aku bakal tak diijinkan belajar menjahit karena Juliet menuduhku belajar menjahit hanya alasan agar bisa berjalan jalan bersama Kak Lit.” 

“ Takut apa  sama Juliet ! “ seru Lalita keras. “ Kalian berdua ikut aku masuk !” tambah Lalita.

 Aisa dan Prana saling tatap, heran kenapa Lalita menyuruh mereka masuk ke dalam, padahal sebelumnya Lalita menyuruh Prana membawa Aisa jalan-jalan. 

Aisa berjalan duluan, Prana mengekori di belakang. Para penjahit tiba-tiba terserang batuk, semua berehem ehem. Untungnya semua berpihak pada Aisa, tidak ada yang mengadukan kedatangan Prana ke Jon atau Yumini.

“ Bulan sudah berubah rotasi, 120 hari sekali mengelilingi bumi !” kata Liana.

“ Aku pernah telat datang bulan, tapi hanya 40 hari, bukan 4 bulan, ehem ehem!” Santi ikut nimbrung. Apa hubungan telat mens dengan  bulan yang berubah rotasi  4 bulan sekali? Tanya Aisa dalam hati.

“ Matahari punya 9 planet, salah satunya bumi, tapi bumi hanya punya satu satelit, namanya Prana. Prana hanya punya satu hati, hatinya hanya untuk Aisa. Ehem ehem…” Corry bernada puitis, suaranya disertai deru mesin jahit yang klutuk klutuk.

“ Aku tak bersekolah. Aku hanya tahu di kebun singkong selalu ada sinar rembulan. Ehem ehem…” Merry berdesah, mirip pungguk merindukan bulan gara gara pacarnya sudah tidak datang mengunjunginya.

Aisa menundukkan kepala. Prana tak berani ngomong. Mungkin diam adalah pilihan terbaik.

“ Masuk kesini! Jangan jadi tontonan di luar, nanti Juliet lewat kalian merana ! “ bentak Lalita.

Aisa tak ingin ketahuan, cepat-cepat ia menuju ke pintu yang membatasi ruang memotong pola dengan ruang menjahit. Prana tak mau kalah, akibatnya keduanya bersenggolan di pintu. Prana mengalah, menyuruh Aisa duluan, Aisa menyuruh Prana duluan, terdengar ehem ehem dari para penjahit. Aisa cepat cepat masuk sebelum semua terkena batuk rejan yang semakin berat.

“ Aisa, pakai bajuku, jaketku, pakai selendang. Prana, pakai jas ini, pakai topi ini, “ perintah Lalita dengan nada yang tidak ingin dibantah.

“ Untuk apa, kak Lit ?” tanya Prana.

“ Kamu mau bonceng Aisa keluar jalan jalan atau tidak ?” tanya  Lalita.

“ Mau donk.” Kata Prana segera.

“ Kalau mau, ya pakai. Ini kunci motorku, kalian pakai motorku, aku pakai motor Prana, ini supaya kalian tidak dikenali jika bersua Juliet di tengah jalan.” Kata Lalita, menyodorkan kunci pada Prana.

“ Tapi, kak Lit,----“ Kalimat Aisa dipotong Lalita dengan cepat.

“ Tidak ada tapi. Aku yang berkuasa malam ini. Ini perintah bos. Kalian harus menurut, mengerti!” Lalita bertolak pinggul, bergaya sangat bossy. Aisa bukannya takut, malah ketawa. Lalita pura pura marah. “ Cepat, kataku. Jangan membuang waktu. Jam 10 kalian sudah harus tiba disini, sebentar lagi kalian ulangan, harus belajar yang rajin. Ngerti ?!”

“ Ngerti, bos !” jawab Prana dan Aisa serentak. Aisa membawa baju pinjaman Lalita ke kamar, ia berganti pakaian disana, sementara Prana berganti pakaian di kamar mandi. Saat keduanya keluar, Lalita masih bertolak pinggul. Lalita berseru.

“ Ah, Pangeran dari Negeri Dongeng, Putri dari Kebun Singkong, bertemu di Penjahit Lalita, aku jadi mak comblang. Asikkk” seru Lalita, lebih mirip gaya Selli yang anak SD ketimbang bos yang sok galak. Aisa menatap Prana. Dengan memakai kemeja yang dipinjamkan Lalita, Prana terlihat lebih dewasa.

Prana menatap Aisa. Dengan baju modis yang dipinjamkan Lalita, Aisa terlihat bagai Putri dari India. Apalagi ditambah selendang dililitkan di rambut. Prana takjud hingga lupa mengajak Aisa keluar.

“ Heh, kalian kenapa bengong dan saling menatap? Cepat berangkat !” hardik Lalita.

Aisa segera berjalan keluar sebelum Prana ikut bergerak dan mereka bersenggolan lagi di pintu yang akan menambah banyak penderita batuk akut saling bersahut sahutan dengan suara batuk palsu mereka.

Motor berbelok ke kanan saat keluar dari penjahit Lalita. Aisa berdoa semoga Juliet tidak melintasi jalan Tegalega menuju Bukit Datuk. Kalau iya, mereka pasti terpergok.

“ Jangan ke Taman Bukit Datuk ya, Pran, Aku takut ketemu Juliet atau teman-temannya.” Kata Aisa dengan nada memohon.

“ Tidak. Kita akan ke tempat yang tak mungkin di datangi Juliet atau teman-temannya.” Kata Prana mantap.

“ Jangan ke Bukit Jin, waktu kita terbatas. Cukup di kedai kopi pinggir laut saja. Uang yang kubawa hanya bisa membayar segelas teh, jadi aku tak bisa meneraktirmu,”

Prana tertawa mengalahkan suara deru motor. “ Kita tidak ke Bukit Jin, kita juga tidak ke kedai kopi. Kita ke Sanggar  !”

Aisa tahu arti Sanggar, Sanggar adalah Sanggar Karyawan, sebuah mess sekaligus kantin yang dikelola swasta hanya untuk melayani tamu-tamu Caltex yang tidak tinggal di Bukit Jin. Di samping Sanggar ada pondok pondok kecil yang indah tempat orang bersantai sambil menikmati hidangan, duduk terpisah antar satu pondok dengan pondok lain. Dulu papanya pernah mengajaknya ke Sanggar. Sayang, waktu itu ia masih SD, belum tahu bahwa itu tempat yang asik buat ngobrol. Waktu itu papanya bertemu seorang wanita cantik, berpakaian sederhana, bahasanya santun, selalu memanggil papanya Koko Hu, dan memanggil Aisa anak manis, selalu meraba kepala Aisa, memangku Aisa, bahkan, ketika berpisah Tante itu mencium pipi Aisa lembut sekali.

Dulu ia tidak memerhatikan, kenapa sekarang wanita itu terasa hangat di hatinya, serasa ciuman di pipi itu masih berbekas? Wanita itu bukan saudara papanya, juga bukan saudara mamanya, juga bukan orang Dumai. Papanya ketika pamit mengatakan ingin ke Sanggar  untuk bertemu tamu dari Jakarta. Papanya sebelumnya selalu jujur, kenapa malam itu papanya berbohong pada mama?

“ Kenalkan Ais, ini Tante Mimi, teman baik papa, tapi nanti kalau ditanya mama, jangan bilang kita bertemu tante Mimi ya, Ais. “ Pinta papanya.

“ Baik, pa.”

“ Anak baik. Nama saya Mimi, saya berteman baik dengan ayahmu sejak kecil, dulu kami pernah satu sekolah, SD hingga SMP. Aku hanya tamat SMP, sedangkan papamu melanjutkan hingga SMA. Setelah diterima bekerja di Caltex. Kami berpisah,” cerita Tante Mimi sambil menatapnya, memegang pipinya, mengelus rambutnya. Ibunya jarang menyentuhnya, kenapa sentuhan Tante Mimi terasa sejuk di hati, bahkan Aisa merasa seakan  ia berharap ibunya Tante Mimi. “ Koko Hu, anakmu cantik sekali,”

“ Ais. Kenapa diam ?” tanya papanya.

“ Ais, Kenapa diam ?” tanya Prana.

Aisa tersentak. Ia tak menyangka naik motor juga bisa melamun dan terbayang almarhum ayahnya.

“ Ais sedang banyak pikiran.  Ais terkenang ke Sanggar  bersama papa.” Jawab Aisa.

“ Oh… kukira kamu kecapean.”

“ Tidak, aku tidak cape, hanya buntu menghadapi kebandelan Juliet. “ Motor berada di jalan Putri Tujuh, mereka sedang melintas di SMA 2. Sebentar lagi tiba di depan kilang, dan berbelok menuju  Sultan Sarif Kasim II. Sanggar Karyawan terletak di pangkal jalan Sultan Sarif Kasim II, tak jauh dari Patrajasa, yang merupakan Sanggar Karyawannya Pertamina.

Siapa Tante Mimi ? Kenapa papa bertemu Tante Mimi tanpa ingin diketahui mama ? Apakah Tante Mimi teman sekolah papa? Hanya teman atau….

 “ Jangan menguatirkan Juliet. Juliet tak sanggup membayar teman-temannya untuk nongkrong di Sanggar, kecuali klaim asuransi sudah cair dan ibumu memberinya uang jajan sebulan sekali dalam jumlah besar.”

“ Klain asuransi  belum cair. Kalau sudah, Jon pasti membangun kembali rumah kami.” Kata Aisa.

Motor berbelok ke Sanggar. Sanggar terletak agak ke dalam, halamannya luas, bisa untuk parkir 30 mobil. Prana tidak langsung ke pondok. Ia memarkir motornya di parkiran  karyawan.

“ Hai, Pran. Bawa cewe nih? “ Sapa karyawan Sanggar. Karyawan Sanggar bukan karyawan Caltex, melainkan karyawan PT atau CV yang memenangkan tender pengelolaan Sanggar.

bersambung.... maaf..` eps 45 terposting 2 kali tapi yg kedua itu isinya eps  46... gara kurang minum air merek apa, hayo?

Deri Prabudianto

/deri-chua

TERVERIFIKASI

Hanya orang biasa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.