NOVEL

Cinta Aisa 27: Siulan Ditengah Malam

17 Feb 2017 | 06:44 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 06:57 Dibaca : Komentar : Nilai :

Aisa ketakutan setengah mati. Walau ia tiarap, namun tubuhnya berada di tanah terbuka, sama sekali tak ada daun singkong yang telah dicabut untuk menutupi tubuhnya, ini membuat posisinya tidak menguntungkan, andai Lutong berjalan lurus, ia bakal ditemukan ! Bayangan ia pernah hampir diperkosa  membuat kaki dan tangan Aisa lumpuh, tidak bisa digerakkan sama sekali. Sangking paniknya ia lupa, tangannya memegang gagang cangkul. Lutong pasti takut andai diacungi cangkul. Kalau tercangkul, Lutong pasti terbelah jadi dua. Paling tidak  kepalanya remuk. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Aisa menarik cangkulnya sambil berdiri.

“ Jangan bergerak, atau kucangkul kepalamu !!!” Nekad, sudah tak ada jalan lain kecuali ketahuan. Aisa siap mengayunkan cangkul.

Bayangan itu tidak bergerak. Bayangan itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Aisa tak menyangka Lutong sepatuh itu. Bayangan itu membelakangi obor, membuat wajahnya tidak kelihatan, tapi kenapa rambutnya lurus? Bukankah Lutong berambut ikal?

“ Aku menyerah ! Jangan mencangkulku. Di dompetku ada uang, ambillah, tapi tolong biarkan aku pergi ! Aku akan menutup mata, pura pura tak tahu siapa yang merampokku.” Suara itu gemetar, tidak mirip suara Lutong yang galak. Bahkan, Aisa serasa pernah mendengar suara itu berkali-kali. Bayangan itu mengait kedua tangan di belakang leher. Posisi yang menyerah total, mirip tawanan perang yang siap digiring ke tiang gantungan.

Aisa kaget setengah mati. Suara itu milik Prana !

“ Prana ? “ serunya dengan nada tak percaya.

“Aisa?” kepala Prana tersentak, menampaknya wajahnya yang agak berpaling ke samping.

“ Kenapa malam-malam bersiul di tengah kebun singkong ?” tanya Aisa.

“ Kenapa malam-malam membawa cangkul ? “ tanya Prana.

Dua pertanyaan dilontarkan hampir berbarengan, lalu keduanya sama-sama jengah, sama-sama tertawa halus. Sama-sama diam. Prana berdiri terpaku, Aisa menurunkan cangkulnya. Keduanya berdiri saling berhadapan.

“ Tadi aku singgah ke Penjahit Lalita. Kamu sudah pulang. Aku menyusul kemari, ingin mengetuk jendelamu. Saat melewati kamar paling belakang, kudengar ibumu sedang berbicara dengan ayah tirimu. Aku tak jadi mengetuk jendela kamarmu.” Jelas Prana.

Aisa baru sadar kesalahpahaman yang mereka alami, tanpa sadar ia tertawa kecil. Untuk apa Prana malam malam ingin mengetuk jendela kamarnya ? Apa sering dia datang kemari  dan bersiul lagu Hello di tengah kebun singkong ?

“ Kamu, kenapa membawa cangkul malam malam ? “ tanya Prana.

“ Oh ya, aku ingin memberitahumu, aku melanjutkan. Jon Tanaka mengizinkan, jadi hari ini aku mulai bersekolah di SMEA.”  Aisa mengabarkan dengan wajah gembira.

“ Aku turut gembira mendengarnya. Selama libur aku pulang ke rumah nenek. Kemarin kembali kemari. Puput sudah mengabarkan lewat ayahku, tapi aku ingin mendengar dari mulutmu. Itu sebabnya aku datang malam malam.”

Omongan Prana membuat Aisa terpesona hingga lupa memberi jawaban.

“ Kenapa kamu membawa cangkul malam malam, apa ibumu memaksamu mencangkul di tengah malam buta ?” tanya Prana.

“ Bukan. Aku ingin menggali uang.” Jawab Aisa.

“ Menggali uang ? “

“ Betul. Uang pemberianmu kutanam disini. Besok aku harus membayar uang seragam dan uang buku. Malam ini terpaksa membawa cangkul untuk menggali.” Kata Aisa.

“ Ditanam disini? Kenapa ditanam disini ? Apa supaya berbuah seperti singkong ?”

Aisa tertawa mendengar pertanyaan Prana.” Bukan. Kamarku sering digeledah Juliet.  Disini lebih aman.”

“ Lutong sering lewat disini. Kalau ketahuan pasti disikatnya.”

“ Disini semua tanaman singkong, tak ada yang menduga disini kusimpan uangmu.”

“ Betul juga. Kamu pintar !” Prana menyentuh hidung Aisa. Seketika tubuh Aisa serasa terkena alisan listrik. Mereka sama-sama menggali, mula-mula menggunakan cangkul,  setelah 50 senti mereka menggunakan tangan. Dua tangan saling menggali, saling bersentuhan. Setiap sentuhan merupakan denyutan beraliran yang saling menggetarkan jiwa. Aisa menggali ke arah dirinya, Prana juga menggali ke arah dirinya, mereka jongkok sambil berhadapan. Bila tangan bersentuhan, keduanya saling menatap. Rembulan secuil, mengintip kemesraan mereka. Akhirnya bungkusan itu terlihat, terbungkus plastik, di dalamnya masih berbungkus koran. Aisa membuka bungkusan itu. Uangnya agak lembab. Asa mengambil 10 lembar, ingin menyimpan kembali. Prana menahan tangannya.

“ Ambil 30 lembar, supaya jika membutuhkan kamu tak perlu sering menggali. Sering menggali bisa diintip Lutong atau ibumu. “

Aisa menganggguk, ia mengambil lagi 20 lembar. Bersama 10 lembar pertama semua dimasukkan ke saku baju. Bungkusan diikat kembali, ditanam kembali. Kali ini kedua tangan saling mendorong tanah, saling bersentuhan selagi berada di permukaan tanah, mirip tarian belibis yang sedang adu bulu buntut.  Selesai menutupi galian keduanya saling memandang. Sama-sama  tidak percaya malam ini akan bertemu di kebun singkong untuk saling bersentuhan ujung jari.

“ Pulanglah, Pran. Sudah larut malam. Disini bukan tempat yang aman.”

“ Aku setuju. Oke, kamu pulang duluan, kukawal hingga  masuk ke rumahmu.”

“ Aku tidak lewat pintu, aku keluar lewat jendela.”

Prana tertawa mendengar pengakuan Aisa. “ Kutunggu kamu masuk lewat jendela untuk memastikan tidak ada gangguan dari Lutong.”

Aisa terharu atas perhatian Prana. Ia mengangguk, berjalan menuju rumahnya. Prana mengawasi. Setelah Aisa berjalan 6 langkah, barulah ia bergerak mengekori. Aisa tiba di belakang rumah. Saat melewati kamar ibunya, tidak terdengar suara. Apakah ibunya sudah tidur ? Apakah Jon juga sudah tidur ? Terlalu riskan untuk bersuara. Aisa segera  menuju kamarnya. Ia berhasil masuk. Prana mengintai lewat kandang kambing. Aisa melambaikan tangan. Prana membalas lambaiannya. Kambing-kambing mengembik, Prana segera berjalan menuju belakang. Aisa menutup jendela, lupa bahwa tadi ia merangkak, bajunya kotor, namun ia tak peduli. Dibaringkan tubuhnya di atas tikar, dan bayangan Prana mengisi benaknya dari sadar hingga ke alam mimpi.

Sejak bersekolah Aisa hanya bisa belajar menjahit di malam hari. Pulang sekolah tiba  di rumah jam 1, makan siang lauk dingin yang dimasak tadi pagi. Setelah makan ia  mencangkul. Ibunya sudah bisa mengiris singkong, sudah bisa  menggoreng kripik. Sesekali ibunya mengintip ke kebun singkong. Mungkin takut Aisa bertemu Prana di siang  bolong. Kalau melihat Aisa diganggu Towi, ibunya diam saja. Tidak membela juga tidak melarang. Apakah ibunya berniat membiarkan Aisa semakin dekat dengan Tantowi?

“ Aisa pembohong ! Katanya tidak  melanjutkan, ternyata masih bersekolah. Dasar pembohong !” Towi melempar sebungkah tanah. Aisa menghindar.

“ Ayahku sedang banyak uang. Apa salahnya  menyuruhku melanjutkan?” balas Aisa. Semua orang di Tegalega hingga Tunas Muda tahu Jon memberi Aisa uang untuk melanjutkan. Aisa menganggap ayah tirinya pahlawan.

“ Buat apa melanjutkan ? Mending tanam singkong yang banyak, bisa menghasilkan uang.” Ucap Towi jengkel. Tanah yang dicangkulnya selalu kalah luas dibanding yang dicangkul Aisa. Kalau ia bisa pacaran dengan Aisa, ia bisa tidur sejenak, meminta Aisa mencangkul di kebunnya, supaya ibunya tidak menarik telinganya hingga nyaris putus. Ibunya selalu memuji Aisa anak rajin, memakinya anak pemalas, kalau mendapat menantu serajin Aisa, biar keturunan  Perbum ibunya tak peduli.

“ Sekolah bisa membuat orang jadi pintar. Kamu ada uang, tapi tidak mau melanjutkan, nanti kamu kawin dengan kambing betina loh.” Ledek Aisa.

Towi melempar sebongkah tanah, Aisa mengelak. Towi ingin menyeberang untuk mencium Aisa. Seekor biawak muncul di parit pembatas, membuat niat Towi surut kembali. Dicarinya tanah, dilempari biawak itu. Biawak itu mengejarnya. Towi lari terbirit birit dan pulang mengadu pada ibunya bahwa di kebun singkong ada biawak ganas yang ingin memakannya. Akibatnya, ia mendapat jeweran  hingga kupingnya nyaris putus dan ia menjerit kesakitan.

Bulan Agustus berada di pertengahan musim kemarau. Hujan sudah tak pernah turun membasahi bumi. Angin berhembus keras di malam hari. Jam 10 Aisa pulang  belajar menjahit. Ia masuk lewat pintu belakang berhubung semua kamar sudah mematikan lampu. Badannya capek. Tanggal 18 Agustus sekolah mengadakan pertandingan untuk merayakan HUT kemerdekaan RI. Ia ikut pertandingan volly. Anak kelas satu selalu kalah dari anak kelas 3. Mungkin karena anak kelas tiga lebih bertenaga dan tubuh mereka lebih tinggi. Aisa belum mengantuk. Ia mengambil buku dan belajar dengan lampu tidur yang didekatkan ke buku. Pelajaran yang baru di SMEA adalah Tata Buku dan Hitung Dagang. Kedua pelajaran itu banyak hitung menghitung. Teman-temannya membeli kalkulator. Aisa ingin berhemat, ia menghitung menggunakan coretan.

Entah berapa lama ia belajar, di kamarnya tidak ada jam, Aisa mulai mengantuk. Terdengar suara percikan air di dapur. Aisa tidak curiga. Terkadang Jon  pulang jam 11 malam dan mandi. Tapi, kenapa suara percikan air terdengar di dapur ? Kenapa bukan di kamar mandi ? Aisa memasang telinga. Suara percikan air tidak hanya terdengar di dapur, tapi juga di depan pintunya, berpindah ke depan kamar Selli, menjauh hingga  tidak kedengaran lagi. Mata Aisa tinggal 5 watt. Malas ia keluar memeriksa. Mungkin Juliet tak bisa tidur dan sedang belajar menari ala Madona sambil memercikan air ke lantai agar tidak kepanasan.

Kreeeek !

Derit pintu, suaranya tidak terlalu keras. Nah, kalau yang ini tak mungkin Juliet. Juliet penakut, tidak bakal membuka pintu walau kebelet pipis di tengah malam. Pasti membangunkannya untuk diajak menjadi pelengkap penderita. Aisa curiga ada maling. Walau barang-barang yang dibeli Jon  rusak semua, tak ada yang tahu kecuali keluarganya. Pasti maling ! Maling ingin menggasak barang elektonik yang dibeli Jon. Aisa kehilangan kantuk. Ia bangun, perlahan  membuka jendela. Ia berhasil keluar. Maling sering beroperasi tidak sendirian. Aisa baru merasa takut ketika angin malam membuatnya kedinginan. Ia menyesal keluar,  tapi sudah terlambat. Okelah, karena sudah keluar, tak ada salahnya memeriksa  satu keliling. Aisa berjalan ke belakang. Setibanya di pintu belakang, dilihatnya sesosok bayangan membalut wajahnya dengan kain hingga yang tampak hanya dua mata, keluar dari dapur, menghilang di kegelapan.  Tapi kenapa maling itu tidak membawa apa-apa ? Apa sasarannya hanya uang ? Aisa mengekori maling itu. Maling itu menuju kebun singkong. Akh, maling itu mengincar uangku, pikir Aisa. Pasti Lutong!

Suara Percikan apa yg didengar Aisa?    WA-ku 0856 1273 502       Line-ku id deriprabudianto atau add dgn telpon 0856 1273 502 . pertanyataan dan  komentar ttg cerita Cinta  Asia akan kulayani disana...... Bersambung

Deri Prabudianto

/deri-chua

TERVERIFIKASI

Hanya orang biasa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.