NOVEL

Sebutir Mutiara (7)

19 May 2017 | 17:27 Diperbarui : 19 May 2017 | 17:42 Dibaca : Komentar : Nilai :

7.Si Tukang Tanya

Suatu siang Rastri datang ke rumah Dian. Rastri ingin tahu mengapa ia tidak datang ke sekolah. Sakitkah, separah apakah sakitnya atau ada hal lain yang menimpa keluarga Dian. Mengapa Dian tidak memberi kabar. Rastri mengkhawatirkan temannya yang pintar, rajin, dan cerdas itu.

Begitu Rastri sampai, Dian masih melamun di bawah pohon ceri di salah satu pojok halaman rumahnya-yang sempit. Berkali-kali Rastri memanggilnya, baru Dian mendongakkan kepalanya. Ada senyum kecut di wajahnya. Tapi sorot matanya mengekspresikan rasa senang, bahwa Rastri datang menengoknya.

Mereka duduk berdua di bawah pohon ceri itu. Mereka bercakap-cakap akrab sekali. Seperti dua orang yang sudah lama tak bertemu. Melepas kerinduan masing-masing. Wajah Dian kembali ceria. Cukup lama mereka ngobrol. Waktu mau pamit pulang Rastri berujar kepadanya.

“ Dian, besok  pokoknya kamu sekolah.”

“Kalau mereka masih kurang ajar, gimana?” Tanya Dian masih agak cemas.

“Aku yang akan menghajar mereka, biar mereka tahu rasa.” Sambung  Rastri membuat semakin tenang hati Dian.

Rupanya dua hari yang lalu, sejumlah anak kelas VA mengejeknya. Dian tidak tahan dengan ejekan mereka itu. Mereka mengatai-ngatai Dian sebagai anak miskin dan kurang gizi, lantaran postur tubuh Dian memang kurus. Ia menangis hingga sampai di rumah.

Rastri  memang seorang siswa putri yang terbilang paling ‘bongsor’ badannya di kelas. Bicaranya blak-blakan, tapi tak suka usil dengan urusan teman-temannya. Meskipun gerak-gerik sehari-harinya terkesan kasar, tapi ia baik hati. Bukan Dian saja yang pernah dibelanya.       Namun soal prestasi belajar Dianlah yang paling menonjol sehingga ia mendapat rangking pertama. Sejak masih kelas satu dulu Dian mendapat rangking pertama.

Semua mata pelajaran dapat dikuasai Dian dengan baik. Setiap kali guru menerangkan pelajaran di depan kelas, dengan serius ia memerhatikan dan menyimak penjelasan gurunya itu. Sementara teman-temannya yang lain sibuk ngobrol, apalagi si Ranto dan kawan-kawannya itu – yang selalu mengejeknya pula.

Dian juga selalu tak pernah malu bertanya, apabila ada penjelasan gurunya yang masih belum dimengertinya benar. Nyaring sekali suara Dian jika sedang bertanya pada gurunya. Gurunya pun senang sekali jika ada anak-anak yang bertanya. Orang yang selalu bertanya bukan berarti ia bodoh, tapi ia ingin mengetahui sesuatu yang belum dipahaminya. Demikian kata Pak Adhi, salah satu guru SD ‘Masa Depan’ memotivasi anak-anak muridnya untuk selalu rajin bertanya.

Saking seringnya Dian bertanya dalam kelas pada gurunya, ia pun sering dijuluki dengan ejekan “Si Tukang Tanya”. Tapi Dian tak peduli dengan ejekan kawan-kawannya itu. “Yang penting aku harus memahami apa yang dijelaskan guru,” pikir Dian dalam benaknya.

Deddy Daryan

/bumilada

TERVERIFIKASI

HIdup ini singkat, wariskan yang terbaik demi anak-cucu.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.