CERPEN

Tak Semua Bisa Kau Nilai dengan Mata

21 Apr 2017 | 11:25 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 13:10 Dibaca : Komentar : Nilai :
5-kesalahan-mahasiswa-terhadap-dosen-58f97c851dafbd79088582fc.jpg

Tak Semua Bisa Kau Nilai dengan Mata


Kepala bagian atasnya telah botak, dia kelihatan sudah sangat berumur, namun dia masih saja tetap bersemangat untuk menjalankan tugasnya, Ia memiliki motor tua yang sudah sangat using, jarang dicuci, sangat terlihat dari debu yang menempel begitu tebal disekeliling body motornya, beliau adalah salah satu guru besar yang ada di kampusku, namun Ia sama sekali sangat tidak suka jika ada mahasiswa yang memangginya dengan sebutan Prof, Ia lebih senang dipanggil bapak saja.

Hampir sebagian besar mahasiswa dikampus begitu menyukainya, Ia sangatlah pandai, rasa kagum tak hentinya teralamat kepadanya ketika Ia berdiri dihadapan para mahasiswa kemudian berdialektik bersama, pemikirannya begitu maju, pengetahuannya begitu luas dan sangat peduli terhadap sekitarnya. Setiap akhir kuliah dibawakannya akan selalu diakhiri dengan kalimat “jangan berhenti belajar, peduli pada sesamamu”

Hampir semua mahasiswa yang pernah berhadapan dengannya selalu mengingat kalimat tersebut, namun Ia tidak pernah menjelaskan dengan rinci apa maksud dari kalimat tersebut, Ia hanya mengucapkannya, sampai disitu saja, tak jarang mahasiswa bertanya-tanya, namun itu hanya berlaku bagi mahasiswa yang baru, mahasiswa yang sudah lama dikampus sangat paham dengan kalimat itu.

Kalimat itu begitu singkat, namun sarat dengan makna, tetapi maknanya tidak pernah Ia tunjukkan dengan rangkaian kata yang begitu panjang hanya untuk menyentuh perasaan pendengarnya, Ia meperlihatkan dengan jelas makna dibalik kalimatnya dengan apa yang dilakukannya sehari-hari.

Dia begitu ramah dan rendah hati, seorang guru yang benar-benar membimbing para mahasiswanya, Ia memiliki kasih sayang yang begitu besar kepada semua mahasiswa, Ia memperlakukan mahasiswanya seperti anaknya kandungnya sendiri. Sosoknya yang begitu sederhana membuat dirinya sangatlah jarang mendapat antipasti dari mahasiswa, kecuali para birokrat kampus yang tidak menyukainya. Kadang Ia dianggap sebagai otak dari demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap birokrat kampus.

Banyak hal yang menjadi pelajaran berharga bagi para mahasiswa, bukan hanya para mahasiswa bahkan beberapa alumni masih sering mengunjunginya hanya untuk berdiskusi., berbagi pengalaman bahkan meminta nasehat, ruangannya tak pernah sepi oleh mahasiswa yang ingin berdiskusi, entah sekitar mata kuliah ataupun pengetahuan umum yang bersifat kontemporer.

Saat itu aku begitu penasaran sebenarnya apa yang membuat Beliau dikagumi oleh para mahasiswa, sebab aku menganggap dosen-dosen yang lainnya juga tak kalah cerdas dibandingkan dengannya, yang membedakan hanyalah beliau lebih sederhana. Hanya itu saja yang bisa aku nilai saat itu.

Beberapa semester berlalu, kelaskupun mendapat giliran untuk diajar oleh beliau, bukan aku saja, bahkan temn-teman sekelasku terkagum-kagum, beliau mengajar begitu baik, tak pernah sebelumnya kami menemui dosen yang begitu cerdas seperti beliau, memberikan pemahaman dengan cara yang sederhana adalah metode beliau memahamkan kuliah yang dibawakannya.

Tak bisa dipungkiri, semua mahasiswa tidaklah berbeda, kelasku saja penuh dengan keberagaman, hanya satu dua orang yang berasal dari daerah yang sama, selebihnya berasal dari daerah yang berbeda-beda, tak bisa dihindari kami memiliki budaya yang berbeda-beda pula, namun beliau mampu memnyatukan dan menjelaskan perbedaan kami dengan sangat baik tanpa memunculkan konflik yang bisa merendahkan salah satu budaya yang dimiliki oleh para mahasiswa.

Bukan hanya dari sisi kultural, kami adalah orang-orang yang berasal dari kondisi ekonomi yang berbeda-beda, beruntung bagi mereka yang menerima beasiswa untuk membiayai kuliah, namun masih banyak diantara kami yang memiliki kondisi ekonomi rendah, yang tak semua kebutuhan perkliahan mampu kami penhi, apalagi pada masa-masa pembayaran SPP, biaya pendidikan yang begitu mahal membuat sebagian dari kami berusaha mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai kuliah.

Aku begitu kaget ketika mengetahui bahwa kemungkinan tiga orang dari teman kelasku akan cuti akademik, sebab tidak memiliki cukup uang untuk membayar SPP yang tersisa dua hari lagi dan sudah taka da waktu lagi untuk mengumpulkan uang untuk membayarnya, kami pun tak mampu berbuat banyak sebab kami juga hanyalah mahasiswa yang berasal dari keluarga yang pas-pasan, bahkan kami pun masih sering kekurangan.

Semester baru dimulai, saya telah menginjak semester enam, yah sedikit lagi sudah bisa menyiapkan penyelesaian studi, aku begitu senang ketika dalam kelas kulihat teman-temanku yang terancam cuti kemarin berada dalam kelas, dalam hati kupikir bahwa mereka tidak cuti, mungkin mereka berhasil mengumpulkan uang untuk pembayarannya.

Bergegas aku masuk dan mengambil tempat duduk yang masih kosong, seperti biasanya jika semester baru dosen tidak masuk, kadang pada minggu kedua barulah perkuliahan aktif secara penuh.

Aku tak bermaksud menguping, namun sangat jelas terdengar ditelingaku, aku juga tak bisa menghindarinya, ketiga temanku yang terancam cuti bercerita satu dengan lainnya dengan wajah yang begitu semringah, mereka begitu bahagia. Mereka membicarakan tentang dosen sederhana yang mengajar dikelas kami semester lalu.

Sehabis kuliah kita kerumah beliau, kita masih harus berterima kasih karena telah membantu biaya kuliah kita, itulah ucapan yang sempat aku dengar.

Aku terdiam dan hanya terus berpikir tak habis-habisnya tentang beliau.


sumber gambar : http://thayyiba.com/wp-content/uploads/2017/01/5-Kesalahan-Mahasiswa-Terhadap-Dosen.jpg

Chunk ND

/bercerita2

TERVERIFIKASI

mahasiswa tingkat akhir tak ada kata terlambat untuk belajar, termasuk menulis sebagai coretan untuk keabadian. sebab dengan menulis maka ingatan akan terawat.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.