HIGHLIGHT CERPEN

Jangan Melawanku, Aku Berkuasa!

20 Apr 2017 | 19:04 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 13:00 Dibaca : Komentar : Nilai :
1-58f99fd8ab92737b6fc035fa.jpg


Sejak tiga puluh menit berlalu, Supri masih saja berbaring telentang diatas tikar dipinggir pantai, Ia begitu menikmati liburannya kali ini, Ia berbaring sendiri, Istri mudanya Ia tinggalkan di hotel yang telah Ia sewa, mereka ibarat sedang berbulan madu, namun kini Ia ingin sendiri. Supri keluar sangat pagi hari itu, diatas meja dikamar hotelnya Ia meletakkan kartu kreditnya, saat istrinya bangun Ia berharap tak perlu mencarinya lagi sebab jika ingin belanja keluar tinggal memakai kartu kredit milik sukri yang ditinggalkannya.

Tak lama, Ia mengangkat badannya yang sedikit bengkak, tangan kirinya Ia jadikan penopang untuk bangkit dari pembaringannya, kemudian tersungging senyum tipis dari bibirnya yang kehitaman, kata kebanyakan orang itu karena rokok, memang Supri adalah perokok berat, tak pernah sehari Ia lewati tanpa menghabiskan sedikitnya dua bungkus rokok.

Matanya terus memandangi lautan yang membentang dihadapannya, sementara tangan kanannya menggenggam pasir yang telah Ia ambil disampingnya, sambil tersenyum Ia memainkannya, Ia begitu bangga kepada dirinya, siapa lagi yang bisa mengalahku, tak ada seorangpun yang mampu menandingiku, pekiknya dalam hati kemudian tertawa singkat.

Segera Ia beranjak dari tempat pembaringannya, Ia melihat sekeliling kemudian berjalan membelakangi lautan yang berhadapan dengannya sejak tadi, Ia berjalan menuju hotel penginapannya, hotel berbintang yang memang letaknya tak jauh dari pantai itu, Ia berjalan sambil terus tersenyum dengan kedua tangannya Ia masukkan kedalam saku celana pendek yang Ia pakai setelah menurunkan kaca mata hitam yang sejak tadi bertengger diatas rambutnya yang mulai menipis.

Ia mendapati istrinya baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah. Dia hanya menatap sebentar kemudian berjalan pelan menuju sofa coklat yang terlentang di hadapannya, Ia menyandarkan tubuhnya, kemudian menghela nafasnya sesaat setelah Ia meletakkan kedua telapak tangannya dibelakang kepalanya.

“Mau ngopi yah?”

“Ehm, boleh juga”

Tak lama berselang pintu kamar mereka diketuk dua kali, seorang pelayan pria dengan dasi kupu-kupu membawa teko dengan dua cangkir kosong, segera Supri mengeluarkan uang tip untuk pelayan itu setelah kopi telah dituangkan olehnya kedalam cangkir berwarna putih polos itu.

“Selamat menikmati pak” kemudian pelayan itu berbalik dan meninggalkan kamar Supri dan Istrinya.

Supri begitu menikmati kopi yang dibawah pelayan tadi, dengan lembut Ia meletakkan cangkir yang baru saja Ia angkat.

“Ma, duduk sini”

“Iya pah, bentar lagi, rambutku belum kering”

“Ah nda usah dikeringkan, bentar kering sendiri”

“Kring kring kring” smartphone Supri bordering.

“Apa kau bilang?” Supri begitu kaget, suara begitu tinggi menerima telepon itu, seketika Istrinya berhenti mengeringkan rambut dan berlari menghampiri Supri. Smartphonenya Ia letakkan diatas meja tanpa Ia matikan.

“Ada apa pah?” Tanya istrinya dengan wajah yang begitu khawatir

Supri hanya terduduk, Ia kembali bersandar dan tersenyum tipis.

“Rupanya mereka ingin melawanku”

“Siapa pah? Mereka siapa?”

“Para petani tebu itu, katanya mereka berdemonstrasi didepan kantor kita”

“Memangnya ada masalah apa pah? Kenapa mereka berunjuk rasa dikantor kita?”

“Mereka tidak terima kita menggunakan lahan mereka, mereka mau kita kembalikan kepada pereka”

“Kenapa begitu pah? Kan sudah kita beli.”

“Mereka protes sebab harganya mereka anggap terlalu murah”

“Terus gimana pah?”

“Hem itu yang sedang aku pikirkan, sebab mereka tak mau tinggalin kantor, mereka mendudukinya”

“Suap aja pah”

“Kring kring kring” smartphone Supri bedering kembali

“Siapa yang pimpin demonya?” tanyanya kepada penelpon

“Kau panggil saja masuk ke ruanganmu, kemudian berikan saja berapalah disitu, 5 jutaan itu sudah cukup, dia akan segera diam” lanjutnya kemudian mematikan teleponnya.

“Gimana pah?”

“Sementara diurus, tidak akan lama, memangnya siapa juga mereka ma melawanku” cetusnya.

Supri menyeruput kembali kopi yang ada diatas meja tepat dihadapannya,

“Mah kopinya diminum juga, enak loh”

“Iya pah” sambil mengangkat cangkir putih dihadapannya.

Supri baru saja membeli lahan perkebunan tebu warga dengan harga murah, sebagiannya lagi Ia ambil alih dengan menyuap aparatur pemerintah untuk pemindahtanganan kepemilikan tanah warga, Ia ingin memperluas perkebunan tebu miliknya untuk suplai pabrik gula yang telah Ia bangun.

Kopinya hampir habis, tapi belum ada kabar dari kantornya, baru saja Ia berdiri untuk beranjak ke kamar mandi sebuah pesan singkat masuk.

Received :

Sukses pak, pimpinan mereka sudah kami suap, dan mereka sudah tutup mulut.

Supri tersenyum lebar…

“Mah aku mandi dulu, kita belanja hari ini” ucapnya dengan tersenyum kemudian berlalu menuju kamar mandi.

sumber gambar : https://3.bp.blogspot.com/-oQZ-rNPZn_w/Vwbpz4uqTSI/AAAAAAAADFc/rtHQnczkT9USB82JvHPVlHlpWxQlJPXQQ/s640/1.jpg


CHUNK ND

20 April 2017

Chunk ND

/bercerita2

TERVERIFIKASI

mahasiswa tingkat akhir tak ada kata terlambat untuk belajar, termasuk menulis sebagai coretan untuk keabadian. sebab dengan menulis maka ingatan akan terawat.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.