HIGHLIGHT CERPEN

Gadisku

11 Apr 2017 | 21:52 Diperbarui : 11 Apr 2017 | 21:56 Dibaca : Komentar : Nilai :

Dalam ruangan kumuh dengan AC bergelantungan tanpa fungsi pertama kali kita bertemu, tak sengaja aku menatapmu diatas sebuah kursi kayu dengan stempel tahun 1990 dibalik sandarannya, kau membalas tatapanku yang membuatku menunduk dan tak tau mau berbuat apa. Aku mungkin sedang jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kau begitu anggun, aku begitu terpesona dengan keindahanmu, tak hentinya kau tersenyum dengan siapapun yang juga tersenyum kepadamu, aku berharap suatu saat nanti senyum itu akan kau khususkan secara pribadi untukku.

Aku begitu ingin mengenalmu, namun aku tak memiliki keberanian itu, keberanian untuk memperlihatkan diriku dihadapanmu sebagai orang yang ingin dekat denganmu. Melihat punggungmu saja dadaku seolah ingin runtuh, jantungku seolah akan menghujam keluar. Entah apa yang akan terjadi kepadaku andai engkau berada tepat dihadapanku dengan menatap mataku dengan mata indahmu, apakah aku masih mampu untuk berdiri? Mungkin tidak lagi.

Kuceritakan segala hal tentangmu kepada sahabatku, tentang kekagumanku terhadapmu, tentang keindahanmu. Hampir tak ada celah yang bisa kutemukan dalam dirimu yang mampu membuatku berpaling darimu.

Saat itu juga kuputuskan untung memperjuangkanmu, berjuang untuk mendapatkan hatimu, berjuang untuk cinta yang telah tumbuh dalam hatiku. Aku tak ingin membiarkannya tumbuh sendiri, akan kubuat ia memiliki pendamping dalam pertumbuhannya.

Kutanggalkan gengsi yang ada dalam diriku, kulepaskan segala rasa malu dalam jiwaku, kukumpulkan segala keberanian dari ujung kaki hingga rambutku. Aku acungkan tanganku tepat dihadapanmu, aku ingin menjabat tanganmu, menyebutkan namaku dan ingin kudengarkan siapa gerangan nama engkau.

Aku tau kau gadis yang ramah, kau bukanlah seperti gadis kebanyakan, dengan siapapun kau akan selalu terbuka, berteman dengan mereka, aku mengamati itu dari caramu tersenyum kepada orang-orang yang kau temui disaat kau berlalu. Dan akupun sangat yakin kaupun tak akan membedakanku dengan orang yang lainnya, kaupun akan menerimaku sebagai seorang kenalanmu, seorang temanmu.

Hari-hari berlalu, kita semakin akrab, aku begitu nyaman denganmu. Kita memiliki kesukaan yang sama, berjalan kepinggir pantai dan menikmati keindahan taman bunga. Aku begitu menyukai hal-hal alami yang diciptakan oleh Sang Pencipta, begitupun dengan dirimu, kadang kita mengabadikan apa yang kita lihat bersama dalam camera digital berwarna silver milikmu yang tak pernah absen kau gantungkan di lehermu.

Aku semakin bersemangat tiap harinya, yang kufikirkan hanyalah terus menjalani hari bersamamu. Aku tak punya alasan lagi untuk bermalas-malasan. Melihat senyum adalah cita-cita yang ingin kucapai setiap aku terbangun, dan kau selalu mewujudkannya. Mungkin kau pun sangat tau dan paham bahwa aku sangat membuthkannya, tak hanya sekedar menginginkannya.

Hari demi hari aku semakin merasa dan yakin bahwa kita telah cocok satu sama lain, kau begitu perhatian terhadapku, akupun berpikir bahwa perhatianmu terhadapku adalah tanda yang kau berikan padaku tentang rasa sayangmu juga terhadapku. Setiap malam disaat kita berpisah kau selalu memberi kabar lewat pesan singkatmu, bahkan sebelum tidur kata-kata manis selalu kau selipkan ditiap akhir pesanmu.

Pagi itu kubuat janji untuk bertemu dengannya sore nanti ditaman bunga yang sering kami kunjungi bersama, semalam telah kuputuskan untuk menyatakannya. Menyatakan kepadanya bahwa aku ingin dia menjadi kekasihku, menjadi pendampingku. Aku ingin bersamanya, lebih dari sekedar seorang teman.

Sore itu aku berangkat lebih awal, kulihat dalam drama-drama, dalam hal seperti ini seorang pria hendaknya membawa sebuah hadiah sebagai bukti keseriusannya, bunga, kotak kado atau apapun itu. Namun kusadari dia berbeda, diapun tau kalau aku bukanlah orang yang seperti itu.

Kupersiapkan segala sesuatuku untuk bertemu dengannya, sejak pagi telah kulatih cara berbicaraku dihadapan fotonya yang telah kusimpan dalam ponselku. Kuperhatikan dengan baik wajahku, rambutku, pakaianku. Dari ujung kaki hingga ujung rambut tak ada yang luput dari pemeriksaanku.

Hampir tigapuluh menit aku duduk terdiam sendiri menunggu kedatangannya, terbayang dia datang dari belakang dengan gaun indahnya dan berteriak sambil berlari kearahku, menyebut namaku, namun itu hanya anganku, mungkin drama telah mempengaruhi pikiranku.

Dari kejauhan kulihat ia berjalan dengan pelannya, dengan jeans biru dan kaos putih dengan rambut yang telah terikat kuat kebelakang ia menatapku dari kejauhan. Dengan sabar aku menunggunya, aku tak ingin terburu-buru, sebab aku telah meyakini bahwa hari ini adalah hari besarku, hari besar kami.

Semakin ia mendekat aku semakin merasa gugup, aku melihat matanya merah dan bengkak, dia baru bangun tidur, ah tidak. Dia baru saja menangis, bekas air mata dikelopak matanya masih tampak begitu jelas, perasaanku semakin tak karuan, apa yang harus aku lakukan, dia datang hari ini namun kedatangannya berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini dengan air mata. Akupun berpikir dengan positif, aku tak ingin persiapan yang telah kulakukan sejak malam tadi sia-sia. Mngkin ia kehilangan sesuatu yang berharga baginya, mungkin sebuah boneka. Aku pegangi pundaknya dan bertanya dengan pelan kenapa ia menangis.

“Kekasihku memutuskanku” katanya singkat.


Chunk ND

/bercerita2

TERVERIFIKASI

mahasiswa tingkat akhir tak ada kata terlambat untuk belajar, termasuk menulis sebagai coretan untuk keabadian. sebab dengan menulis maka ingatan akan terawat.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.