CERPEN

Belajar dari Kartini

21 Apr 2017 | 08:49 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 10:48 Dibaca : Komentar : Nilai :
sumber gambar : http://mitrawacana.or.id

Belajar dari Kartini

Sudah dua jam sudah Aulia duduk berhadapan dengan kotak televisi, tak ada kegiatan apapun dilakukannya pagi itu, memang hari itu Ia libur kuliah, tak ada perkuliahan hari jumat, biasanya Ia menghabiskan waktu berjalan-jalan keluar bersama tenri dan inna, dua orang sahabatnya, namun hari itu Ia tak melakukannya, hari itu Aulia benar-benar merasa malas.

“Aul…. Mandi dulu, sejak tadi nonton terus” teriak ibu Aulia dari dapur

“iya ma… sebentar lagi” ucapnya singkat.

Ia masih saja terduduk tanpa bergerak sedikitpun kecuali mulutnya saja saat Ia menjawab Ibunya tadi.

Matanya begitu fokus berhadapan dengan kotak televisi dihadapannya, namun sepertinya tatapannya hanyalah tatapan kosong, walau berhadapan dengan televisi, sepertinya pikirannya tidaklah ke tayangan televisi tersebut, seolah ada hal lain yang merebut fikirannya kala itu.

“Aul,,, mandi dulu…” ibunya kembali menegurnya

Aul tersadar, memang benar Ia tidaklah fokus menonton, ada yang mengganjal dalam fikirannya, tanpa bersuara apapun Ia beranjak, kemudian bergegas mandi.

****

Aulia meraih ponselnya diatas meja rias, tampaknya baterainya sudah penuh, sudah hampir empat jam ponselnya Ia charging sejak saat pagi tadi, kemudian Ia berbaring diatas kasur merah dengan logo tim sepak bola Manchester United yang terpampang jelas, baik dikasur maupun di seprei bantalnya, Ia memang mengidolakan tim yang berjuluk setan merah itu, Ia sangat menyukai pemain mungil MU , Ander Herrera.

Empat pesan masuk dalam blackberry massengernya, kesemuanya hanyalah pesan siaran yang sama sekali tidak menarik buatnya, taka da satu pesan pun yang Ia buka.

“hari yang benar-benar membosankan” tulisnya dalam status Blackberry massengernya kemudian seketika Ia mengnci ponselnya dan meletakkannya disebelah bantalnya. Ia menopang kepalanya dengan sikunya kemudian terus saja memandangi poster bergambar Ander Herrera yang tertempel di dinding kamarnya.

“bling…” pesan masuk dari blackberry massengernya.

Dengan rasa malasnya Ia berbalik kemudian meraih ponselnya,

“Aul kamu dimana?” isi pesan yang ternyata dari Tenri sahabatnya.

“aku dirumah” tulisnya singkat.

“keluar yuk”

“ah malas,, gak semangat”

“ah gak asik, baiklah aku pergi sama Inna saja”

“memangnya mau kemana?”

“mau ikutan diskusi bedah buku”

“baiklah” dengan wajah yang semakin malas membaca pesan tenri yang ingin menghadiri kegiatan bedah buku.

****

Aulia masih belum beranjak dari tempat tidurnya, Ia sempat tertidur beberapa saat, suara adzan terdengar begitu merdu dan jelas, rumah Aulia hanya dipisahkan oleh sebuah rumah dan lapangan takraw dengan masjid.

Segera Ia meraih ponselnya, tak ada satupun pesan yang masuk, Ia membaca pembaharuan Blackberry massengernya, disana telah dipenuhi status teman-temannya yang mengcapkan Selamat Hari Kartini, hanya statusnya yang berbeda dengan teman-temannya terutama perempan.

Aulia tidak begitu tau tentang Kartini, Ia hanya pernah mendengar namanya saja, ntahlah, saat SMP, atau SMA mungkin. Pikirnya.

Aulia begitu penasaran dengan sosok yang namanya memenuhi status Blackberry massengernya itu, Ia mencoba browsing, bertanya kepada om google,

“ah begitu,, hari ini peringatan hari kartini rupanya” gumamnya.

Beberapa artikel Ia baca siang itu, semuanya tentang kartini dan perjuangannya terhadap emansipasi wanita, perlahan pikirannya mulai melayang dan mengambang entah kemana. Semakin Ia membaca semakin kagum pula Aulia terhadap sosok seorang Kartini. Ia terus mencari hal-hal yang berkaitan dengan sosok salah satu perempuan terbaik yang pernah dimiliki bangsanya, banyak sekali yang Ia temukan, Ia hanya membaca dan membaca, raut wajahnya perlahan berubah, semakin Ia membaca raut malas diwajahnya semakin pudar, Ia terus tersenyum tapi seolah terus berpikir.

Ia masih saja terus bermain dalam dunia lamunannya, banyak hal yang Ia pelajari dari artikel yang I abaca tentang sosok Kartini.

Dizamannya belum ada teknologi yang canggih, tapi kenapa yang Ia lakukan begitu canggih, bahkan perempuan-perempuan sekarang hanya segelintir orang yang mau berpikir maju sepertinya, andai aku menjadi dia pada saat itu mungkin tak ada nama kartini yang akan terdengar hari ini. Dia benar-benar hebat. Gumamnya dalam hati sambil menatap bola lampu yang bergelantungan dilangit-langit kamarnya.

“tok tok tok..” Aulia tersadar..

“yah masuk”

“hmm, kamu pasti menyesal tidak ikut sama kami,, iyakan Inna?” ucap tenri yang datang dan langsung berbaring disebelah Aulia.

“bettttulll” ucap Inna yang terus memainkan ponselnya disebelah Tenri.

“memangnya kalian dari mana” Tanya Aulia penasaran

“tadi kan sudah kubilang, ikut kegiatan bedah buku, keren banget, bedah buku tentang Kartini, kamu tau kan”

“ah biasa aja, gak ada yang menarik tuh” ucap Aulia, Ia berusaha menyembunyikan rasa penyesalannya.

“huhh, kamu memang tidak pernah peduli dengan hal seperti itu, padahal tadi aku banyak belajar disana, selain pembedahnya yang keren, memang ternyata Kartini benar-benar perempuan hebat, yak an Inna”

Tak ada jawaban, Inna ternyata telah tertidur, dia memang sangat suka tidur, dikepalanya hanya ada makan dan tidur, namun berat badannya tak pernah bertambah, tetap saja kecil.

“mulai sekarang aku tak akan semerta-merta mau tertipu lagi” tenri melanjutkan

“tertipu? Apa maksudnya tertipu?” Tanya Aulia penasaran

“huuu penasaran kan…” Tenri jail

“ah kalau gak mau cerita nda usah di ungkit, bikin malas saja” ucap Aulia ketus

“andai bukan Kartini mungkinsekarang kita gak kuliah”

“kenapa begitu?”

“iyalah, dulu kan pada masanya Kartini bangsa ini menganut patriarki, perempuan kayak kita ini hanya dinomorduakan, laki-laki selalu menjadi yang pertama, mereka selalu bebas melakukan apa saja yang mereka mau, bisa belajar, bisa bekerja, bisa jadi pemimpin dan banyak lagi, dikampus saja kebanyakan yang jadi ketua organisasi kebanyakan laki-laki, padahal kita perempuan lebih banyak disbanding laki-laki.”

“emm,, iya juga sih”

“Kartini betul-betul tidak sepakat dengan keadaan itu, Ia menganggap perempuan dan laki-laki itu punya hak yang sama terutama pendidikan, kita juga berhak belajar,,, eh tau gak ternyata pemikiran-pemikiran Kartini tentang perempuan Indonesia itu Ia tuangkan hanya dalam bentuk surat loh awalnya, kemudian tersebar ke beberapa surat kabar, hem keren banget kan..!!”

“iya juga sih,,, kita saja yang melek teknologi, pake bermacam-macam sosial media, gak mampu melakukan hal-hal berguna, mungkin diatas sana Kartini kasian meliat kita seperti ini ya?”

Tenri dan Aulia terdiam kemudian saling menatap satu sama lain, mereka meraih ponsel mereka masing-masing dan mengehentikan pembicaraann.


CHUNK ND

21 April 2017


Chunk ND

/bercerita2

TERVERIFIKASI

mahasiswa tingkat akhir tak ada kata terlambat untuk belajar, termasuk menulis sebagai coretan untuk keabadian. sebab dengan menulis maka ingatan akan terawat.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.