CERPEN

Cerpen | Namanya Ai

20 Mar 2017 | 09:48 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 12:10 Dibaca : Komentar : Nilai :
picture from hipwee.com

Namanya Ai.

“…Setelah itu kami hanya terdiam. Tersenyum…. Aku hanya mencermati senyumnya sampai dunia kiamat, sampai kecoak-kecoak bukan lagi hewan yang menjijikan…. Dan sejak saat itu aku sangat mencintai kecoak, seperti aku mencintai Ai.”

Pertama. Awal kukenali hanyalah sebuah perjumpaan biasa, namun senyum dan matanya menghasutku untuk melihatnya lagi. Tanpa ada perkenalan resmi di antara kami. Aku hanya mendengar orang-orang memanggil dan menyapanya. Namanya Ai.

Kedua. Di perjumpaan kedua, dapat dikatakan luar biasa. Menyapanya, dia tersenyum, dan kami berbicara tentang banyak hal. Dia bilang, “aku seram, tapi lucu.” Sesekali aku mencuri pandang pada dinding-dinding cermin. Dia berpaling seolah tak sengaja menyadari, ada mata yang sedang mengamatinya di dinding. Ah, aku sempat menyesali, lama, sampai aku berkenalan dengan seekor kecoak di etalase optik, entah optik apa namanya.

“Hei… kamu ngapin di dalam lemari kaca?”

“Emang kamu siapa? Kepo banget sih sama urusan orang….”  Dia membahtaku, seolah tak menyetujui rasa peduliku.

“Hei… jadi hewan itu bisa sopan ngga sih?” Aku terlihat sedikit kesal, mengharapkan bisa disambut hangat. Ya… paling kurang bisa jadi teman, atau mungkin hanya sekedar teman ngobrol saat itu.

“Bisa…! Kamu mau apa?”

“Jangan ditanya mau apa, kalau kamu ngga peduli, aku harus ngomong sama siapa?”

“Bukannya manusia sekarang sudah memiliki gadget? Bisa jadi apa saja, termasuk istri sekalipun.”

“Tapi aku mau ngobrol sama kamu, dan kalau bisa menjadi temanmu selamanya….”

Kecoak itu terkejut. Sambil mengepik-ngepikkan sayapnya dia tertawa terbahak-bahak. “Emang kenapa? Hahahaa. Kalau kamu bisa memberikan satu alasan yang masul akal, aku akan bersedia menjadi temanmu.”

Tanpa berpikir panjang aku langsung menanggapinya, “Karena ada senyum manis dan bola mata Ai di lemari kaca, tepat di posisimu saat ini. Kepergianmu hanya akan membuatku kehilangannya.”

“Ow… kamu lagi jatuh cinta sama Ai ya?”

“Tepatnya, mengagumi… apalagi melihat senyumnya.”

Alah… semua orang juga pasti jatuh cinta dengan senyumnya…”

Tiba-tiba seseorang mengetuk lemari kaca. Aku tersentak dibuatnya. Ternyata Ai mengamatiku sejak tadi. Dia menuliskan sesuatu pada kertas dan menunjukkan padaku, “Ngomong sama siapa kak?”

“Kecoak….” Kataku.

Ai menulis lagi, “Ih, Jijik….”

Kecoak, yang mungkin telah menerimaku sebagai temannya berusaha untuk kabur. Pergi bersama bayangan senyum dan mata bulat Ai pada lemari kaca di depanku, di etalase pertokoan. Aku tidak berani menatapnya secara langsung.

Dan sejak itu aku sangat merindukan kecoak, seperti aku merindukan Ai. Sebatas itu, tanpa harus memiliknya.

Ketiga. Dan inilah perjumpaan kami yang ketiga. Bertahun-tahun setelah perkenalan dengan temanku kecoak. Jelas dengan waktu yang berbeda. Situasi yang berbeda dan penampilannya yang berbeda pula. “Senyumnya lebih manis coy….” Hanya itu yang dapat aku katakan kepada setiap orang ketika aku bercerita.

Hahahaa. Terlebih dahulu aku harus tertawa sebelum melanjutkan cerita ini. Kalian tahu hal apa yang pertama menjadi perhatianku? Jemarinya yang digunakan untuk menutupi senyumnya. “Ai?”

“Iya kak… ini aku, Ai….” Meskipun hanya tersenyum, aku mengerti kalimat itulah yang diucapkan di dalam lubuk hati terdalamnya.

Setelah itu kami hanya terdiam. Tersenyum. Aku hanya mencermati senyumnya sampai dunia kiamat, saat kecoak-kecoak bukan lagi hewan yang menjijikan. Mengingatkanku pada “Dia”nya Anji.

Bataona Noce

/bataona

TERVERIFIKASI

Mencintai bahasa dan sastra, seperti mencintai dirinya sendiri.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.