CERPEN

Jangan Tanya Jam Kerja Kami...

23 Feb 2017 | 21:24 Diperbarui : 16 Feb 2017 | 22:47 Dibaca : Komentar : Rating :

Foto survei luas lahan

Sang mentari telah berada di ufuk barat dengan sinar khas memerah yang cukup menyilaukan mata. Petang ini tanganku masih asik menggeber kuda besi plat merah. Bukan rahasia lagi kalau sebagian besar pekerja lapangan ahli mengendarai motor dengan kecepatan tinggi seakan pernah seakademi dengan rossi dan marques. Belum lagi yang tugas di pegunungan dengan jarak puluhan bahkan ratusan kilometer dari kantor Kabupaten. Tikungan khas pembalap motogp seakan skiil wajib yang harus dikuasai. 

Bukan buat pamer, tapi memang tuntutan profesi. Lokasi jauh dengan jadwal Super ketat, kerjaan dengan jadwal bersamaan dan penyelesaiannya pun tak memandang antrian, semuanya harus selesai di tanggal yang telah ditetapkan. Mengeluh adalah kata yang tak boleh terucap di bibir. Apalagi menyerah dengan alasan non respon, itu adalah malapetaka besar buat kami.

Dingin malam menusuk ke tulang masih setia menemani perjalanan. Suara sahutan makhluk hutan menambah syahdu malam. Seakan memainkan simponi di gelapnya jalan tanpa cahaya penerang. Malam ini masih di tengah jalan, belum terlihat tanda-tanda kan menyandarkan badan. Sudah dua malam di wilayah asing tak bertuan. 

Sepanjang jalan tak tampak rumah, hanya pohon dan jurang saling melengkapi di alam terbuka. Belum lagi cerita kawan sejawat yang telah berdamai dengan ombak lautan. Wilayah tugas mereka di pulau-pulau kecil di sepanjang garis batas nusantara. Belum terhapus di memori saat teman sejawat yang mengapung di lautan selama dua hari demi tugas negara yang diembannya. Pendataan di pulau kecil yang sangat jauh dari hingar bingar kota.

Seorang teman yang telah promosi bulan lalu pernah bercerita. Tugasnya di Sulawesi Barat, Kecamatan yang jadi tanggung jawabnya terdiri dari beberapa pulau kecil. Untuk menuju ke sana harus dengan kapal laut, sebelumnya singgah di pulau Kalimantan untuk nyambung dengan kapal kecil. Pernah saya bercanda, “makanya minta perahu plat merah supaya mendatanya gampang”. Trus cerita seorang teman yang tugas di Kalimantan, untuk menuju lokasi pendataan harus seharian membelah hutan. 

Belum lagi mendata di wilayah bantaran sungai. Perahu menjadi kendaraan wajib untuk menjangkau responden. Beda lagi dengan teman di Papua dan Papua Barat. Sinyal ponsel sangat mahal di sana. Dia pernah ngomong kalau kirim pesan WA pagi hari, mungkin sampainya malam atau nanti besok paginya. Ada juga yang harus menyewa pesawat jika ingin mengunjungi kecamatan wilayah tugasnya karena jalur darat belum memadai. Ditambah lagi dengan keadaan keamanan yang masih sering terganggu. Nyawa menjadi taruhannya.

Selain di lapangan, Kawan-kawan hebat kami juga ada di belakang meja. Kecerdasan dan kemampuan mereka tak diragukan dalam mengolah angka hasil pendataan lapangan. Mereka lah yang menerjemahkan setumpuk angka menjadi informasi penting untuk disampaikan ke pengambil keputusan di negeri ini.

Cerita di lapangan memang tak ada habisnya. Saat anda menikmati libur, kami masih di lapangan dan di kantor. Saat anda sudah bersantai di malam hari, seringkali kami masih di perjalanan pulang atau masih di lokasi pendataan. Jangan pernah tanya jam kerja kami.

Cerita ini bukan untuk mendapatkan pujian, rasa kasihan, apalagi untuk sebuah penghargaan Kisah-kisah ini hanya sebagai penggugah semangat dikala rasa bosan mengancam kinerja kami. Dan sebagai penegas bahwa DATA dihasilkan bukan karena pesanan pemerintah atau orang tertentu. DATA dihasilkan sesuai potret sesungguhnya yang terjadi di “lapangan”. Lembaga kami memang milik pemerintah dan kami Aparatur pemerintah, tapi Angka yang dihasilkan bukan untuk menyenangkan Pemerintah. DATA digunakan seringkali untuk mengevaluasi kinerja pemerintah… (*)

Muhammad Aliem

/basareng

TERVERIFIKASI

Statistisi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.