CERPEN

Segitiga Yogya 80-an: Yu Darmi

20 Jun 2017 | 02:39 Diperbarui : 20 Jun 2017 | 03:58 Dibaca : Komentar : Nilai :
Ilustrasi: twicial.com

Lewat tengah malam sunyi sepi. Sepulang rapat yang melelahkan, Aku memilih jalan pintas di samping Kerkoff. Bulan mengambang di atas kuburan Belanda yang masih berantakan setelah gempa dan tsunami beberapa bulan silam.

Sesosok tubuh berdiri di mulut jalan. Seorang perempuan memakai baju kaus ketat tanpa lengan dengan dandanan tebal.

Mungkinkah pelacur berkeliaran di jalanan—bukan, di kuburan? Di ibukota provinsi yang yang baru saja menerapkan syariat Islam sebagai syarat perjanjian damai? Aku bukan penakut, dan aku yakin dia bukan kuntilanak.

Dan ingatanku melayang ke Yogya, puluhan tahun yang lampau....

***

“Siapa yang bisa memasukkan bola tiga angka dapat Yu Darmi!”

Gelak tawa pecah di lapangan basket Gelanggang Mahasiswa Bulaksumur sore itu. Jangan salah. Aku bukan pemain basket. Aku bahkan tak suka berolahraga. Tapi sebagai manajer tim basket putri fakultasku, aku selalu hadir setiap mereka latihan. Artinya aku juga ada saat tim putra berlatih.

“Siapa Yu Darmi?” tanyaku pada Eko, pemain asal Jurusan Teknik Geodesi.

“Lho, belum tahu siapa Yu Darmi?” tanyanya heran bercampur takjub.

“Belum.”

“Nanti kamu pasti tahu sendiri.”

Kemudian ia melontarkan bola ke keranjang, dan luput.

“Batal deh, dapat Yu Darmi,” ejek Kandar.

Aku makin penasaran, membuatku melakukan investigasi.

***

Menurut Wied, temanku satu kos, Yu Darmi adalah pelacur jalanan yang melegenda di antara mahasiswa. Bahkan saat ia baru mulai kuliah di Yogya lima tahun lalu, seniornya yang hampir lulus—tujuh tahun lebih tua—sudah mengenal siapa Yu Darmi. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Yu Darmi memberi diskon untuk pelanggan anak kuliahan, bahkan boleh ngutang atau dicicil. Konon, Yu Darmi sudah menjajakan diri sejak UGM berdiri. Tapi ini diucapkan sambil tertawa ngakak.

Kemudian aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku sering melihatnya.

Yu Darmi ada di mana-mana. Sore hari menjelang senja, dengan dandanan seronok dan baju ketat bercelana tak kalah ketatnya memegang payung tertutup, ia akan terlihat di sekitar kantor Telkom Kotabaru. Saat aku melintas di stadion Mandala Krida, Yu Darmi juga disana. Malam hari sepulang midnight show di Bioskop Mataram, Yu Darmi menunggu di lintasan rel kereta Lempuyangan. Yu Darmi ada di mana-mana. Sekali bahkan aku melihat ia di boncengan sepeda motor seseorang.

Bertahun-tahun sampai dengan kelulusanku sampai dengan menjelang kepindahanku dari Yogya, Yu Darmi masih tampil menguasai jalanan Yogyakarta.

***

Melihat perempuan yang menanti di ujung lorong samping kuburan itu membuatku berpikir: apakah tiap kota mempunyai legenda yang sama? Atau hanya ada di Yogya?

Oh ya, perempuan tengah malam di kota kelahiranku beberapa bulan setelah tsunami itu ternyata mengalami gangguan jiwa. Kabarnya ia diambil dari jalanan oleh Dinas Sosial dan ditempatkan di Rumah Sakit Jiwa.

Aku hanya bisa berdoa semoga apapun yang membuatnya gila mendapat balasan setimpal.

SELESAI


Bandung, 20 Juni 2017

Catatan: tulisan ini tadinya dipersiapkan untuk pemanasan ICD Yogyakarta. Berhubung kesibukan mengejar launching buku 2045 maka gagal tayang sampai deadline. 

Ikhwanul Halim

/ayahkasih

TERVERIFIKASI

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.