HIGHLIGHT DRAMA

Resolusi Valentine

13 Feb 2017 | 00:56 Diperbarui : 13 Feb 2017 | 02:07 Dibaca : Komentar : Nilai :
Ilustrasi: id.hotels.com

(Ruang makan dengan meja dua kursi tertata rapi untuk candle light dinner yang intim.Di sebelah kanan duduk Tim, seorang laki-laki 40 tahun.pengusaha sukses, mengenakan tuksedo tanpa topi.Di kursi sebelah kiri duduk istrinya Kim, 32 tahun, cantik dalam gaun malamnya yang berwarna hitam).

TIM
(mengangkat gelas anggur)
Untuk makan malam yang indah, Kim sayang.

KIM
(balas mengangkat gelas anggurnya dan melakukan toast dengan Tim, tersenyum.)
Sebagian besar adalah hasil karya Belvedere, sayang. Aku hanya membantu sebisaku. Untuk merayakan Valentine ke sepuluh kita.

TIM
 Kecantikanmu membuat anggur ini terasa hambar, sayang.

KIM (tertawa)
Gombalanmu masih membuat jantungku bergetar (meletakkan gelasnya dan mulai memotong steak di piringnya)

TIM
 Aku senang kamu setuju untuk merayakan malam Valentine di rumah saja, bukan di Paris seperti yang setiap tahun kita lakukan

KIM
Aku suka Idemu ini, Sayang. Perubahan suasana yang menyenangkan, setelah selama ini selalu merayakan hari-hari libur di luar negeri. Mungkin kita sudah teralu tua untuk suasana pesta yang hiruk pikuk.

TIM
Ya, benar untukku. Aku sudah bertambah tua, tapi kamu masih tetap seperti sepuluh tahun yang lalu, Sayang. Malah lebih cantik lagi. (menggigit sepotong steak). Rasanya luar biasa.

KIM
Terima kasih. Aku memesan langsung dari Houston.

TIM
Bagaimana jika kita memulai tradisi baru? Mulai sekarang kita akan mengumumkan apa yang paling kita inginkan pada hari Valentine."

KIM
Tapi, Sayang. Bukankah biasanya orang-orang mengungkapkan keinginannya sebagai resolusi Tahun Baru?

TIM (tersenyum)
Seharus demikian. Tapi Malam Tahun Baru kemarin bukankah kita terlalu mabuk hingga terkapar di Lily Beach sebelum detik-detik pergantian Tahun? Lagipula, apa salahnya mengucapkan resolusi Valentine sebagai tradisi kita berdua? Apakah kamu ingin mengungkapkan resolusi Valentinemu sekarang?

KIM
Karena ini adalah idemu, sebaiknya kamu yang duluan, Sayang.

TIM
Baiklah. Resolusi Hari Valentineku adalah... (drum roll) aku akan membunuhmu malam ini.

KIM (senyumnya berubah menjadi seringai kejam)
Benarkah? Kebetulan resolusi Hari Valentineku juga... (drum roll) membunuhmu malam ini.

TIM
Dan bagaimana kamu akan membunuhku, Sayang? Apakah kamu diam-diam membeli pistol di pasar gelap? Atau mencekikku dengan kedua tanganmu yang halus itu? Membunuh seekor lalat saja kamu tak sanggup, Sayang.

KIM
Tidak perlu, sayang. Sebentar lagi kamu akan mati dengan sendirinya.

TIM (membelalakkan mata)
Apa yang telah kamu lakukan?

KIM
Steak itu? Aku bubuhkan racun yang mematikan namun tak meninggalkan jejak.

TIM (tertawa)
Kau meracuniku?

KIM
Kamu pikir aku main-main? Sepuluh menit.nyawamu akan melayang, Tim Sayang. Apa kamu masih bisa tertawa sekarang?

TIM
Dari mana kamu mendapatkan racun? Dari Belvedere?

KIM (tertegun)
Kamu meracuniku juga?

TIM
Anggurnya.

KIM
Ya Tuhan, tidak!

TIM
Tapi Belvedere memberiku penangkal racun untuk berjaga-jaga jika aku keliru memilih gelas. (bergegas ke lemari pajang dekat pintu dan membuka laci)Dimana? Kim, apa kamu mengambil botol kaca kecil di sini?

(Kim sudah bangkit dari meja dan mengobrak-abrik lemari lainnya di dinding seberang).

KIM
Sialan! Apa yang harus kita lakukan?

TIM (melihat arloji)
Kita punya waktu delapan menit.

KIM (membungkuk memegang perutnya. Wajahnya meringis kesakitan)
Aku... aku... (ambruk ke lantai parket).

TIM
Bajingan Belvedere. Mengapa kita percaya padanya?

KIM (terengah-engah)
Kamu... yang... membawanya ke... rumah... kita. Idiot!

TIM
Dia telah bersama keluargaku selama lima belas tahun. Dia sudah kuanggap seperti keluarga, Sayang.

KIM
Ya. Keluarga... yang... ingin... membunuh... kita semua! (terkulai rebah di lantai)

TIM
Sialan (lututnya tertekuk dan iapun jatuh ke lantai).

(Pintu ruang makan terbuka. Belvedere (seorang lelaki berusia 60 tahun berpakaian kemeja putih lengan panjang dan dasi kupu-kupu seragam pelayan, masuk sambil menyeruput teh dari cangkir porselen antik warisan keluarga KIm. Sebagai pelayan mereka, ia tahu cangkir itu tak pernah digunakan).

BELVEDERE
Astaga. Ada apa dengan kalian berdua?

TIM (berteriak dengan suara serak)
Kami sedang sekarat, pelayan bangsat!

BELVEDERE
Tapi bukankah kalian ingin membunuh satu sama lain? Sebagai pelayan, aku hanya membantu, tak lebih tak kurang.

KIM (dengan suara terputus-putus)
Sudah... aku... bilang... kalau dia... tidak bisa... dipercaya...

BELVEDERE
Oh, nyonya besar bertubuh mungil bermulut kotor. (berjalan mendekati Kim)
Sekarang aku tidak akan pernah mendengar keluhan Anda lagi. Belvedere, antarkan aku ke salon! Belvedere, siapkan malam untuk dua puluh orang temanku! Belvedere, ambil gaunku dari—

(mendadak cangkir porselen itu terlepas dari tangan Belvedere dan jatuh pecah berantakan di lantai parket kayu)

TIM (mendongak)
Ada apa, Tuan Belvedere? Mendadak lemah? "

BELVEDERE (memegang perut)
Perut saya ... kram.
(Ia membungkuk dan lututnya menyentuh lantai menyebabkan bunyi kayu berderak)

TIM (suaranya normal)
Oh ya? Aku turut berduka cita

KIM (berdiri)
Maaf telah merepotkanmu selama ini.

(Belvedere menatap Tim dan Kim bergantian seakan tak percaya).

TIM (berdiri sambil menepis celananya)
 Lantai ini berdebu, Belvedere. Aku sangat kecewa dengan hasil kerjamu.

BELVEDERE (terguling dan akhirnya berbaring telentang)
Tapi... tapi bagaimana bisa?

TIM
 Begini. Aku ingin menaruh namamu dalam surat wasiat, tapi (ia mengedikkan dagu ke arah Kim) istriku tidak mempercayaimu.

KIM
 Itu benar, sedikitpun aku tak percaya padamu, pak tua. Kamu mungkin tak menyangka bahwa aku hapal berapa banyak perhiasanku dan aku selalu tahu jika salah satu saja hilang. Oh, aku juga tahu ke ana kamu menggadaikan cincin nenekku dan kalung dari mama. Kami juga tahu kesukaanmu berjudi.

TIM
Jadi kami memutuskan untuk menguji kesetiaanmu. Secara rutin kami bertengkar, saling memaki. Semakin hari semakin kasar dan pedas. Kami ingin meyakinkanmu bahwa kami saling membenci.

KIM
Lalu ketika aku bilang aku ingin membunuh Tim, kamu dengan segera menawarkanku racun yang mematikan tapi takkan terdekteksi oleh lab manapun. Kamu juga berjanji memberikan antidot untuk berjaga-jaga aku tersilap memakannya.

TIM
Dan kamu lebih dari senang saat menawarkan bantuan yang sama kepadaku. Kamu menyarankan bahwa aku harus membubuhi racun dalam anggur istriku. Kamu mengatakan pada Kim bahwa dia harus meracuni daging sapi untukku. Kamu tahu di mana tempat kami menyembunyikan botol penawar racun.

KIM
Jadi kamu mencuri penawar,  berpikir kami berdua akan mati, mewariskan seluruh harta kami untukmu

BELVEDERE
Kalian... tidak meracuni satu sama lain? Tadi itu hanya pura-pura?

TIM
Akting kami bagus, bukan?

KIM (tertawa)
Aku lagi berpikir untuk ikut audisi film layar lebar, Sayang.

TIM
Kami tahu kamu akan merayakan kematian kami dengan secangkir teh kesukaanmu. Dan jika ternyata kamu memutuskan meracuni kami dengan tanganmu sendiri ... (merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil) antidot yang kamu curi dari lemari pajangan kedua-duanya hanya berisi air.

BELVEDERE (dengan jari gemetar menunjuk botol kecil di tangan Tim)
Tolong ... beri saya penawarnya, Tuan. Saya mohon—

TIM (memotong kalimat Belvedere)
Wah, aku tidak tahu, pak tua. (menoleh ke arah Kim)Bagaimana menurutmu, Sayang?

(Kim menggeleng).

TIM
Aku heran mengapa kamu tak menyadari bahwa daun teh herbal kesukaanmu agak basah malam ini.

(Belvedere mencoba bicara, namun suaranya tak terdengar)

TIM
(membungkuk dan menangkup telinganya) Ada apa, pak tua?

BELVEDERE
(terbatuk-batuk dan akhirnya berhasil dan memaksa dirinya untuk bicara)
Kalian akan mendekam di penjara.

(Tim dan Kim tertawa terbahak-bahak).

KIM
 Tidak, tak akan terjadi. Kamu yang membeli racun.

TIM
 Peristiwa bunuh dirimu ini tidak akan menjadi berita besar. Aku sudah memberitahu sahabat-sahabatku bahwa belakangan ini kamu menderita depresi.

(Pintu ruang makan mendadak terbuka lebar. dua orang lelaki bertubuh tinggi besar melangkah masuk. Keduanya adalah pembunuh bayaran dari kelompok gangster di mana Belvedere berhutang judi).

PEMBUNUH BAYARAN I
 Apakah ini rumah Belvedere?

TIM (marah)
 Beraninya kalian menerobos masuk ke rumahku!

PEMBUNUH BAYARAN II
(melihat Belvedere tergeletak di lantai lalu mencabut pistol dari pinggangnya)..
 Apakah dia yang bernama Belvedere?

(Tim dan Kim mundur merapat ke dinding).

TIM
 Ya, itu dia.

(Kedua pembunuh bayaran itu berjalan mendekati Belvedere).

PEMBUNUH BAYARAN II (menempelkan laras pistol berperedam ke pelipis Belvedere)
 Belvedere , ini adalah pembayaran hutang 370.000 dolar yang jatuh tempo dua bulan lalu.

BELVEDERE (memegang laras pistol dengan tangannya yang gemetar)
 Jangan... tolong.

(Tim dan Kim bersandar di dinding, membeku dalam ketakutan.

Pembunuh Bayaran II melepaskan tembakan tunggal ke dahi Belvedere. Lalu ia segera berbalik dan melepaskan dua tembakan kilat menembus jantung Tim disusul dua tembakan lagi untuk Kim. Keduanya ambruk ke lantai menimbulkan bunyi berdebam.)

PEMBUNUH BAYARAN I
(menoleh pada Pembunuh Bayaran II yang sedang meniup ujung pistolnya)
 Apa kata istrimu kau tidak merayakan Valentine bersamanya malam ini?

PEMBUNUH BAYARAN II (memasukkan pistol ke pinggang)
 Oh, sepuluh tahun perkawinan dan tak pernah sekalipun kami merayakan Hari Valentine.

(Keduanya berjalan keluar.)

LIGHTS OUT


Bandung, 13 Februari 2017.

Ikhwanul Halim

/ayahkasih

TERVERIFIKASI

A father, author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi) dan 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain', totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.