HEADLINE DONGENG

Lelaki yang Tak Pernah Berdusta

02 Sep 2016 | 10:44 Diperbarui : 02 Sep 2016 | 23:27 Dibaca : Komentar : Nilai :
Sumber ilustrasi: quotefancy.com

Sekali waktu hiduplah seorang bijak bernama Mamad.

Sebenarnya, dalam setiap waktu—tidak hanya sekali, selalu hidup setidaknya seorang bijak. Namun dongeng ini khusus menceritakan orang bijak yang bernama Mamad.

Seumur hidupnya yang sudah melewati 30 putaran matahari, dia tidak pernah berdusta. Tidak sekalipun. Mamad adalah manusia paling jujur di negeri itu. Nama negerinya sendiri sudah terlupakan. Bisa saja pengarang mengatakan sembarang nama, namun itu berarti pengarang berbohong dan kisah ini menjadi tidak ada nilai moralnya lagi.

Semua orang di negeri itu, bahkan orang-orang yang tinggalnya sejauh dua puluh hari perjalanan dengan keledai, tahu tentang Mamad.

Akhirnya kabar tentang Mamad yang tidak pernah berbohong itu sampai ke pendengaran raja yang tinggal di istana di ibukota. Jauhnya dua puluh satu hari perjalanan dengan keledai. Raja negeri itu memerintahkan kurir kerajaan untuk membawa Mamad ke istana. Karena sang kurir menjemput Mamad dengan seekor kuda yang kecepatannya tiga kali dari keledai jika ditunggangi oleh satu orang dan dua kali kecepatan keledai jika dinaiki kurir dan Mamad, maka pada hari ke-delapan belas mereka tiba di ibukota.

Seharusnya mereka tiba setengah hari lebih cepat, namun sang kurir sempat singgah di pasar desa sebelum ibukota membeli buah badam untuk istrinya. Dan mereka juga singgah ke rumah sang kurir untuk menyerahkan buah badam tersebut, yang diterima istrinya dengan suka cita.

Buah badam itu dimakan bersama-sama, dan Mamad mendapat bagian juga. Setelah buah badam habis, barulah Mamad dan kurir kerajaan menuju istana dan langsung menghadap raja.

Raja memandang orang bijak itu dan bertanya:

"Mamad, apakah benar, bahwa kamu tidak pernah berbohong?"

"Benar, raja."

"Dan kamu tidak akan pernah berbohong dalam hidupmu?"

"Saya yakin dalam hal itu."

"Oke kalau begitu. Selalulah berkata benar. Tapi kamu perlu tahu, berbohong adalah hal yang paling manusiawi, dan tanpa kamu sadari, tiba-tiba kamu telah melakukannya. Tinggallah di istana ini selama dua minggu."

Beberapa hari berlalu dan raja kembali memanggil Mamad. Ada kerumunan besar: raja hendak pergi berburu. Raja mengelus surai kudanya, kaki kirinya berada di sanggurdi.

Dia memerintahkan Mamad:

"Pergi ke istana musim panas dan beritahu sang ratu bahwa saya akan untuk makan siang dengannya. Katakan padanya untuk mempersiapkan pesta besar. Kamu juga akan ikut makan siang dengan kami."

Mamad membungkuk dan kemudian pergi ke istana musim panas untuk menemui ratu.

Setelah Mamad pergi. raja tertawa dan berkata:

"Kita tidak akan pergi berburu dan Mamad akan berbohong kepada ratu. Besok akan tunjukkan bahwa Mamad telah berbohong."

Namun Mamad sang bijaksana setibanya di istana musim panas, menhadap sang ratu dan berkata:

"Mungkin Yang Mulia Ratu harus menyiapkan pesta besar untuk makan siang besok, dan mungkin juga tidak. Mungkin baginda Raja akan datang untuk santap siang, dan mungkin juga tidak."

"Dia akan datang atau tidak?" tanya ratu heran.

"Saya tidak yakin apakah setelah aku pergi baginda meletakkan kaki kanannya di sanggurdi, atau kaki kirinya di tanah."

***

Keesokan harinya, baginda mengunjungi istana musim panas dan mengatakan kepada ratu:

"Si bijaksana Mamad, yang tidak pernah berbohong telah berbohong kepadamu kemarin."

“Tidak, dia tidak berbohong,” bantah ratu.

Ratu menceritakan tentang kata-kata Mamad.

Akhirnya raja mengakui bahwa Mamad si orang bijak memang tidak pernah berdusta dan hanya mengatakan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Apa yang kemudian terjadi dengan Mamad, pengarang tak tahu lagi. Bisa saja pengarang membuat cerita bahwa Mamad dihadiahi emas berlimpah, atau dikawinkan dengan putri raja dan kelak menjadi raja mengganti sang raja sepuh yang memasuki masa pensiun. 

Tapi itu artinya pengarang telah berbohong dan dongeng ini menjadi tidak punya nilai moral lagi.


Bandung, 2 September 2016

Ikhwanul Halim

/ayahkasih

TRUSTED

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.