CERPEN

Kemarin Aku Masih Bersepatu

19 Jun 2017 | 14:21 Diperbarui : 19 Jun 2017 | 16:31 Dibaca : Komentar : Nilai :
Ilustrasi: wallpaperwide.com

Karena tipe anak mama tidak pernah merasakan patah tulang, maka aku membenci K. Terlebih lagi karena ia tak datang untuk mengeluarkanku dari kota pesisir pantai utara di mana nelayan memancing kepiting dan petani menanam kangkung rawa. Punggawa bersekutu dengan lintah darat membangkrutkan koperasi dengan memainkan pinjaman kredit lunak. Pemuka masyarakat yang pendendam dan ingin mengalahkanku.

Aku terlalu takut dan lemah untuk pergi, bangkrut dan bertelanjang kaki.

Yakinlah, sehari sebelum kemarin, aku membelai seekor macan jantan belang yang besar, mungkin keajaiban yang tersamar, meski menurut G itu hanyalah seekor kucing kurap kurus dan menggigit jempolku sebelum akhirnya berlari pergi mengikuti asal ayam goreng yang dibawa angin. Ibu jariku berdarah membuatku demam meriang, meringkuk dan bermimpi tentang semua orang jahat mempesona yang mungkin tidak akan pernah kembali.

Maka itu terjadi.

Aku meringkuk di bangku berdaun di taman depan kantor walikota, memasukkan ibu jari saya ke rongga mulut dan membayangkan permen lolipop tiga rasa: senang, gembira dan bahagia. Tapi rasa karat besi pada darah mengingatkanku pada sihir dan tenung.

Aku mendengar suara langkah kaki. Membuka mataku dan parade manusia berseragam pamongpraja terpelintir meninggalkan masjid peninggalan sejarah, memakai peci dan menyandang sajadah. Memakai jas hujan, seorang penjaja keliling berhenti di bangkuku. Ia diikuti seekor anjing betina sakit-sakitan. Putingnya membusuk dan sebiji kutil menghitam di hidungnya. Mungkin juga hanya lintah.

Pak tua menawarkan semangkok bakso dan kopi instan hangat dalam mangkuk plastik. Meski aku tak punya uang sepeserpun, katanya aku boleh berhutang. Kami berjalan ke tempatnya: gerobak dorong dinaungi tenda usang. Aku ceritakan padanya tentang malam yang mengerikan dan semua legenda sesat yang menguasai kota pesisir kecil ini, dan dia terus mengangguk dari waktu ke waktu sekan mendengarkan. Namun aku dapat merasakan bahwa dia tidak peduli. Maka aku tetap terus berbicara:

"Aku bersepeda melalui hutan lebat yang tak berujung, begitu banyak pepohonan tinggi dan jalan berliku yang mengarah ke gudang terbengkalai, yang jika dielakkan akan mengarah ke jalan berbahaya lainnya, tempat segerombolan preman brengsek yang suka memeras orang lewat. Tak ada lagi yang berani melewati lorong di hutan lebat menuju gudang terbengkalai itu.”

Pak tua hanya mengangguk-angguk dan kemudian menghilang di telan udara bersama gerobak bakso dan tenda usangnya.

Kopi instan dalam mangkuk plastik di tanganku tak lagi hangat mengepulkan hasrat. Lagipula rasanya persis tanah kuburan.

Kemarin sore aku tidur di bangku taman, dan sepatuku hilang digondol kucing. Sebelumnya mengunjungi Tempat Pemakaman Umum sepulang dari menari di festival. Aku suka membaca nama-nama penghuninya. Hujan deras dan sepatuku berlumpur. Ada satu makam yang selalu menarik perhatianku: Surat bin Warta. Membayangkan orangnya bertubuh ceking kurus tinggi. Seperti K. Sepatuku kena lumpur tanah kuburan.  

Aku tambah membenci K. Ia pernah menulis surat cinta untukku. Surat itu tidak dikirimkannya padaku, namun dibuang di tepi jurang. Tepi jurang terban, dan kakiku patah terjatuh saat meraih selembar tisu yang menjadi kertas surat itu. Ia menulis ingin mengajakku pergi jauh dari kota kecil pesisir pantai utara ini.

Aku kembali meringkuk di bangku taman berdaun di samping gedung balaikota sambil menyedot lolipop dari ibu jariku. Rasanya getir, asin dan putus asa. Bangkrut dan bertelanjang kaki.

Kemarin kakiku masih bersepatu.


Bandung, 18 Juni 2017

Ikhwanul Halim

/ayahkasih

TERVERIFIKASI

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.