HIGHLIGHT CERPEN

Fanya Diet

11 Jan 2017 | 23:55 Dibaca : Komentar : Rating :
Sumber ilustrasi: www.whatsnewjakarta.com

Aku mengenal Fanya dua tahun lalu, di pesta Malam Tahun Baru. Aku pergi karena Tari memintaku menemaninya ke pesta itu, namun sepupuku itu telah menghilang meninggalkanku sendirian di tengah gerombolan orang asing yang satupun tak kukenal. Bahkan aku tak tahu siapa sebenarnya tuan atau nyonya rumah pesta itu.

"Halo," Fanya menyapaku dari sofa. Ternyata Ia benasib sama sepertiku, sepupunya meninggalkannya di tengah pesta bersama segerombolan orang asing yang tak satupun ia kenal.

"Hai," jawabku, mendekat ke arahnya dengan piring kertas berisi kentang goreng dan kue bolu warna-warni di tangan kiri. Sekejap saja kami sudah berbincang tentang sastra, seni, film dan warung kaki lima terenak yang ada di Jakarta.

"Apakah kamu ingin duduk?" tanyanya setelah tiga puluh delapan menit kemudian. Sofa itu untuk satu orang. Ia bergeser memberiku ruang. Pahaku terasa hangat saat beradu dengan miliknya yang terlindung gaun hitam.

Pukul 23:59:50 malam hitungan mundur di mulai, dan saat teriakan ‘nol’ dan pekikan terompet membahana memekakkan telinga, bibirku dan bibirnya saling melumat ganas.

Tak lama kemudian kami meninggalkan pesta tersebut. Kami berputar-putar mengelilingi Menteng, Cikini dan Gondangdia. Orang-orang yang baru pulang dari Lapangan Monas meniupkan terompet. Kembang api dan mercon sesekali menerangi langit malam.

Menjelang subuh, aku mengantarkannya ke Stasiun Gambir. Fanya pulang ke Bandung.

Kami bertukar nomor telepon. Aku memandang punggungnya yang terbalut jaket hitam. Ia sempat berbalik dan melemparkan kecupan selamat tinggal.

Gawaiku bergetar untuk kesekian kalinya.

“Lu di mana? Gue nungguin dari tengah malam!” omel Tari yang masih berada di tempat pesta.

***

Kencan ketujuh kami, aku meminta Fanya membawa swimsuit, karena terdapat kolam renang air hangat di hotel tempatku menginap.

“Ogah,” katanya.

“Mengapa?”

“Aku kelihatan gendut kalau pakai baju renang.”

Aku tak percaya.”

Ia masuk ke kamar ganti. Ketika keluar, tubuhnya terbalut one piece hitam ketat.

"Tubuh yang yang indah."

“Aku gendut,” katanya.

“Tidak, kamu cantik.”

“Pembohong. Mulai hari ini aku mau diet.”

***

Sejak saat itu Fanya menjalani diet ketat layaknya penganut teguh. Buah dan sayuran organik. Jumlah kalori. Aku mengetahuinya dari potret-potret yang diunggahnya pada akun Instagramnya. Seminggu sekali ia mengunggah foto selfi-nya dengan tagar #FatNoMore.

Ia mengikuti program fitness. Jogging setiap hari: pagi dan sore. Sekarang lebih sering ia menjemputku di Stasiun Hall Bandung, daripada ia menemuiku di Stasiun Gambir, Jakarta. Bahkan, saat ke Jakarta, sebagian besar waktu kami habis di sasana olahraga.

Wajahnya semakin tirus, tulang pipi menonjol. Lengannya bertambah kekar, seluruhnya terbuat dari otot. Ukuran pakaiannya mengecil, sehingga setiap dua minggu Fanya harus membeli pakaian baru. Fanya tidak lagi mengenakan busana hitam. Fanya pink. Fanya kuning. Fanya pelangi.

Pengikutnya di Instagram yang semula hanya sekitar 500-an, dalam sebulan menjadi seribu, tiga bulan 4.000 pengikut, dan enam bulan melonjak 120.653. Umumnya laki-laki ‘normal’ dengan tibuh tinggi besar.

***

Pada hari ulang tahunku dua minggu lalu, untuk pertama kali sejak Fanya bertekad menjalankan diet ketat, kami mengunjungi restoran.

Di hadapanku: double cheese burger dan kentang goreng ukuran besar. Di depan Fanya tergeletak seporsi salad.

"Kamu mengejekku," katanya.

"Tidak, tentu saja tidak. Aku bisa meminta supaya burger ini dibungkus saja, dan memesan salad sebagai gantinya."

"Tidak, tentu saja tidak," ia menirukan kata-kataku sambil tertawa.

Piringku masih berisi setengah ketika mangkuk saladnya bersih tandas.

"Mau mencoba kentang goreng?" aku menawarkan.

"Tidak terima kasih. Kamu tahu aku tidak bisa memakan makananmu. Aku ingin ukuran bajuku sembilan pada Malam Tahun Baru."

"Ukuran sembilan atau sembilan belas, kamu tetap cantik, Fanya."

"Ini bukan tentang dirimu, bukan tentang apa maumu."

"Kamu benar. Maafkan aku."

"Kamu ingin aku gemuk lagi?"

"Aku tidak tahu apa mak—"

"Kamu ingin aku gemuk lagi supaya kamu bisa menghinaku."

Dia bergegas melangkah keluar dengan kakinya yang ramping. Pahanya yang kuning langsat kontras dengan rok mini fuchsia ketat. Mata lelaki di situ bukan hanya mataku, dan semua memandang menikmati perbedaan warna itu.

***

Aku berdiri di ruang kedatangan Stasiun Gambir.

Sebelumnya aku sudah menelpon Fanya. Aku mengirim bunga yang kupesan secara daring. Bahkan aku menulis komentar publik yang memalukan di foto selfi Instagramnya..

Tidak ada respon.

Sekarang tanggal 31 Desember. Jam menunjukkan pukul 22:00. Aku sudah berada di sini sejak sore. Sebentar lagi kereta terakhir dari Bandung tiba. 

Tahun lalu, Fanya datang dengan kereta siang untuk memperingati satu tahun perkenalan kami.

Aku meraba kotak cincin berlian di sakuku.

Aku masih berharap ia akan datang, bersama kereta terakhir dari Bandung yang akan tiba beberapa saat lagi.


Bandung, 11 Januari 2016

Ikhwanul Halim

/ayahkasih

TERVERIFIKASI

A father, author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi) dan 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain', totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.