CERPEN

Tanpa Batas

20 Mar 2017 | 15:30 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 15:38 Dibaca : Komentar : Nilai :

Ketika impian terliar dalam hidupmu terkabulkan,sulit bagimu menjaganya. Menjadi seorang pria dengan IQ melebihi yang bisa dibayangkan manusia, aku tidak boleh membiarkan mereka menyentuhku. Aku hampir membuat dampak pada dunia. Dengan pemikiranku, apa yang kulewatkan ? Walaupun tidak banyak, pasti ada. Sepertinya keluhan telah sampai pada mereka. Apa yang membuat mereka mengejarku ? Apapun itu, aku tak boleh membiarkan tubuhku tersentuh, tetapi yang akan kusentuh kali ini adalah trotoar yang jauh dibawah sana.

Hi, ini aku Enzo. Kalian melihat lelaki itu ? Lelaki dengan bentuk seperti pecandu dan peminum. Ya, itulah diriku, tanpa kalian sadari dengan bentuk seperti itu aku seorang penulis, yang bersertifikat. Banyak orang memandang rendah hidupku, aku selalu membual tentang karya-karya yang ada dalam pikiranku yang hanya mereka anggap efek mabuk. Aku hidup tanpa keluarga dengan kesederhanaan, tinggal di apartment termurah dengan kredit terlama. Lingkup hidupku hanya berkisar di kamarku. Jangan tinggalkan kamar, itulah kuncinya, lakukan apapun yang kubisa, mungkin lain waktu saja aku memulainya. Untung aku masih memiliki Jean.

Aku menikah dengan Valen seketika lulus kuliah, hanya beberapa menit. Dia seorang wanita terpopuler di universitasnya, ingin denganku ? Karena cinta. Ketika aku keluar dari lingkup hidupku, selalu ada hal aneh yang terjadi. Apa hal buruk yang akan terjadi dengan bertemu mantan kakak  ipar ? Perkenalkan Mikael, kakak dari seorang wanita yang hancur hidupnya karena diriku ? Perbincangan kami disebuah kafe membawa kembali kenangan, pecandu seperti dia bisa berubah menjadi pengusaha seperti ini.

Firasatku benar, perbincangan nostalgia ini tidak ada bedanya dengan dia yang dulu. Tiba-tiba tangan yang dikeluarkan dari sakunya menggenggam sebuah plastik bening dengan isi pil. Disaat itu sudah kuketahui maksudnya, obat, ya, pasti narkoba jika dengan dia urusannya. Setelah kupikir, apa yang lebih buruk ? Karena tanpa tujuan, pemberian kecilnya kuterima. Ia mengatakan obat ini telah diperiksa anak-anak di dapur, dari perkataan itu sudah kusimpulkan ini bukanlah sesuatu yang legal, tetapi.

Perjalanan pulangku di sebuah jalan tua di kota dipenuhi dengan pemikiran aneh. Orang-orang yang berlalu lalang sudah seperti debu bagiku. Langkah demi langkah kujalani, semakin lama terasa tanpa arahan. Angin yang berhembus serasa menahanku dengan gaya geseknya. Bangunan lama yang pendek berdampingan dengan para pencakar langit seperti perbedaan drastis yang akan kualami dalam hidupku.

 Ketika diriku sampai di kos-ku, perubahannya semakin terasa. Tangga yang kunaiki sudah seperti tanjakan bukit yang di ujungnya terdapat perubahan yang telah lama menanti diriku. Hei, itu Lana, seorang wanita yang ditinggal nikah oleh suaminya, sebagai ibu kos-ku dia bukanlah orang yang ingin kamu ajak berbincang ketika dirimu masih menghutang. Apa yang bisa membuatnya sebegitu marah padaku ? Hutang 3 bulan ? Tentu tidak. Sebentar, apa yang terjadi ? Semuanya menjadi jelas sekarang. Semua perkataannya sudah seperti melodi orkestra. Seperti lampu yang diberi energi, otakku tiba-tiba menyala ! Semua ingatan yang tidak seharusnya kuingat dapat kuakses. Aku mulai berpikir, kita mengetahui segalanya, yang kita perlukan hanyalah akses.

Ya, semua masalah Lana hanyalah permasalahan kuliah, ya, hubungan dosen dan mahasiswa yang biasa. Untungnya diriku mengetahui permasalahan hukum, pengetahuan tersembunyi yang selama ini kuketahui. Di akhir pertemuan kami terdapat diriku yang mengajarkan dia dan terdapat pula hubungan yang lebih rumit. Wow, inikah kamarku ? penulis bagaimana yang sekotor ini. Mungkin ini saatnya berubah, setidaknya mencoba. Efek dari obat ini seperti keajaiban, ide-ide karya tulis yang tidak pernah terungkapkan oleh diriku telah mencapaia fase penyelesaian. Hari ini terasa gila, semuanya aneh.

Pagi telah tiba, aku bangun sebagai Enzo yang dikenal semua orang. Semalam terasa seperti mimpi, tetapi pagi ini seperti mendaki terlalu jauh di sebuah bukit di titik kamu akan kembali jatuh. Setidaknya tulisanku tidak berubah dan masih diam menungguku mempublikasikannya. Perjalananku ke kantor seperti omong kosong, orang-orang yang lewat, angin, dan langkah-langkahku hanya sebatas kebohongan. Hidup yang kujalani kemarin adalah yang kuinginkan, dan obat itu juga yang kupinta.

Tibalah diriku di bar, dimana para pemabuk berkumpul. Yang kuinginkan disini hanyalah satu, uang. Dengan sedikit akting dan pembicaraan yang meyakinkan, peminjaman bukan masalah yang besar. Pria yang kutipu ini pasti bukanlah masalah besar. Aku pergi dengan harapan kehidupan yang baru. Aku berjalan dengan penuh semangat, Mikael, Mikael, dan Mikael. Tiba di rumahnya, ungkapanku hanya satu, megah. Bagaimana bisa seorang pecandu seperti dia berubah menjadi sosok yang hampir tidak kukenal ? Rumah dengan nuansa metropolitan, mataku dihias dengan seni arsitektur berkelas. Apapun akan kulakukan demi obat ini.

Ada sesuatu yang memperlambat langkahku, ada sesuatu yang aneh disini. Tempat ini terasa sepi, angin yang berhembus, tanah yang kupijak, bau yang kuhirup, rumah yang kupandang, semuanya terasa mati. Ketakutanku semakin melonjak dengan melihat pintu rumah yang dibiarkan terbuka. Firasatku mengatakan jangan, tetapi keinginanku akan obat perubah hidupku ini mengalahkan apapun di dunia ini. Yang hanya bisa kupikirkan saat ini hanyalah obat, obat, dan obat. Dengan berani kubuka pintu dan memasuki rumah yang mencurigakan ini. Hal pertama yang kulihat membuat diriku tak berdaya, hanya bisa berdiri kaku tidak berkata-kata.

Antonius Aaron Wu

/aron_accel


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.