CERPEN

Hujan Senja

20 Oct 2016 | 05:20 Dibaca : Komentar : Rating :

Sendiri. Hujan telah mengantarkan matahari ke tempat peraduan ternyamannya. Kali pertama aku mencium bau tanah basah sejak aku menghirup udara kota ini. Menjemput malam dengan gelegar dan kilat yang anggun. Hingga aktivitas deru mesin-mesin kendaraan bermotor tak terdengar pun, hujan masih setia membungkam malam dengan derap perkasa rintiknya membanjiri bumi. Membuat sebagian penghuni kosku semakin merapatkan selimut dan mendouble baju hangat mereka. Suatu keberuntungan tersendiri bagi sebagian lain penghuni kosku yang sedang liburan weekend, karena bisa berlama-lama bersama kecengan mereka masing-masing dan mempunyai alasan terlambat pulang ke kos.

Jika sebagian besar orang disini merasa terbebani, jengkel dan memaki hujan sejak senja ini. Aku adalah salah satu yang bukan dari mereka. Ya, walaupun aku harus membatalkan rencana keluar mencari penyumpal bunyi yang semakin nyaring keluar dari perut buncit ini. Aku mencintai hujan. Entahlah, apa alasan pastinya. Sejak kapan? Nggak tau juga. Yang penting aku suka. Gitu aja. Tenang, nyaman, dan selalu menggugah jiwaku menggali kenangan-kenangan tentang gadis kecil yang selalu menemani hujanku. Dan yang lebih penting, udara diluar kamar kosku bisa terasa sedikit lebih sejuk. Sedikit? Iya, karena meski hujan sudah membanjiri pelataran depan hingga hampir naik ke teras, sisa udaranya seperti enggan bertransformasi dengan udara menyenangkan yang derajat celciusnya lebih minim ini.

Nina, gadis manis pengagum senja inilah awal dari sebuah petualangan jiwaku. Aku bukan seperti kebanyakan orang lainnya, itu kata temen-temenku dulu. Lebih cuek dan nggak terlalu peduli dengan keadaan sekitarku. Malah, beberapa adik kelasku takut sama aku. Nggak berani nyapa lebih tepatnya. Aku terkenal sebagai kakak kelas yang paling jarang senyum. Bagi orang yang beruntung saja bisa liat aku senyum, katanya.

“Kalo mau liat kak Adin ketawa, intip aja pas dia lagi sama Nina atau kalau nggak, pas sama temen-temen deketnya” kata salah seorang anak angkatan Nina yang kaget setengah mati kayak baru liat kuntilanak nyuci baju di siang bolong, ketika dia tau orang yang berjalan di depannya sejak tadi adalah orang yang menjadi topik pembicaraan seru mereka dan langsung bubar tanpa aba-aba setelah aku berhasil menghadiahi mereka dengan tatapan mautku.

Dalam hati sebenarnya aku menahan tawa mati-matian. Dan, satu lagi. Kalau moodku mulai berantakan, semua orang bisa kena sembur. Entahlah, ada untungnya apa nggak dengan aku bersikap seperti ini. Ya setidaknya nggak ada yang berani menanyai kepribadianku, yang belum tentu aku sendiri bisa menjawabnya. Bagiku nggak ada yang lebih tau tentang hidupku selain diriku. Tapi sekali lagi, gadis kecil itu berhasil membuatku merevisi ulang persepsiku.

                                                            *****

“Puluhan purnama?” mata bulatnya membelalak memantulkan semburat-semburat terakhir mentari lengkap dengan bibir mungilnya yang melongo kala itu. Di lantai teratas sebuah gedung. Tempat favorit kami. Tempat yang selalu romantis dan mengundang kerinduan. Satu-satunya tempat dimana dia bisa mengekspresikan semua kekagumannya pada senja. Dan satu-satunya tempat dimana aku bisa menyaksikan semua kerapuhan yang menyeruak dari eksteriornya yang setangguh baja. Ya, senja kala itu. Tepat beberapa bulan sebelum tanggal kelulusan sekolah menengah atasku diumumkan. Kala itu.

Sebuah proposal petualangan baru yang aku ajukan kepada kawan kecilku itu. Hanya sebuah basa basi yang tidak pernah aku mencoba menebak ekspresi apa yang aku tangkap setelahnya. Basa basi saja. Sebelumnya kita memang sering melakukan hal-hal konyol dan menantang. Tapi, baru kali ini aku tidak mengkalkulasikan sebab akibat, kesanggupan, dan efek dari pertanyaan cerobohku ini. Aku? Aku bahkan belum memikirkan pertanggung jawaban dari pertanyaan yang tergolong ekstrem ini.

“Iya. Jadi, kita ketemunya nanti setelah kamu udah lulus SMA.” Jawabku sekenanya. Dengan ekspresi yang tak kalah aku buat semeyakinkan mungkin. Masih juga belum terpikirkan pertanggung jawaban atas jawabanku ini. Image basarku luntur kalau aku sampai menarik kembali ucapanku. Hening. Lama. Terasa mencekam. Nampaknya dia sedang berdebat sengit antara hati dan akalnya. Camar-camar terlihat indah meliuk-liukkan sayapnya membentuk formasi yang seakan menertawakan diriku merutuki kebodohan. Komat-kamit dalam hatiku tak bisa berhenti. “Semoga dia menjawab tidak”, “semoga dia menjawab tidak”...

“24 purnama, ya?” tanyanya dengan desahan panjang yang sudah bisa kupastikan tak membutuhkan jawaban. Memotong ritual wiridku. “Tapi itu kan lama. 24 lho. Apa aku bisa? Siapa yang bakal nemenin aku menyambangi senja? Siapa yang bakalan mengajakku menari bersama hujan?” BEUMM!! Itu pertanyaan sama yang berusaha mati-matian aku ‘telan’ berulangkali. Dan sekarang dia yang ‘memuntahkannya’. Diam. Tak sepatah kata pun aku menjawab.

Aku tahu kawan kecilku itu suka berat sama yang namanya tantangan dan hal-hal baru. Apapun resikonya. Sebarapa sakitnya pun konsekuensinya. Dan sudah  bisa dipastikan dia bakal menjawab ‘ya’. Seberapapun susah dia mengatakannya .Dan seberapapun ...

“Nggak,” jawaban itu seketika menghamburkan semua kalkulasiku. Mematahkan semua persepsiku. Dan membuatku melongo tanpa sadar. Tiba-tiba gadis kecil itu tersenyum. Bibirnya melengkung indah. Lebih indah dari sabit di awal bulan. Mengangkat daguku dan meneteskan mutiara bening itu. Aku tau senyum itu. Aku tau air mata itu. Aku tau arti semuanya. Senyum itu memberi nilai seratus atas kalkulasiku. Air mata itu membenarkan semua persepsiku. Dan jawaban itu memang  hanya abstraksi. Seharusnya memang aku nggak perlu mengambil hati atas jawaban itu. Karena memang persepsiku benar. Dan nggak pernah salah. Gadis keciku itu tak pernah menolak tawaranku.

Masih terasa betul sejuk senja kala itu. Senja yang lebih cepat raib dari biasanya. Bintang senja yang berkedip sekali, terasa lebih spesial sebelum tergusur dengan sekawanan gumpalan awan kelam. Aroma tubuh belum mandi itu sampai sekarang masih melekat jelas dalam rongga paru-paruku. Peluknya mengisolasi semua kata-kataku. Air matanya merembes hingga bahuku. Tak ada yang terucap kala itu. Satu patah katapun. Seolah pelukan itu menjelaskan semuanya. Seolah pelukan itu mengungkapkan semua kata yang tak mampu terucap. Lamat-lamat benteng pertahanku runtuh. Peduli setan dengan imageku yang bakal luntur kalau aku sampai nangis. Rintik hujan yang menderas mulai menyibak awan gelap yang mengungkung langit senja. Hujan memeluk senja. Kala itu.

*****

Jam tua di rumah ibu kosku telah berdentang delapan kali. Pertanda sudah 3 jam aku masih setia meresapi setiap tetes yang turun dari langit di luar kamarku, balkon kos. Dan aku, masih sendiri. Nampak petugas pengantar air mineral tergopoh-gopoh melebarkan pintu gerbang kosku yang hanya terbuka sedikit sambil mengangkat air galon dan berusaha menerobos hujan yang hanya tinggal rintik-rintik ini. Sepertinya, itu mas-mas yang bertugas mengantarkan air galon yang sudah kutelepon sejak sore tadi. “Maaf ya mbak, nganternya telat. Hujannya nggak reda-reda,” katanya dengan nafas yang masih satu dua. Aku hanya membalasnya dengan senyum atas jawabanku, sambil tanganku mengulurkan uang. Mas berkaca mata itu kemudian berlalu. Ah, aku jadi teringat cowok berkaca mata mantan ketua OSIS itu. Cowok yang menghadiahi aku tasbih di ujung senja pertemuan itu. Cowok yang meminta izin untuk pergi dan berjanji akan kembali untukku setelah katanya, dia bisa menjadi cahaya seperti yang aku harapkan. Ah, cowok berkaca mata itu.

#jurnalistikuinjogja

Annidaul Aula

/ann

pencinta travelling
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.