CERPEN

Bunga Liar

20 Apr 2017 | 21:26 Diperbarui : 20 Apr 2017 | 22:09 Dibaca : Komentar : Nilai :


″Rauooooong......rauooong” suara raungan sepeda motor memecah kesunyian pagi yang tenang. Semua mata dari dalam penjuru kelas tertuju pada sebuah sepeda motor protholan yang memasuki pelataran SMA Patimura, masih pagi menurut ukuran jam tapi bagi seorang pelajar jam 8 termasuk siang, terlambat 1 jam dalam mengikuti pelajaran.

Seorang pemuda dengan gaya slengekan turun dari sepeda motor, dengan santai melenggang ke kantor dewan guru.

″Pagi, Pak. Ada tugas untuk saya?” tanyanya sambil senyam senyum.

“Bosan lihat kamu setiap pagi terlambat, Mat. Bersihkan kamar mandi sana !” bentak Pak Agus pada Mamat.

“Kemarin, sudah saya bersihkan Pak”.

“Ya, bersihkan lagi”

“Okey, Pak”.

Mamat, pemuda tanggung sang ketua kelas XI B , biangnya SMA Patimura, cakep, pintar dan kaya. Pokoknya tajir abis deh tetapi catatan kenakalan memenuhi buku kasus atas namanya. Si bos begitu teman-temannya memanggil. Mamat cukup terkenal, meski keras kepala dan suka memaksakan kehendak, dia idola di lapangan basket. Perpaduan yang kontras, dan tidak aneh di kalangan cewek Mamat jadi bahan pembicaraan dan rebutan. Gentle dan supel.

“Thok...thok...thok” terdengar ketukan di pintu kelas XI B, sudah bisa ditebak siapa yang datang. Mamat yang selesai membersihkan kamar mandi melenggang masuk.

“Selamat pagi, Bu. Maaf terlambat” salamnya sambil memamerkan senyumnya yang menawan. Subhanallah. Semua mata tertuju padanya sambil tersenyum, kecuali mata lembut milik Latifah yang selalu tertunduk.

″Macet lagi, Mat ?″ tanya Bu Ayu kesal merasa terganggu.

Mamat Cuma tersenyum sambil menyerahkan surat ijin masuk.

″Terima kasih, Bu″, Mamat melangkah ke bangkunya sambil sesekali matanya mencuri pandang ke arah Latifah, dan dia mendesah saat gadis berjilbab putih itu tetap menunduk. Ah...

****

Saat istirahat, setangkai mawar tergeletak di atas bangku Latifah. Latifah, gadis manis, cerdas, sopan dan pendiam itu hanya tersenyum sambil mencium mawar itu sekilas, tak ada riak terkejut mendapati setangkai mawar itu di sana, karena sudah beberapa kali seseorang yang entah siapa meletakkan mawar di bangkunya. Kelas dalam keadaan sepi, hanya dua anak yang sibuk mengerjakan tugas kimia yang berada di kelas. Latifah memasukkan mawar itu ke dalam tasnya dan hendak melangkah keluar, tetapi seseorang menahan langkahnya.

″Kamu suka mawar itu, Latif ? ″ Latifah tengadah, memandang orang yang menhalangi langkahnya, sekilas.

″Kamu...Mat?. apakah kamu yang meletakkan mawar-mawar itu?″ tanya Latifah terkejut setengah mati, mengetahui si misterius pemberi mawar.

″Kalau ya kenapa ? Kalau tidak kenapa ? canda Mamat menirukan iklan.

Latifah tersenyum.

″Em...kamu tidak suka mawar ?″ Latifah mengeleng dan menunduk makin dalam.

Terbayang kembali masa lalu yang semu, seperti sebuah film yang diputar kembali di depannya. Kisah sedih yang membuatnya terluka teramat dalam. Setiap malam Minggu, Rendy selalu membawakan setangkai mawar merah untuknya, Latifah yang lugu memaknai mawar itu sebagai lambang kasih dan setia milik Rendy untuknya, tetapi mawar itu tak mampu menjelaskan apapun ketika ia melihat Rendy juga memberikannya pada Maya. Ah, bodohnya ia kenapa mempercayai setangkai bunga mawar.

″Aku bela-belain sampai terlambat mencari mawar itu, Latif″

″Kenapa kamu mengorbankan hal yang besar hanya karena hal-hal kecil seperti ini, Mat ? ″

″Hal kecil, maksudmu ! ″ Mamat mulai kesal. Suaranya meninggi.

Latifah menelan ludah.

″Tholabul ilmi itu wajib bagi kita, dan kamu....mengorbankannya hanya untuk setangkai mawar, apa itu tidak berlebihan ? ″.

″Aku melakukan semua itu untukmu″.

Deg !!

Jantung Latifah berdegub keras karena kaget. Tangannya memegang tepian bangku, menopang tubuhnya yang gemetar. Dia mencoba menguasai diri. Ya Robb, bantu aku agar tidak berbuat dholim, doanya dalam hati.

″Ng...aku...aku tidak layak kau sanjung seperti itu, ″lirih suara latifah gemetar ″Aku tidak pantas mendapat cintamu yang begitu besar, karena...., ″

″Karena apa ? ″ Mamat mulai gelisah.

″Karena ada yang lebih berhak menerima cintamu daripada aku,″ Latifah menghela nafas. Badannya panas dingin.

″Kamu menolakku? ″ tanya Mamat patah. Suaranya bergetar. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang kecewa.

″Aku tidak menolakmu, Mat″ mata bening itu samar tertutup kabut. Berbagai penggalan peristiwa berkelebat. Ada sosok Rendy yang tertawa sambil menggandeng Maya. Wajah bapak yang sedih dan tangisan ibu saat mendengar putusan dokter tentang penyakitnya yang tidak dapat disembuhkan. Bau obat dan panggilan-panggilan yang menyayat.

″Tabahkan hatimu, Nak. Dokter bukan penentu umur manusia, Allah yang lebih berkuasa.″

Suara-suara itu terasa pedih dan menyesakkan dada. Butiran bening mengalir dari balik kacamatanya. Pelan dia menghapusnya.

″Apakah kamu sudah punya pacar ?″ kegusaran Mamat membuatnya tak melihat kesedihan di wajah gadis didepannya.

Latifah kembali menghela nafas, aku harus kuat katanya dalam hati.

″CintaNya padaku lebih besar daripada cinta siapapun. Tak ada yang membuatku tenang selain selalu bersamaNya,″

″Siapa dia ?, aku akan membuatnya babak belur karena telah merebutmu dariku.″ wajah Mamat memerah.

Latifah tersenyum arif. Ya Allah, bantu aku memahamkan cinta pada-Mu.

″Dia juga mencintaimu, Mat. Dia Maha Pengasih dan Penyayang. Dan tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang dapat mengalahkanNya... ″ Latifah tersentak, kedatangan teman-temannya membuatnya jengah.

″Haayooo...lagi ngapain Si Bos sama Putri Salju ? ″ gerombolan Si Berat yang terdiri dari Giman, Topan dan Dudung datang mengejutkan Mamat yang serius mendengarkan Latifah.

Mamat terkesiap. ″Kurang asem !, ngak enak ya lihat orang seneng. ″ semprotnya sambil berdiri dan menjitak kepala Giman yang paling dekat dengannya. Wajahnya memerah karena malu. Bisa bahaya reputasi kalau ketahuan trio gemuk tukang ngocol ini...habis awak dikerjain nanti.

″Lagi pedekate ya, Bos ?″ pancing Topan sambil mengikuti Mamat ke bangkunya.

″Sudah...jangan banyak tanya, anak kecil waktunya minum susu, jangan ikut campur urusan orang tua ya ?″ jawab Mamat seolah memberi nasehat pada anak kecil.

″Yeee si Bos″ Topan sewot. Bibirnya manyun. Pantes aja sewot, badan segedhe gajah di bilang anak kecil.

″Kacian deh lu... ″ kompak mereka menyoraki Topan sambil tertawa lepas. Ramai. Sekilas Mamat melihat ke arah Latifah. Gadis itu menunduk seperti kebiasaannya.

***

Sejak peristiwa pemberian mawar itu, Mamat berubah menjadi agak pendiam, wajahnya yang selalu menyiratkan keceriaan kini sering terlihat sedih. Agenda terlambat yang hampir setiap hari kini sudah berganti, pagi-pagi ia sudah di sekolah, mengawasi teman-temannya yang sedang piket. Saat istirahat, bangku taman menjadi tempat specialnya, kalau tidak membaca ya...merenung.

Jika dilihat dari luar siapapun menyangka hidup Mamat pasti bahagia, semua kebutuhannya tersedia, anak bungsu dari dua saudara yang permintaannya biasa terpenuhi ini juga kesayangan keluarga Sastro, jadi tidak heran ia tumbuh menjadi anak mama yang manja dan egois, meski jauh dilubuk hatinya, Mamat merasa sendirian. Rumah besar itu kadang sepi dari tawa dan canda keluarga. Semuannya sibuk. Sebuah gambaran keluarga modern. Kadang jika ia jenuh dengan kesendiriannya, ia buat pesta bersama teman segenknya. Teman-teman yang ada saat ia senang dan pergi saat ia sedih. Pergaulan yang membuatnya menyangsikan ketulusan orang lain.

Seringkali Mamat menumpahkan kegalauannya pada Latifah.

″Kenapa kita merasa sendirian ?, ″

″Karena kita hanya berfikir tentang diri sendiri. ″

″Untuk apa kita memikirkan orang lain ? ″.

″Kita tidak boleh egois. Kita telah terlahir sebagai khalifah di muka bumi, oleh sebab itu kita harus mampu memberikan arti″.

″Bagaimana ? ″

″Kita harus punya cita-cita agar hidup kita terarah. Kita mencintai kehidupan untuk bekal kehidupan yang sebenarnya, akhirat ! untuk itu, baca Al-Qur’an, ikuti pengajian, dan terjun dalam gerakan dakwah agar kau termotivasi untuk menjadikan hidupmu penuh arti.″

″Apakah aku masih punya kesempatan ? ″

″Bukankah ini kesempatan emas, banyak yang membutuhkanmu. Setidaknya teman sekelas. Kita tidak boleh menjadi orang manja. Orang manja tidak mempunyai apa-apa kecuali sebuah kebodohan, kenikmatan sementara. Bukankah kita tercipta sebagai rahmatan lil’alamin ?. ″ ujarnya pada Mamat. Latifah terdiam, teringat kata-kata ustadnya saat ia hampir putus asa menerima vonis Leukimia yang hanya menunggu ajal saja. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Yang penting bukan kapan dan bagaimana kita menghadap Allah itu, yang penting adalah seberapa banyak bekal yang akan kita bawa menghadap kehadirat-Nya. Kita harus berhenti berkeluh kesah karena keluh kesah, caci maki, dan umpat hujat tak akan melahirkan apapun kecuali hati yang gundah. Mengapa kita tidak berbuat sesuatu untuk menyalakan cahaya betapapun sinarnya tak menerpa ke seluruh dunia, tetapi siapa tahu berguna bagi mereka yang tersesat di perjalanan. Jadilah manusia baru, bagaikan satu hari engkau dilahirkan kembali, tetapkan dalam hatimu bahwa dirimu bukan pecundang. Kau adalah orang yang beriman, yang dengan iman kau tebar cinta, dengan amal prestasi kau gubah dunia dan dengan jihad kau jadikan hidup penuh arti. Percikkan cintamu dengan akhlak yang mulia. Tinggalkan kepalsuan dan kemalasan, karena dunia tidak pernah akan mengasihanimu.

″Latif!. Latif !. Kamu melamun ?.″

Latifah tersenyum getir.

Mamat berusaha memahami senyum itu tetapi yang dia dapat hanya keresahannya sendiri.

***

Pagi nan cerah, mentari bersinar dengan lembut, kehangatan terpantul dari wajah Mamat yang pagi ini datang lebih awal, setangkai mawar tergenggam di tangannya, untuk siapa lagi mawar itu kalau tidak untuk Latifah. Latifah, gadis kuat namun lembut yang membuatnya menyadari banyak hal tentang Islam. Latifah yang senyumnya membuatnya penasaran karena menyimpan misteri dan misteri itu kini terungkap. Kemarin, saat ia ke rumah Latifah untuk meminjam catatan matematika, Latifah tidak ada, yang menemaninya saat menunggu Latifah pulang dari dokter adalah ibunya, dari ibu yang juga lembut itu Mamat tahu kalau Latifah tidak berumur panjang akibat Leukimia yang dideritanya. Lima bulan lagi, itu waktu yang diperkirakan dokter, dan selama itu Mamat ingin menemani Latifah untuk bersama-sama meraih cinta Allah.

Tapi sampai siang Latifah belum juga datang, Mamat mulai lelah memandang pintu gerbang berharap seraut wajah manis dengan jilbab putihnya melenggang di sana. Mamat memandang arloji di tangannya, jam tujuh kurang lima menit. Kemana Latifah ? tanyanya dalam hati.

″Bos ! kenapa masih disini !, ″ tergopoh-gopoh Giman ke arah Mamat ″Latifah....Bos, Latifah kecelakaan ! ″ ucapnya di sela nafasnya yang tersengal.

Mamat berdiri dari duduknya ″Sekarang, sekarang .....dimana ? ″ Mamat tak kalah terkejutnya dengan Giman. Mawar yang ada digenggamannya terjatuh, tergeletak di tanah.

″Di rumah sakit...ikuti aku saja Bos !″ dengan berboncengan tiga mereka ke rumah sakit.

Hidup hanya menunggu kematian. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan saat itu datang. Kata-kata Latifah terngiang-ngiang di telinga Mamat.

***

Senja nan kelabu, Mamat berdiri di sisi pembaringan Latifah di rumah sakit. Perlahan mata Latifah yang terpejam terbuka dan menoleh ke arah Mamat. Dari kedua bibirnya tersungging senyum yang melukiskan kepedihan.

″Kau.......kau........tidak membawakan mawar untukku ?. ″

Mamat menggeleng dengan senyum pedih.

″Aku tidak suka mawar...kau tahu kenapa ?, ″ Latifah menelan ludah dengan sedih dan memandang keluar jendela ″Karena aku tidak mau menjadi seperti bunga mawar, dia berduri dan kadang durinya melukai kita.″ Latifah menunjuk keluar jendela ″Kau lihat bunga liar yang tak terawat di luar pagar sana ?. Bunga itu adalah bunga dandelion.″

″Ya, aku melihatnya″ Mamat memandang ke luar jendela.

″Seharusnya kita menjadi seperti bunga liar itu, ikhlas. Kemanapun angin menebarkan biji-bijinya, dimanapun biji itu jatuh dan tumbuh ia tidak mengeluh, ia harus berjuang sendiri tanpa bantuan dan perawatan manusia hanya tergantung pada alam, kadang ia juga terinjak dan dipandang sebelah mata, bahkan kadang kehadirannya tak diinginkan, tetapi...ia tetap kuat″ Latifah meringis menahan nyeri. Mamat merasakan tikaman kepedihan di dadanya.

″Tenanglah Latif. Kamu luka dan tubuhmu banyak mengeluarkan darah. Jangan bicara lagi.″

Latifah mengeleng.

″Kau lihat bunga-bunganya kan ? meski liar ia juga bisa memberi arti buat kita. Saat berbunga, ia juga tidak memilih untuk siapa bunganya, setiap orang berhak menikmati wangi dan warna-warninya. Ia tulus.″ latifah diam sejenak, mengumpulkan seluruh kekuatannya, keheningan meliputi kamar yang serba putih itu.

″Selama disini aku belajar dari bunga liar itu, belajar ikhlas dan ridho pada ketentuan Allah yang diberikan padaku. Jadilah ....seperti bunga liar itu. Hidup adalah pilihan, dan alangkah indahnya kalau pilihan Allah adalah pilihan kita.″

″Aku mau, aku janji Latif. Tapi.....bantu aku ya ?.″

″Mungkin aku tidak bisa.″

″Kenapa ?. Kenapa Latif ?, jangan pernah putus asa terhadap rahmad Allah. Kamu akan sembuh, insya Allah. Kita akan belajar bersama-sama.″

Latifah mengangguk dengan senyum getir.

***

EPILOG

Dua hari kemudian Latifah pulang ke rahmatullah, setelah berjuang menahan lukanya yang terlalu parah. Kematian yang diperkirakan dokter lima bulan lagi ternyata datang lebih cepat. Ia tidak dapat memenuhi janjinya pada Mamat tetapi ia sudah meninggalkan banyak pelajaran berharga baginya untuk menjadi bunga liar.

″Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah....(Qs. Ali Imron: 110)″


KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.