HEADLINE DONGENG

[Dongeng] Kepompong Emas

30 Aug 2016 | 05:17 Diperbarui : 30 Aug 2016 | 15:21 Dibaca : Komentar : Nilai :
https://www.google.co.id/search?q=peri+kupu-kupu&espv=2&biw=1242&bih=606&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi64eWv_-fOAhXLRI8KHaacCPYQ_AUIBigB#imgrc=X52L-D8eo4NJ-M%3A

Tersebutlah seorang saudagar kaya-raya dan tersohor di suatu negeri. Saudagar itu memiliki tempat tinggal dengan paviliun megah layaknya istana seorang kaisar. Paviliun itu dikelilingi taman bunga yang sangat luas. Di halamannya juga terdapat sebuah danau yang dipenuhi dengan bunga teratai berwarna merah muda. Bunga-bunga itu yang selalu merekah di malam purnama merupakan hiasan yang sangat dicintai istrinya.

Istrinya sangat cantik. Banyak orang bilang kecantikannya menyerupai seorang bidadari. Tidak hanya cantik, ia juga penuh welas asih laksana seorang dewi yang turun dari kayangan. Sikap dermawannya menggugah sang saudagar untuk terus berbuat baik - tolong-menolong pada sesama. Mereka keluarga kaya yang rendah hati. Mereka juga telah dikaruniai seorang putra yang tampan. Usianya baru sepuluh tahun.

Kekayaannya yang melimpah hasil dari kerja kerasnya selama ini. Ia menjual sutra dan tembikar bernilai seni tinggi. Tidak hanya disukai di negerinya saja. Terutama sutranya yang berkualitas bahkan diminati hingga ke negeri-negeri nun jauh di sana. Membuat namanya tidak hanya dikenal oleh para bangsawan melainkan juga di kalangan pejabat negeri sampai kaisar dan permaisuri.

Pada awalnya sang saudagar hanyalah seorang nelayan miskin. Sehari-hari Ia mencari ikan di danau untuk menghidupi dirinya yang sebatang kara. Beberapa ia jual ke pasar sementara sisanya ia makan. Sebenarnya ia tidak pernah sedih apalagi mengeluh. Ia selalu bersyukur pada hidup yang telah diberikan penguasa jagad raya.

Hanya suatu ketika ia pernah berkata pada dirinya sendiri. Lelah menjaring ikan di antara bunga-bunga teratai, ia beristirahat sejenak di atas sampannya. Saat itu sore hari, di waktu itu ia paling suka memandangi istana kekaisaran yang nampak di kejauhan yang berada tepat di atas bukit. Suatu hari aku harus masuk ke dalam sana, batinnya. Hingga kemudian ia menemukan sebuah kepompong emas yang mengubah jalan hidupnya.

***

Suatu hari sang saudagar diundang ke istana oleh kaisar. Sebentar lagi Permaisuri akan berulang tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya istana kekaisaran akan mengadakan pesta perayaan yang sangat meriah. Bukan hanya itu kali ini perayaan akan terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan kemenangan kekaisaran dalam melawan negeri paling kuat di timur. Sehingga pesta akan dihadiri oleh para kaisar dan permaisuri dari negeri sekutu di seluruh penjuru dunia. Undangan pun telah disebar.

Kaisar meminta sang saudagar untuk mencarikan sutra-sutra terbaik bagi permaisuri, selir, dan para pejabat kekaisaran. Mereka harus mengenakan pakaian terbaik, yang paling indah yang tersedia di muka bumi.

Mendapat tugas dan kepercayaan tersebut, sang saudagar sangat bahagia dan merasa terhormat. Diminta untuk melayani sebuah perayaan kekaisaran adalah impian dari setiap saudagar. Terlebih untuk sebuah perayaan ulang tahun Permaisuri yang begitu dihormati dan dirayakan bahkan hingga ke negeri-negeri sekutu. Ia kini kian gemilang di banding saudagar-saudagar lainnya di negeri tempatnya hidup.

Sepulangnya dari istana, ia lantas menceritakan kabar gembira tersebut kepada istrinya. Kemudian mereka segera menyiapkan sutra-sutra terbaik yang pernah mereka miliki. Sutra-sutra itu yang keindahannya tiada banding, tidak pernah sekalipun mereka perlihatkan pada orang-orang bahkan kepada permaisuri sekalipun. Ia memang telah jauh-jauh mempersiapkannya untuk hari besar yang selalu menjadi impiannya selama ini. 

Bukan hal yang sulit baginya untuk memenuhi permintaan istana tersebut. Bahkan jika ia harus melayani sepuluh perayaan kekaisaran sekalipun, sutra-sutra istimewanya masih cukup tersedia. Sungguh ia memang seorang saudagar yang teramat mashyur. 

***

Hingga satu bulan sebelum hari perayaan. Sang saudagar datang ke istana membawa seluruh sutra terbaiknya. Kemudian menghadapkannya kepada Kaisar dan Permaisuri. Alangkah terkejutnya mereka yang melihat. Begitu takjub akan keindahan kain-kain tersebut. Bahkan kemegahan istana dengan kilauan jamrud dan permata sekalipun, redup oleh kecantikannya. Kain itu nyatanya bukan hanya indah, tapi juga memancarkan cahaya aurora yang menghipnotis setiap mata yang memandang. Tidak laki-laki tidak juga perempuan.  

Suara decak kagum terdengar di sana-sini. Para selir tak mampu menahan hasrat mereka untuk segera mengenakannya. Para pejabat juga tak henti-hentinya berhitung, mengira-ngira harganya yang selangit. Namun sayang sekali, sebelum mereka bisa menyentuhnya, Permaisuri yang harus memilih lebih dulu; sutra terbaik dari yang paling baik.

Namun alangkah kagetnya para hadirin yang berada di ruang istana, terutama sang saudagar yang sedang berbahagia itu. Saat mereka melihat Permaisuri berdiri dan berkata:

“Apakah kau yakin sutra-sutra ini yang terbaik dari yang kau miliki?!”

“Benar baginda, sutra-sutra ini merupakan yang paling baik,” sahutnya penuh ampun

“Beraninya kau berbohong padaku!”

“Mohon ampun baginda...! Hamba tidak berbohong...!

Tubuh saudagar itu telah sepenuhnya bersujud. Ia tiba-tiba ketakutan setengah mati. Seisi ruangan pun mendadak hening. Para selir, pejabat serta petugas istana lainnya turut menunduk, takut menghadapi kemarahan sang Permaisuri.     

Kemudian Permaisuri minta dipanggilkan seseorang untuk menghadap. Tak berapa lama sesosok laki-laki melangkah dengan tubuh setengah membungkuk penuh hormat. Laki-laki itu tak lain adalah salah seorang dari saudagar yang merupakan sahabatnya sendiri.

“Apakah benar semua yang dikatakannya?! Bahwa sutra-sutra ini adalah yang terbaik?!” tanya Permaisuri

“Tidak baginda, kain-kain ini bukanlah yang terbaik!” jawabnya penuh keyakinan. Diam-diam ia melirik sang saudagar yang masih juga menyembah. Ia tersenyum. Ada keburukan dalam senyumnya itu.

Mendengar jawaban laki-laki itu, sang Kaisar menjadi murka.

“Beraninya ia berbohong di hadapanku!! Takkan kuampuni ia dan keluarganya!!”

“Ampun baginda... ampunilah hamba dan keluarga hamba...!”

“lalu di mana sutra terbaik itu kau simpan?!”

“Ampun baginda... hamba tidak tahu, inilah sutra terbaik yang hamba punya.”

“Itu tidak benar, Baginda!” laki-laki itu kembali bicara. Sebelum Kaisar kembali bertanya ia telah lebih dulu melanjutkan. “Sutra terbaik ada pada istrinya.”

“Tangkap istrinya dan bawa sutra terbaik itu ke hadapanku!” 

***

Saat itu hari menjelang sore. Matahari hampir tenggelam di balik ranting sakura yang tengah bermekaran. Bunga-bunga teratai merekah dengan indahnya. Sepasukan tentara istana terlihat mendekati paviliun utama. Di sana seorang wanita cantik bergaun putih sedang duduk memintal benang sutra. Gerak tangannya begitu gemulai, lebih lembut dari hembusan angin yang bermain-main dengan ujung rambutnya yang panjang.

Sesampainya tentara itu di halaman, ia tetap bergeming. Seolah tak ada siapa pun yang datang. Sepasukan tentara istana itu masuk dan mengepungnya di atas kursi yang terbuat dari kayu pinus.

“Atas perintah kaisar, Nyonya saya tangkap.”

“Di mana suamiku?!”

“Nyonya diminta menyerahkan sutra terbaik itu kepada Permaisuri!”

“Sutra terbaik? Aku tak mengerti.”

“Sudah jangan banyak bicara!”

Kemudian sepasukan istana itu pergi bersama tawanannya menerabas gelap yang baru saja hadir menyelimuti pelataran paviliun. Bunga-bunga teratai kian merekah seiring jatuhnya sinar purnama. Kemudian sesampainya di istana wanita itu langsung dihadapkan pada Kaisar dan Permaisuri. Di sana sang saudagar masih merengkuh di atas lantai. Wanita itu diminta berlutut oleh pasukan istana. Ia menurut.

“Berikan sutra terbaik itu atau kepala kalian kupenggal!”

“Hamba tak mengerti maksud baginda Permaisuri.”

“Aku melihatmu memakainya ketika malam di mana bunga-bunga teratai itu bermekaran,” lelaki itu dengan lancangnya memotong. Sebelum ia melanjutkan Kaisar telah lebih dahulu berujar.

“Serahkan sutra itu!”

Wanita itu tetap diam tanpa kata. Tak berapa lama akhirnya kaisar kehilangan kesabarannya.

“Penggal mereka!”  

“Tungguuu...!” wanita itu perlahan berdiri.

“Aku akan memberikannya. Tapi baginda harus berjanji untuk membebaskan suamiku.”

“Jangan istriku...! jangan kauberikan!”

“Tentu saja, bukan hanya suamimu, kau dan anakmu akan turut kuampuni.”

Wanita itu mendekati suaminya. Diberikannya setangkai teratai emas yang selalu ia sematkan di atas kepala layaknya mahkota. Lalu ia berbisik.

“Jagalah anak kita, kelak ia akan menjadi seorang kaisar.”

“jangan tinggalkan aku! Kumohon!”

"Terima kasih karena dulu kau telah menyelamatkanku.”

Wanita itu kembali bangkit dan berdiri menghadap Kaisar.

“Baiklah, Baginda.”

***

Seketika cahaya terang memancar dari balik gaun wanita itu. Ruang istana terasa seperti berputar. Benda-benda dalam istana pun mengabur. Tak terkecuali kandil-kandil perak berukuran raksasa yang menggantung di langit-langit serta singgasana Kaisar dan Permaisuri.

Kain-kain sutra itu beterbangan mengelilingi tubuhnya yang kini melayang. Tak berapa lama berubah menjadi ribuan kelopak bunga teratai yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Lalu seakan telah waktunya, sebuah ledakan cahaya besar hampir membuat semua orang di ruangan itu jatuh pingsan.

Wanita itu berubah menjadi dewi kupu-kupu dengan sayap yang sangat cantik. Tak pernah ada yang melihat dewi dengan sayap seindah itu. Pesonanya berasal dari taman surgaloka. Dewi itu seperti sedang tertidur di udara. Melayang dengan cahaya keemasan. Sayapnya membentang hampir menutupi sebagian langit-langit istana.

Tak berapa lama dewi kupu-kupu itu pun lenyap. Cahaya keemasan itu pun hilang. Meninggalkan sepasang sayapnya yang telah menjelma menjadi sehelai kain sutra yang paling indah di dunia.

“Iiii.. iiittuu... sutra yang hamba maksud, Baginda.”

Sang Permaisuri menghampiri dan mengambil sutra yang tergeletak di lantai. Mulutnya terbuka tanpa kata, terpesona. Matanya terhipnotis dengan keindahan kain yang tak ada bandingannya itu. Suasana begitu hening, semua perhatian tertuju pada sehelai kain bidadari. Hanya isak sang saudagar yang terdengar begitu mengiba menangisi kepergian istrinya.

Menyadari hal tersebut tiba-tiba sang Permaisuri berhenti melangkah kemudian menoleh ke arahnya.

“Penggal kepalanya!”

“Tidakkkkk!”

Sang saudagar berteriak sambil meronta-ronta melepaskan diri dari pengawalan pasukan istana. Ia minta untuk dibebaskan sesuai janji Kaisar dan Permaisuri. Sementara itu ketika ia berjuang melawan. Tiba-tiba teratai emas di genggamannya mengeluarkan cahaya. Membuat sutra yang berada di tangan Permaisuri terbang mengitari langit-langit istana. Terburai menjadi benang-benang sutra yang tak terhingga jumlahnya.

Dengan cepat benang-benang itu menyerang melilit setiap manusia yang ada di dalam ruang istana. Secepat kilat mereka menjadi puluhan bahkan ratusan kepompong. Tak terkecuali Kaisar dan Permaisuri. Bahkan seluruh prajurit kekaisaran tak ada yang luput dari serangan itu. Termasuk bangunan istana yang begitu megah luluh lantah oleh serangan benang-benang sutra yang begitu dahsyat.

Di antara reruntuhan bangunan istana yang telah porak-poranda. Terdapat sebuah kepompong emas yang tengah berdiri utuh. Terdapat sebuah mahkota bunga teratai yang juga terbuat dari emas di atasnya. Tidak seperti kepompong lainnya yang akan hancur, kepompong emas itu pada saatnya nanti akan terbuka oleh orang yang dikehendakinya. Membangkitkan penghuni di dalamnya yang kini telah tertidur abadi. 

---o0o---

Depok, 30 Agustus 2016

Andri Sipil

/andrisipildepok

VERIFIED

a Civil Engineer
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.