HEADLINE NOVEL

Bagian-bagian yang Kita Sederhanakan

28 Apr 2016 | 17:08 Diperbarui : 02 May 2016 | 01:03 Dibaca : Komentar : Nilai :
Sumber ilustrasi : pulpn.com

Setelah acara makan siang yang tidak pernah kami rencanakan. Aku tidur siang sebentar di bawah pohon kelapa yang tak jauh dari area sungai. Kemarin malam hari yang melelahkan. Tidur di atas pohon mengharuskan sebagian lain dari kesadaranmu untuk tetap terjaga atau kau akan terjatuh jika tak waspada. Mungkin ini menjelaskan mengapa Sloth, monyet pemalas yang memiliki tiga jari dan hidup di atas pohon, menghabiskan sebagian besar waktunya sekitar 15 jam sampai 20 jam untuk tidur. Dan itulah sebabnya aku kembali tidur. Aku tak tahu apa yang dilakukan Bumi ketika aku tidur.

Hanya sebentar, sebelum akhirnya manusia bertubuh gempal itu membangunkanku. Bumi membangunkanku dengan cara yang, entah dari mana ia mendapatkannya, mengisi celana dalamku dengan seekor belut kecil—yang kupikir adalah seekor ular.

Binatang melata yang hobi makan sambil tiduran itu ada di dalam celanaku. Aku dapat merasakannya, meskipun aku tak benar-benar yakin dapat merasakan kehadirannya. Di dalam celana dalamku ia menggeliatkan tubuh licinnya itu dengan heboh, seolah ia baru saja menemukan tempat yang lembab dan cocok untuk bercinta—jika ia adalah seekor belut betina genit dan berpikir bahwa penisku yang tertidur dan terkulai adalah seekor belut pejantan yang gagah. Ia tak sepenuhnya salah! Belut milikku memanglah gagah, namun ia sedang tidak ingin bercinta karena ia sedang tidur siang.

Maka aku berusaha merontokkan belut sialan itu setelah menyadari keberadaannya sungguh menganggu tidur siangku. Bumi yang duduk setia di bawah pohon kelapa, menunggu reaksiku terbangun dari tidur, terpingkal-pingkal di ujung sana.

Aku terus bersijingkat ke sana ke mari, melompat, seperti kijang yang ekornya terbakar api dalam usaha kerasku membuka celana. Berhasil! Binatang melata yang kukira ular itu keluar dari dalam celanaku, yang kujatuhkan ke tepi sungai. Belut itu melata menuju permukaan sungai dan melata lagi dan menceburkan dirinya sendiri ke dasar sungai—mungkin ia merasa sangat kecewa karena cinta murninya ditolak oleh penisku. Sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Binatang yang malang!

 Lelaki bertubuh gempal di depanku suka bercanda memang, tapi cara bercandanya keterlaluan. Aku tak bisa membayangkan, jika belut betina kecil tadi—aku yakin ia betina karena menurut buku yang pernah kubaca, semua belut ketika lahir adalah betina, saat setelah mereka dewasa dan lingkungan sekitar akan mempengaruhi jenis kelamin mereka—mengigit penisku alih-alih mencium penjantannya. Rasanya pasti sakit! Membayangkan hal itu aku merasa perlu marah kepada Bumi.

“Itu sama sekali tak lucu!” Kataku kesal.

Seperlu-perlunya aku marah, Bumi tahu aku tidak akan benar-benar bisa marah. Sebab kemarahan hanya akan membuatmu nampak seperti orang tolol. Satu-satunya alasan yang barangkali pantas membuatmu marah adalah dilahirkan. Tapi dengan siapa kau akan marah? Ibumu? Ayahmu? Nenek dan Kakekmu yang telah melahirkan ayah dan ibumu? Adam dan Hawa yang telah tergoda bujukan iblis? Atau kau ingin marah dengan iblis? Iblis pun diciptakan oleh Tuhan? Jadi dalam kasus ini kau ingin marah dengan Tuhan?

Sebagian orang percaya adanya Tuhan dengan segala kekuasaan, yang dengan kekuasaan-Nya Ia dapat berkehendak bebas sesuai ingin-Nya. Sementara Ia besar sekali dan kau hanya mahluk kecil murung tak berdaya, seperti nyamuk, kukira. Dan sewaktu-waktu Ia murka, kau bisa saja ditepuk dan kau berdarah-darah dan kau... mati. Jangan tolol! Aku belum ingin mati.

Namun sebagian orang lainnya percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Jadi kau ingin marah pada Sesuatu yang tidak ada? Kuulangi... Jangan tolol!    

Bumi dengan langkahnya yang shaleh mengambil celanaku yang tergeletak di tepi sungai dan melemparkannya ke arahku. Aku menangkapnya.

“Kau keasyikan bermimpi, sih!”

Aku memang sempat bermimpi.  Tapi, “Sejak kapan orang melarang bermimpi?”

Aku membalikan badan dan mengenakan celana dalamku kembali. Aku tidak ingin terlihat telanjang di depan seseorang yang bukan kucintai. Sambil memasukkan kaki ke dalam lubang celana, tiba-tiba bayangan tentang belut betina itu melintas lagi di kepalaku. Buru-buru aku menghapusnya dan berusaha membayangkan hal lain, yang mungkin lebih menyenangkan; seperti bagaimana dulu ketika kita begitu kecil belajar cara memakai celana dengan benar. Seluruh ibu di dunia tentu mengajari anak mereka untuk mendahulukan kaki kanan lebih dulu ketimbang kaki kiri mereka.

 Namun hal-hal menyenangkan semacam itu mendadak berubah ketika kita dewasa. Kita menjadi begitu terburu-buru melawanwaktu; pergi ke kantor karena kesiangan, pacar yang tiba-tiba ingin dijemput, atau mungkin berlari dari maut, sehingga kita mudah melupakan prosedur mengenakan celana yang dulu telah diajarkan ibu, hanya karena seolah ada sebuah perang besar yang menuntut untuk kita dimenangkan. Tapi pada kenyataannya, secara sadar dan tidak sadar kita telah mengakui kekalahan kita sendiri melawan waktu. Dipecat, diputuskan pacar dan mati.

Bumi tertawa melihat celana dalamku bergambar Bathman.Kukatakan padanya, ini bukan gambar Bathman, tapi memang bolong. Cuaca yang tiba-tiba berubahlah penyebabnya. Aku hidup sendirian, sering ketiduran dan tetangga-tetangga dekat yang tiba-tiba tidak ramah dan tetangga-tetangga jauh yang, sama sekali tidak ramah; tidak sudi membantu mengangkatkan jemuran atau sekedar berhenti menggunduli bumi.   

Bumi masih terkikik di balik punggungku, sementara aku mengenakan celana luarku.

Pilihan kanan dulu atau kaki yang lain bukan lagi masalah besar. Kau hanya perlu mengincar lubang celanamu, memastikan arah kiblat celana supaya tidak terbalik, kemudian arahkan kakimu ke dalam lubang itu sambil menjaga diri agar tetap seimbang. Dan taram! Berhasil. Kau memang harus berhasil, jika ibumu tidak ingin menganggap anaknya idiot.

Tapi tunggu, kurasa Bumi tidak sedang menertawakan penampilan celana dalamku. Itu telah usai. Aku menatapnya curiga. Oh, ya ampun... ia menaruh seekor belut lagi di saku celana kiriku. Sialan!

Aku melepasakan celanaku lagi—untuk kedua kali.

Yang membedakan orang satu dengan orang lainnya adalah, menurutku, cara menendang bokong mereka. Dan cara paling mudah menyamakan orang satu dengan orang lainnya (masih menurutku) adalah mereka sama-sama tak bisa menendang bokong sendiri.

Aku tidak memiliki pengalaman yang cukup menyenangkan menendang bokong seseorang—kecuali di alam mimpi yang baru saja kualami. Tapi kali ini aku benar-benar ingin menendang bokong seseorang.   

Masih mengenakan celana dalam, aku menghampiri Bumi, menarik napas dalam-dalam seakan berusaha mengumpulkan seluruh energi yang tersisa di galaxy, sambil mengayunkan kaki kanan dan watta! Seseorang di depanku tersungkur. Bumi mengelus-elus bokongnya dan dalam keadaan masih tertawa—mungkin kali ini karena melihat gambar Bathman.   

“Ayo pulang!” katanya setelah bangkit dan menengok jam di pergelangan tangannya.

Bumi berjalan di depanku sementara aku mengekor di belakangnya. Kita berjalan cukup jauh dan belum menemukan tanda-tanda bahwa kita tidak tersesat. Aku belum pernah ke sini sebelumnya.

“Aku khawatir kita tersesat! Bagaimana menurutmu?”

“Tenanglah. Aku pernah ke sini sebelumnya bersama kakekku.”  

 “Kakekmu lagi?”

“Apa maksudmu? Nadamu terdengar seperti orang panik!”

“Aku tidak panik. Aku hanya gugup ketika kau melibatkan kakekmu dalam petualang liar kita. Jadi kapan terakhir kali kalian ke sini?”

“Saat aku berusia anak 6 SD.”

Kami terus berjalan; menyibak angin, melewati semak-semak perdu dan batang-batang tebu, pikirku berlagak seperti seorang penyair. Kami tiba di depan sungai lagi. Begitu banyak sungai di sini, tapi sungai ini benar-benar berisik. Arusnya sangat deras, sampai kupikir tidak ada buaya atau beruang besar yang tinggal di tempat ini. 

“Jadi apa yang kau lakukan dengan kakekmu saat kalian tersesat?”

“Kami tidak tersesat,” kata Bumi sambil memandangi arus sungai. Jarak dari tepi kami berdiri sampai tepi lain sekitar 11 meter, mungkin 15. Aku tak yakin.  

 “Kami berlari dari seekor Leopard. Aku tahu, ketika itu kami dalam masalah besar. Tubuh kakek yang kekar menggendongku dan kami melewati sungai ini.”

“Mengapa mereka ingin membunuh kalian?”

“Karena mereka berlaku curang!”

“Ya?” Kataku sambil mengernyit. Kadang-kadang apa hubungannya pihak yang telah dicurangi dan harus dibunuh?

Bumi mematahkan ranting pohon yang tumbuh di sekitar sungai.

“Kami memanah rusa sore itu,” katanya sambil memainkan ranting dan menganalogikannya seperti sebuah panah, “dan setelah binatang yang memilki tanduk bercabang itu terkapar, kami beranjak dari atas pohon, mendatanginya. Namun kami terhenti ketika menyadari bahwa seekor leopard kecil berusaha mencuri buruan kami. Kakek dan aku kesal, lalu dari atas pohon kami memanah Leopard itu sampai mati. Bahkan jika hal itu tidak mengakhiri hidupnya seluruh anak panah kami akan terus menembus tubuh leopard jalang itu sampai habis.

“Kami turun dari pohon dengan penuh kemenangan, tentu saja. Namun itu tidak bertahan lama, sebab pertarungan sesungguhnya baru dimulai. Dan kau tahu, seekor leopard dewasa tiba-tiba saja melintas dan, yah,.... Leopard pemanjat yang handal, ia dapat berlari dengan kecepatan rata-rata 100 km per jam dan dapat berenang. Beruntung binatang karnivora sialan itu, kupikir, tidak suka seragam tutulnya basah.”  

Di tepi sungai, aku mengamati dua ekor kepiting keras kepala berwarna hijau lumut yang telihat sibuk sekali berebut makanan—bangkai ikan. Ukuran tubuh mereka sama-sama besar dan sama-sama serakah dan mereka tolol. Mengapa tidak saling berbagi saja? Itu lebih adil, menurutku. Tapi salah satu mereka ingin memiliki semuanya. Aku mendatangi dua ekor kepiting itu dan membelah bangkai ikan menjadi dua bagian. Aku kembali menepi, dan mereka tetap berebut makanan kembali. Arrgh...

“Hai... kau mendengarku?” Aku tersentak. Nada bicara Bumi tiba-tiba menyadarkanku bahwa aku sama sekali bukan wasit yang adil bagi kaum kepiting.   

“Baiklah,” kataku, “ sekarang..., kau lihat!”

“Lihat apa?”

“Tidak ada Leopard di sini. Dan juga kakekmu sebagai tumpangan. Kita harus putar balik, mencari jalan pulang yang lebih aman.”

“Tidak. Kita harus melewati sungainya.”

“Mengapa aku ingin menyerahkan nyawaku pada sungai itu?” Aku menunjuk arus deras di tengah-tengah sungai.

 Bumi terdiam. Aku merebut ranting pohon yang ia pegang.

“Lebih baik aku berkelahi dengan seekor kucing besar sekali pun, dari pada melewati sungai yang aku sendiri tidak tahu bahaya apa yang sedang menunggu. Tapi sekarang tidak ada seekor kucing pun, kau tahu?”

Aku menjelasakan pada Bumi sambil meniru gayanya, menganalogikan ranting kayu tapi sebagai lembing. Kurasa, manusia purba di dalam tubuhku tidak keberatan jika aku bertarung dengan seekor kucing besar, meskipun tidak ada kucing paling kecil pun yang bisa kuajak berkelahi.  

“Jangan becanda! Sekarang aku benar-benar khawatir pada kita,” ungkap Bumi. Nadanya merendah. Sepertinya ia benar-benar serius. “Masalahnya, aku tidak tahu jalan selain sungai ini. Dan sepertinya sungai ini tidak berhulu dan berhilir. Kita akan tetap melewati sungai ini. Jika kita kembali dari mana yang kita mulai, akan menempuh waktu sekitar 4 jam lebih jika jalan kaki, kau tahu?”

“Aku tidak tahu!” Aku menyesal mengetahui fakta itu.  

Bumi melirik pergelangan tangannya. Hampir magrib. Sementara dua ekor kepiting keras kepala itu, masih sibuk berkelahi. Satu sama lain mengarahkan kedua capitnya ke udara untuk lawan mereka sebagai ancaman. Namun jika diamati lebih seksama, mereka lebih terlihat seperti bermain suit. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, sebab tangan mereka sama-sama mengeluarkan gunting. Tak ada kertas maupun batu. Hanya ada gunting. Aku mengamatinya, sungguh membosankan.

Dengan penuh pertimbangan akhirnya kami sepakat melewati sungai. Jika benar ini adalah salah satu jalan menuju Roma, seperti kata pepatah, kurasa ini bukanlah jalan yang menyenangkan. Sungai ini tidak terlalu dalam tapi arusnya cukup menghanyutkan seekor bayi tirex sekali pun. Bumi yang bertubuh besar dan lebih besar dari bayi tirex, tak goyah diterpa arus namun ia tetap harus berhati-hati. Lelaki di depanku berjalan sangat pelan sementara aku mengikutinya dari belakang seperti seekor ikan sepat. Ia memegang erat ranting kayu yang ujungnnya kupegang. Tak lama kemudian kami telah sampai di tepi sungai.

Tubuh kami basah kuyup.  Tapi yang muncul bukan matahari melainkan bulan yang malu-malu ingin timbul.

“Tidak seperti bayanganmu, kan?” Kata Bumi sambil melemparkan ranting kayu ke sungai. Dan ranting itu hanyut seperti ular.

Aku memandang ke tepi sungai lain. Di sana, dua ekor kepiting yang tolol terus bermain suit. Arrggh....

***

Setelah perjalanan yang melelahkan, kami sampai di ujung gang persimpangan kampung kami. Rumah Bumi bertolak belakang dengan rumahku. Kami berpisah. Sebelumnya Bumi berkata,

“Dini hari nanti Mancherter United lawan Liverpool di Old Trafford. Kau mau bertaruh?”

Aku tidak menanggapi cara perpisahannya itu. Kukatakan padanya, aku terlalu lelah untuk memikirkan siapa yang akan menang maupun kalah. Tapi ia terlalu berhasrat meremehkan tim kesayangan ibu. Sialan! Aku menendang bokong lemaknya sekali lagi. Bumi tertawa. 

Aku buru-buru berjalan pulang karena kedinginan. Di langit bulan telah merias dirinya dengan penuh cahaya, sehingga ia merasa tidak perlu malu muncul di hadapan manusia. Aku memujinya cantik. Ia terlihat tersenyum.

Sambil berjalan pulang dan di bawah senyum bulan aku memikirkan mimpi siang tadi yang baru saja kualami. Ya ampun, aku benar-benar rindu ibu.

Andi Wi

/andiwi

TRUSTED

_____Hei... Perkenalkan. Saya perangkat model lama yang selalu dalam tahap perbaikan agar enggak mudah chaos. Penulis buku: Ritual Lima Menit. Yep, kamu bisa mendapatkannya melalui langsung ke penerbit. Kirim saja keperluanmu ke: jentera.pustaka@gmail.com atau sms ke: 0852 1212 1329. Nanti biar saya balas kalau ada gratisan_____ Kunjungi: ommoco.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.