PUISI

25 Catatan Kecil di Umur Saya yang Ke-25

21 Apr 2017 | 22:40 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 23:54 Dibaca : Komentar : Nilai :
leilyshafira.files.wordpress.com

25 Catatan Kecil Di Umur Saya yang Ke 25

1. Di umur dua puluh lima, jadi saya suka menanyakan ke-Esa-an Tuhan. Apa saya sebetulnya menyembah Tuhan yang tepat. Di dunia ini ada banyak sekali Tuhan. Dari yang dengan huruf 't' kecil sampai huruf 'T' yang besar. Dan bagaimana kalau selama ini, sebenarnya saya menyembah tuhan yang salah. Bukankah itu artinya saya membikin Tuhan yang lain bertambah marah? 

2. Pertanyaan itu muncul begitu saja seperti dorongan ingin makan. Padahal saya jarang makan. 

3. Di umur saya yang ke-25, saya mengira sudah kehilangan sisi romantis. Suatu kali, teman saya, R, mengajak saya makan gado-gado. Selesai makan, dia suruh saya yang bayar. Saya menolak. Lantas dia berkata -sebetulnya lebih terdengar mendesis: "Ah. Sekarang kemana perginya sisi keromantisanmu yang dulu!" Lalu dia menggeliat seperti ular kadut.

3. Saya jarang mandi. 

4. Itu tidak benar. Tapi terkadang, saya menghabiskan waktu lebih lama di toilet. 

5. Sebenarnya saya punya banyak urusan, tapi saya ini penunda yang baik. 

6. Di usia saya yang mencapai seperempat abad ini, saya pernah memikirkan, hidup di lereng gunung, bersahabat dengan pohon dan beternak burung soang. 

7. Ingin sekali bisa bergabung dengan suku Indian, agar saya belajar ilmu, cara meniup daun (bukan daun muda) yang menyayat-nyayat. Agar bisa membangkitkan kembali roh-roh halus. 

8. Tapi, saya ini penakut. Jadi saya belajar meniup harmonika saja. Agar bisa menggaet daun muda. Raisa dan sejenisnya #apaseh

9. (a) Saya ingin bangun dari mimpi. (b) Saya suka dibuat heran dengan diri saya sendiri. Apa sih yang saya lakukan hingga, saya tidur dan bangun masih mengenakan helm. 

10. Astaga. Kenapa saya curiga sama jam dinding kamar saya, kalau dia selama ini, jangan-jangan, dia itu adalah agen mata-mata yang diutus Tuhan untuk memata-matai waktu saya.

11. Diumur yang kedua puluh lima, berpikir, menguping lebih bijak ketimbang tidak mendengarkan sama sekali. 

12. Sedikit banyak, saya memanfaatkan ketramplinan ekslusif saya, yakni: kentut. Dengan berusaha mengecilkan suaranya. 

13. Ragu-ragu, saya yakinkan diri saya bahwa lagu Juragan Empang, enak juga. 

14. Sudah saatnya serius. Saya ingin sekali serius. Seperti orang-orang. Lahir-Menanti-Dewasa-Menikah-dan Mati. 

15. Satu buku sebelum mati, sudah saya tunaikan dengan baik. Sudah terpenuhi. Masalahnya saya justru merasa saya lebih banyak mengosongkan yang perlu diisi. 

16. Di umur saya yang kedua puluh empat ditambah satu, ternyata hasilnya dua puluh lima. Saya kaget. Cepet amat. 

17. Dulu, ketika umur saya tujuh belas tahun, saya ingat saya hapal Pancasila. Tapi kini saya merasa saya ingin menambahkan satu biji lagi, yang berbunyi: Masyarakat bermartabat wajib mengayomi, melindungi, memfasilitasi jomblo-jomblo uzur ketika mereka terjun ke jalan guna mencari pasangan tanpa turut ikut campur tangan, campur mulut misalnya bertanya kapan mereka menikah.

18. Sama pentingnya memahami diri sendiri. Kadang, saya, di umur saya yang kedua puluh lima, suka usul sama Bapak saya: Pak, saya usul, bagaimana kalau saya dikutuk saja jadi Andi Lau. Meski sama-sama Andi. Tapi saya mungkin lebih nyaman jadi Jonru. *Bapak saya bingung. 

19. Saya juga suka sekali bingung. Kita ini terbuat dari apa ya? Bersama seorang anak kita mau kemana? 

20. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang tak bisa saya jawab. Tapi diumur saya yang kedua puluh lima, saya punya jawaban yang tak pernah ditanyakan. Olehmu. Misalnya: Apa kau mencintaiku? 

21. Saya yakin tidak. Tidak hari ini, tidak sekarang, tidak juga besok. Namun, saatnya itu tiba saya pasti berhasil mengumpulkan ke tujuh bola naga. 

22. Saya akan meminta. Saya tidak akan meminta. Dua kata-kata itu, atau kalimat itu, sudah sering digunakan. Justru saya ingin memberi, diumur saya yang kedua puluh lima, rupanya saya jarang memberi kebahagiaan kepada orang tua. 

23. Kini, cita-cita menjadi tidak begitu penting. Kecuali Ibu dan Ayah saya tidak terpelanting karena saya sering merepotkannya. 

24. Apa pun yang mendasari hari ini terjadi. Saya ingin percaya, ada, bukan semata eksistensialisme saya ada, namun material-material yang membangun saya hingga menjadi saya yang hari ini, tak lain karena sebuah 'tujuan'.

25. Saya suka kata 'tujuan'. Terdengar tegar dan enak di kuping. Apalagi jika kata itu keluar dari kepala saya, lalu berubah bunyinya menjadi: Kamu (Tujuan Saya) #hapaseh..

Sudah. Jadi Selamat Ulang Tahun Saya!

Buat teman-teman yang sudah dan belum dan akan mengucapkan terimakasih ya. 

(*) Catatan Buat Admin Kompasiana: Kadang-kadang, saya merasa saya alay. Saya tahu betul. Tapi saya merasa Kompasiana adalah rumah kedua saya. Saya menulis catatan ini dengan anggapan penting bagi peradaban kepenulisan saya. Awas  aja kalau dihapus. Saya bakal ngambek! 

Satu hal lagi. Tolong jangan highlight ya, Min. Memalukkan. Biar aja catatan ini ada, dan ada. 

Terimakasih Admin yang baik hati. 

Andi Wi

/andiwi

TERVERIFIKASI

_____Hei... Perkenalkan. Saya perangkat model lama yang selalu dalam tahap perbaikan agar enggak mudah chaos. Penulis buku: Ritual Lima Menit. Yep, kamu bisa mendapatkannya melalui langsung ke penerbit. Kirim saja keperluanmu ke: jentera.pustaka@gmail.com atau sms ke: 0852 1212 1329. Nanti biar saya balas kalau ada gratisan_____
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.