CERPEN

Cerpen | Kelam

20 Mar 2017 | 09:07 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 09:16 Dibaca : Komentar : Nilai :

Tampaknya langit sedang tidak bersahabat dengan mentari. Ia lebih memilih awan untuk menyelimuti wajahnya dan menutup rapat cahaya mentari. Siang ini gelap, segelap hidupku. Aku duduk termenung di samping nisan Ayah yang sudah rapuh dimakan rayap dan hanyut bersama kenangan yang kelam. Kusematkan setangkai mawar merah diatas nisannya, kuharap ayah menerimanya dengan senang hati. Daun-daun mulai jatuh dari tangkainya. Angin menyapu wajahku dengan rintik hujan yang semakin deras. Tubuh mungilku basah kuyup. Aku ingin menangis. Semua ini berawal dari wanita janda yang tak berhati itu.

Namaku Juni. Waktu itu, aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku adalah salah satu siswa teladan di sekolah. Aku selalu meraih prestasi di bidang akademik maupun non akademik. Ayah selalu membanggakanku kepada teman-teman pejabatnya, hingga mereka selalu memujiku. Ibu pun tidak mau kalah, ya lebih tepatnya almarhum ibuku. Ia selalu menceritakan segala prestasiku kepada teman-teman arisannya. Oh tidak, aku merindukan kebanggaan mereka terhadapku. Semua itu hilang setelah ibu meninggal karena mengidap penyakit tumor otak. Ibu pun tidak sempat melihatku lulus dengan nilai tertinggi di sekolah. Setelah itu, semua hilang, semua berubah tidak karuan.

Pagi itu, sinar mentari menembus celah-celah jendela kamarku, ditemani udara dingin yang seakan membawakan salam ibu dari surga. Kulihat jam sudah  menunjukkan tepat pukul 6.00.

 “Ya Tuhannn, matilah aku.” Segera ku raih handuk  dan mandi.

Setelah ibu meninggalkan aku dan ayah, kondisi rumah tak terkendali. Pekerjaan ayah tak terurus. Prestasi ku menurun drastis. Tapi, tak sedikitpun terlintas dipikiranku untuk mencari pengganti ibu. Namun, ayah berpikir sebaliknya. Ayah memperkenalkanku kepada teman kerjanya. Namanya Diana, dari penampilannya ia tidak memiliki sifat keibuan, malah seperti perempuan malam yang biasa menjual murah dirinya kepada laki-laki yang hanya ingin memuaskan nafsunya. Namun, aku percaya bahwa ayah tidak seburuk itu dan bisa jadi penilaian ku terhadap Diana salah. Akhirnya aku pun membuka hati untuk beralih ke kehidupan yang lebih baik, walaupun masih ada sedikit rasa tidak rela.

Ayah memutuskan untuk menikah dengan Diana ketika aku duduk di bangku SMP. Semua berjalan dengan baik, manis pada awalnya. Sejak itu aku mulai memanggilnya Ibu.

“Maafkan aku ibu, aku tidak bermaksud mengkhianati ibu.”

Pernikahan ternyata hanyalah formalitas, bukan janji suci yang benar-benar mengikat satu sama lain. Mulailah cek cok perang mulut, banting membanting semua barang, tidak ada yang mau mengalah. Semakin membesarkan suaranya, semakin banyak barang berterbangan. Apalah dayaku yang selalu mendengarkan semua itu.

Semua kacau. Perusahaan ayah bangkrut, saham ayah yang tersebar disemua perusahaan tiba-tiba menurun, dan ayah menjadi tersangka korupsi. Ibu semakin menjadi-jadi, semua barang melayang setiap ayah pulang. Satu kali ayah menjawab, seratus kali ibu bertanya. Lebih baik aku mati, daripada hidup tak dianggap.

 “Tuhaaaannn, aku ingin bertemu Ibu di surga!!!!”

Lari aku menuju kamar mandi, kubiarkan air shower membasahi tubuhku. Kugoreskan pisau tajam membelah pembuluh nadiku. Darah segar mengucur tak henti. Biarkan saja. Aku tidak peduli, aku hanya ingin bertemu ibu di surga. Walaupun ini adalah cara yang mustahil, tapi setidaknya aku tidak tersiksa dengan pertengkaran mereka yang seperti petir yang saling menyambar satu sama lain.

Braaakkk…brakkk…brakkk! Juniii, juniii keluar kamu dari kamar mandi!!” suara ayah mendobrak pintu kamar mandi.

“Juniii...buka pintunyaa!! Junnn…” ayah membuka pintu kamar mandi, menemuiku dalam keadaan pucat dan lemas tak berdaya dengan darah sudah mengucur dimana-mana. Malam itu aku dibawa ke rumah sakit. Tepat pukul 23.00 dokter memberitahukan kepada ayah bahwa aku membutuhkan donor darah dan jantung, karena ada salah satu pembuluh darah di jantung yang sudah tidak berfungsi sehingga akan memperlambat jantung saat memompa darah. Sempat terjadi perdebatan antara ayah dan ibu. Namun ayah bersikeras untuk mendonorkan jantungnya kepadaku.

“Mendonorkan jantungmu itu sama saja memberikan hidup mas!”

 “Dia adalah anakku, biarkan aku memberikan hidupku kepadanya, dan aku akan menyusul istriku di surga.”

“Istri yang mana! Aku istrimu mas!”

 “Kamu bukan istriku, kamu penghianat, aku menyesal telah menikah denganmu!”

 “Bangsattt! Dasar laki-laki murahan!”

 “Terserah kau mau bilang apa padaku, aku akan tetap memberikan hidupku kepada anakku.”

“Urusi saja anakmu yang tolol itu!”

 “Dasar janda tak tau diri.”

“Berani-beraninya kau mengatakan diriku seperti itu, mulai sekarang jangan pernah berharap aku akan menemuimu kembali. Aku tidak peduli dengan kematianmu nanti.”

“Aku juga tidak berharap semua itu.”

Dengan muka acuh tak acuh, ibu meninggalkan ayah. Entah seberapa hancur hati ayah mengalami semua ini.

Pukul 02.00 pagi aku menjalankan operasi, ayah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sampai disini dan menemui ibu. Sedangkan aku, tetap hidup dengan segala kesedihan dan ketika aku terbangun, kutemukan ayah sudah berbaring lemas dengan wajah pucat dan dingin.

“Ya Tuhaann, aku kehilangan semua orang yang kusayangi.”

Tiba-tiba aku teringat bahwa aku masih merasakan denyut jantung ayah didalam diriku.

Alfiana Dian Hapsari

/alfianadh


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.