CERPEN

Rumitnya Kehidupan

20 Mar 2017 | 20:15 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 21:08 Dibaca : Komentar : Nilai :

Brakkkk… suara pintu yang barusan aku tutup dengan sangat kerasnya. “Mengapa semua jadi begini… mengapa tidak ada yang mau mengerti aku” teriakku dengan kerasnya. Aku menghempaskan tubuhku ke kasurku dan menutup tubuh ku dengan selimut. Tidak terasa cairan bening itu mulai mengalir dari mataku. Hal ini terjadi karena kepalaku sudah pening untuk memikirkan semua masalah ini. Aku menangis karena tidak ada yang mau berpikir dewasa diantara kami. Yang ada hanya memikirkan siapa yang benar. Betapa malangnya nasibku ini.

Tidak terasa pagi sudah tiba, sinarnya mulai masuk dibalik sela-sela jendela kamarku. Kriiiing… begitulah suara jam wekerku berbunyi. Suara itu membangunkanku dari mimpi indahku dan membuat aku kembali ke dunia yang menurutku sangat buruk. Dengan langkah gontai aku berjalan mengambil handuk dan menuju cermin besar di kamarku. Aku melihat bayanganku sendiri betapa mengharukannya nasib gadis yang ada didepanku sekarang. Aku melihat mata pandaku, mataku sembab menggambarkan seorang yang rapuh. Melihat sosok dicermin itu aku hanya bisa tersenyum pahit. Setelah melihat diriku yang sangat miris ini dengan malas aku menuju kamar mandi. Dengan buru-buru aku menuju rak sepatu untukmengambil sepatu.

“Yesss…selesai” aku baru sajaselesai mengikat tali sepatuku. Aku lari menuruni anak tangga satu per satu. Lalu aku segera mengambil sepedaku di belakang rumah. Tanpa sarapan dan pamit kepada kedua orang tuaku aku pergi berangkat sekolah. Hal itu aku lakukan karena aku masih sangat sebal mengingat kejadian kemarin. Aku mulai mengkayuh sepedaku dengan lambat. Betapa bahagianya aku melihat burung-burung berterbangan di pagi hari. Ketika melewati sebuah rumah seseorang aku melihat anak kecil yang disuapi ibunya. “Hidup mereka sangat bahagia tidak seperti hidupku yang kelam ini” batinku.

Sambil mengayuh sepeda memori otakku kembali berputar pada kejadian malam kemarin, dimana menurutku adalah malam yang sangat menyedihkan bagiku. Rasanya aku ingin pergi dari dunia ini melepas semua beban hidupku betapa beruntungnya orang-orang diluar sana yang memiliki keluarga harmonis. Tidak terasa mata ini mulai basah aku tidak kuat menahan air mataku. Sungguh tidak terasa aku sudah sampai di sekolah. Aku mengahapus air mataku dengan tanganku dan menuju parkiran sepeda sekolah.

Dengan pelan dan lemas aku berjalan menuju kelas. Setelah memasuki kelas aku menuju bangkuku. Aku duduk dengan menelungkupkan kepalaku. Kepalaku sangat pening sekali. Teman-temanku melihatku dengan heran.

“Jesy, kamu gak kenapa-kenapa kan?” tanya Milla khawatir.

“Aku gak kenapa-kenapa kok” ucapku.

“Serius kamu gak kenapa-kenapa, kalo ada yang mau kamu ceritain ke aku aku siap kok dengerin ceritamu.”

“Iya sahabatku yang cerewet aku gak kenapa-kenapa” jawabku sambil tersenyum.

“Kamu habis nangis ya?” tebaknya.

“ Emmm… iya tapi tenang hanya masalah kecil, ayah dan ibuku.”

“Yang sabar ya Jes masih ada aku kok disisimu” seakan tau keadaanku dia menepuk nepuk bahuku.

Aku hanya bisa tersenyum meskipun senyuman itu palsu bagiku. Milla adalah sahabatku mulai SD hingga SMA. Dia sangat perhatian kepadaku malah melebihi perhatian yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Aku sangat menyayanginya dan dia juga menyayangiku.

Pelajaran pun dimulai. Namun aku sangat tidak fokus dengan pelajaran hari ini. Semua yang dijelaskan guruku didepan tidak bisa masuk ke dalam otakku. Aku melamun dan pikiranku tertuju pada peristiwa kemarin. Peristiwa dimana ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku terngiang-ngiang oleh perkataan ayah dan ibuku.

“Jesy,maafkan ayah ya nak, ayah harus melakukan ini demi kebaikan kita bersama” kata ayah sambil menunduk.

“Iya Jesy, betul kata ayahmu kamu harus bisa mengerti apa yang sudah terjadi saat ini” kata ibu.

“Tidak!!! aku tidak mau ini terjadi” aku menolak perkataan ayah ibuku.

Ada seseorang yang menepuk bahuku aku sangat kaget ternyata itu Bu Yheni. Beliau memperingatkanku agar tidak melamun. Milla yang tau bagaimana kondisiku sekarang menyuruhku untuk  membasuh mukaku. Aku menuruti apa yang Milla katakan. Aku meminta izin kepada  Bu Yheni untuk ke toilet.

Jam sekolah telah usai aku pulang bersama Milla. Ketika sampai di depan pintu rumahku. Aku sangat ragu-ragu untuk memasuki rumahku. Lagi-lagi suara itu terdengar kembali. Suara teriakan dan maki-makian keluar dari dalam rumahku. Apakah pantas seorang guru dan dokter berkata kasar seperti itu. Mereka sangat terpelajar tapi kenapa mereka tidak ada yang mau mengalah salah satu pun. Mereka memiliki ego yang sama-sama tinggi. Dulu aku bangga memiliki orang tua yang memiliki pekerjaan yang mapan tapi rasa bangga itu mulai pudar dari diriku. Mereka membuatku kecewa dan stres. Rasanya aku ingin lenyap dari dunia ini dalam sekejap saja.

Segera aku pergi ke kamarku tapi sebelum ke kamar aku melihat pintu kamar kakakku. Dimana di pintu kamar kakakku terdapat gantungan Doraemon. Dia salah satu penggemar Doremon. Aku sangat rindu ketika kakakku mulai  merengek untuk dibelikan boneka Doraemon. Kriukk…begitulah suara perutku aku sangat lapar. Aku baru ingat bahwa aku belum sarapan tadi pagi. Dengan cepat aku mengganti pakaianku dan menuju dapur. Aku sudah berada di dapur untuk memasak mie instan dan telur rebus. Tiba-tiba ayah dan ibuku menemuiku.

“Jesy keputusan ayah dan ibu sudah bulat kamu tidak boleh protes lagi” kata ibu.

“Terserah kalian aku sudah letih dengan semua ini” tuturku dengan lantang.

“Ini demi kebaikan kamu Jes” kata ayah.

“Cepatlah bercerai kalau itu yang kalian mau” ucapku sambil menangis.

Hatiku merasa disayat oleh ribuan pedang yang amat tajam. Kenapa mereka seperti anak kecil yang tak mau mengalah.

“Kalian memang tidak mengerti perasaanku yang ada dipikiran kalian hanya kakak. Kakak sudah meninggal satu tahun yang lalu. Kenapa kalian tidak bisa mengiklhaskan kakak di alam sana. Apa dengan perceraian bisa mengembalikan kakak kembali ke dunia ini” teriakku diiringi dengan isakan tangis.

“Bukan begitu Jesy dengarkan dulu” teriak ayah.

Aku segera berlari menuju kamarku. Ayah dan ibuku sangat kaget dengan apa yang barusan aku lakukan. Karena baru pertama kali aku berani berteriak kepada ayah dan ibuku. Kakaku memang selalu menjadi prioritas mereka. Kakak  selalu dinomor satukan oleh ayah dan ibu. Ayah dan ibuku selau membandingkanku dengan kakakku. Katanya aku ini sangat malas dan kakakku lah yang palin rajin bagi mereka. Meski kini kakak telah tenang di akhirat sana mereka selalu mengunggulkannya. Aku berasa hanya anak bungsu yang tidak dianggap.

Awalnya keluarga ini sangat harmonis layaknya keluarga lainnya. Tetapi setelah kecelaan mobil yang merenggut nyawa kakakku dengan sekejap saja semua berubah. Aku mengingat kejadian itu kembali. Sore itu kakakku sangat memaksa untuk menggunakan mobil sendiri karena ia akan pulang malam. Padahal ia baru mendapatkan SIM tiga minggu yang lalu. Dengan bujuk rayunya kakakku akhirnya diijinkan oleh orang tuaku.

Hingga sekitar pukul sembilan malam keluarga kami mendapat kabar yang kurang mengenakkan hati. Pihak kepolisian mengabarkan kakakku mengalami kecelakaan dan kakakku ditemukan dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Kabar itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Sejak itu keluargaku berubah menjadi seperti ini penuh dengan pertengkaran. Mereka saling menyalahkan, saling mencaci maki, dan saling tidak mau mengalah. Sampai-sampai ayah dan ibuku memutuskan akan bercerai. Badai besar pun datang diantara keluargaku.

*****

Dua bulan kemudian

Semua itu telah hilang. Tidak ada lagi pertengkaran yang terdengar seperti dulu lagi itu membuat hatiku tenang seperti suasana pantai di sore hari. Ayah dan ibuku sedang santai menyiapakan bekal yang kita bawa dari rumah. Aku bermain pasir di pinggir pantai.

“Jesy ayo sini makan rotimu!!” kata ibu.

“Siap bu” jawabku dengan sangat senang.

Yup! Kami sedang berlibur hari ini dan kami sekarang berada di Pantai Kuta. Pantainya sangat indah apalagi di sore hari seperti ini. Kami sedang menyaksikan matahari terbenam dan burung berterbangan. Ayah dan ibuku memang tidak jadi bercerai. Mereka mulai menyadari kesalahan mereka masing-masing. Ternyata bukan karena mereka mengabaikanku tapi memang dari dulu kakakku sering sakit-sakitan. Dia memiliki riwayat penyakit Amandel  dan Demam bedarah.

Aku ingat ketika orang tuaku meminta maaf padaku atas keegoisan mereka dan mereka berniat untuk memperbaiki hubungan keluarga ini yang sempat terpecah belah.

“Jesy maafkan ibu ya nak...tidak mengurusmu semenjak kepergian kakakmu, ibu sadar bahwa kamu masih ada disisi ibu” tutur ibu dengan pelan sambil mengusap rambutku.

“Maafkan ayah juga ya nak…karena terlalu terlarut dalam kesedihan atas meninggalnya kakakmu kami tidak sadar bahwa di sini masih ada malaikat yang diberikan Tuhan selain kakakmu” ucap ayah.

Mendengar itu hatiku sangat tersentuh aku menangis di depan orang tuaku. Aku pernah merasa seperti tidak mempunyai orang tua yang baik dan dengan perginya kakakku ke alam sana Engkau pasti sudah merencanakan yang terbaik bagi keluargaku. Sekarang aku sangat bangga dengan orang tuaku. Aku sadar bahwa hanya mereka orang tua yang sangat perhatian padaku. Orang tua terbaik di dunia adalah orang tua Jesy Darma Sabila.

Ajeng Noviarini

/ajengnindi


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.