CERPEN

Bisakah Aku?

20 Mar 2017 | 15:16 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 15:21 Dibaca : Komentar : Nilai :


                Pagi hari kubangun dari tempat tidurku, masih sangat mengantuk rasanya untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang membosankan, yah apalagi kalau bukan berangkat ke sekolah dan bertemu dengan para guru yang sangat menyebalkan. By the way Namaku Chika, umur masih 16 tahun, tinggal dengan keluarga yang tak pernah kukenal ayahnya siapa, alias ayah yang telah pergi meninggalkan keluarga sebelum aku lahir di dunia. Aku lahir sebagai anak bungsu, anak perempuan yang bergaya seperti laki-laki, itulah sahutanku. 

Mamaku masih muda, beliaulah yang menjadi tulang punggung keluarga, dengan bekerja sebagai penjual tiket di stasiun, entah apalah itu namanya, sedangkan kakakku lelaki dia juga telah memiliki pekerjaan, akan tetapi aku tidak mengetahui apa pekerjaannya. Beginilah keluargaku, hidup dengan urusan pribadi masing-masing. Bertempat di perkampungan kumuh menyebabkan pergaulanku tidak seperti anak remaja biasanya. Sementara, tentang pendidikanku, yah seperti yang dibanyangkan. Aku bersekolah di SMA tunas sejahtera, aku memiliki teman geng, namanya, Candra, Harun, Tania dan Dita, merekalah sahabat-sahabat yang telah kuanggap saudara sendiri.

                Tepat pada jam 7.15 aku berangkat dari rumah menuju sekolah, dengan menggunakan transportasi umum, setidaknya aku bisa menjaga diri sendiri. Sesampainya di sekolah, tak adapun siswa yang ingin masuk kelas sebelum wali kelasnya sendiri yang menyuruh untuk masuk di kelas, yah beginilah sekolahku. Kelas 11 ipa 4, kelas yang diisi oleh anak-anak yang tak memiliki pemikiran yang baik satupun, tak ada yang bisa diandalkan dari kelas ini. Terdapat dua geng besar dari sekumpulan siswa gelandangan.

 Geng yang dimusuhi oleh gengku yaitu gengnya Trio, sekelompok siswa dari golongan kaya, itulah mereka. Hampir setiap hari kami bertengkar di kelas. Sampai suatu waktu kami mendapat kabar bahwa wali kelas kami yang sangat menyebalkan itu mengundurkan dari dari sekolah, entah karena beliau muak menghadapi tingkah laku kami. “guyss,,,, Pak Andre mengundurkan diri loh”, sahut Anjas salah satu anak kelas sambil tersenyum bahagia, “serius?

 Sejak kapan? Kok bisa? Kamu tau dari mana?”, tanya Clara, yang merupakan siwsa yang ada di kelasku, “yaudah sih, urusan beliau, yang jelas sudah tidak ada lagi yang bakalan marah-marah sama kita kan” sahut Dita. Seketika suasana kelas berisik oleh perbincangan dari teman kelasku. “selamat pagi anak-anak” tiba-tiba saja salah satu staf sekolah Pak Jamal masuk ke kelas dan terlihat ingin menyampaikan informasi yang penting, “karena Pak Andre telah mengundurkan diri dari sekolah, maka, kalian akan mendapatkan wali kelas yang baru” berdiri di depan kelas dengan tegasnya menyampaikan informasi tersebut, 

kelas yang tadi sunyi tanpa suara apapun kini terdengar bisikan-bisikan salah satu siswa yang mungkin tidak terima mendapatkan wali kelas yang baru. Tanpa respon dari anak kelas Pak Jamal melanjutkan pembicaraanya, “pihak sekolah berharap, kalian bisa menghargai guru baru tersebut, 10 menit lagi beliau akan masuk ke kelas ini” sambil berjalan ke arah pintu kelas. “tok! tok! tok!”, suara ketukan pintu terdengar. “selamat pagi anak-anak” sosok pria berpakain rapi masuk ke kelas, mungkin beliau calon wali kelas yang baru. “pagi pak” jawab seluruh siswa kelas yang ada,“perkenalkan nama saya Pak Aria, saya yang akan menggantikan jabatan Pak Andre sebagai wali kelas kalian, begitu pun mengajar pelajaran bahasa Indonesia” sambil berdiri di depan kelas. Seketika kelas sunyi tanpa satupun respon dari siswa.

                Pelajaran pun dimulai, geng trio lagi-lagi memulai keributan di kelas, “guys, anak SMA kok buang air besar di kelas sihh,” sambil melihat Candra yang duduk di sebelah kiri ku, “wah kamu cari gara-gara yah, kamu mau apa”, sahut ku dengan suara yang besar, “kamu santai dong”jawab Trio sambil berdiri dari tempat duduknya. Suasana kelas berubah seketika “tenang, tenang semuanya” pak aria yang kebingunan dengan berusaha untuk menenangkan suasana kelas yang sedang berisik. Trio yang masih mengejek Candra membuat ku tak tahan untuk memukulnya.

                Pelajaran selesai, seluruh siswa pun beranjak untuk meninggalkan kelas, “hei, Trio” harun yang memanggil nama Trio dengan suara yang keras, “kamu kenapa, mau cari gara-gara lagi” berbalik dengan raut wajah yang sangat songong “kamu yang cari gara-gara dengan kami” seperti yang ku pikirkan geng aku dan geng Trio bertengkar lagi, “stop, hentikan lagi-lagi kalian bertengar lagi” Pak Aria tiba-tiba datang menghentikan pertikaian yang sedang terjadi. “apa-apaan sih Pak, jangan ikut campur lah” jawabku, “kalian tidak boleh melakukan ini, kalian harus menjalin hubungan yang baik”, sahut Pak Aria. Tak lama kami pun meninggalkan Pak Aria yang sedang menasihati kami waktu itu.

                “selamat pagi anak-anak, kita lanjutkan materi yang kemarin yah”, pagi itu kami diajar oleh Pak Aria lagi, sangat membosankan rasanya diajar dengan beliau. Satu jam pelajaran berlalu dengan suasana sunyi. Pak Aria yang menjelaskan materi dengan gaya yang sangat tidak kusukai membuatku makin membencinya.

 “Pak, saya ingin bertanya” tanyaku, “iya Chika, kamu ingin bertanya apa”, jawab Pak Aria, “kenapa bapak mengajar dengan cara seperti ini, asal bapak tau, ini sangat membosankan”, sahutku dengan apa yang kurasakan sendiri. Tiba-tiba Pak Aria terdiam mungkin beliau kaget dengan pertanyaan yang aku berikan. “ayo bapak jawab”, sahutku lagi “apakah kalian tidak senang dengan saya”, jawab Pak Aria dengan tatapan mata yang sangat tajam kepada kami, “tidak ada yang menyukai bapak di sini”, jawaban yang pantas untuk Pak Aria, menurutku. Teman-teman yang ada di kelas ikut mengomentari Pak Aria dengan pernyataan yang sangat menyakitkan. “kalo saya ada salah, saya minta maaf” jawab Pak Aria dengan ekspresi berkaca-kaca. Pak Aria keluar dari kelas waktu itu, sedangkan kami tetap dengan perasaan biasa saja. Bel pulang sekolah berbunyi kami pun kembali ke rumah masing-masing.

                Hari-hari berlalu seperti biasa tak ada respon dari sikap kami ke Pak Aria. Sampai suatu waktu Pak Aria masuk kelas dengan ekspresi dan gaya yang baru, dan menurut aku beliau aneh. Pak Aria memakai pakaian yang lebih keren lagi, rambut yang berbeda dari biasanya, nampak lebih cool.“selamat pagi anak-anak, saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian, hari ini kita akan mengujungi sebuah tempat yang akan membuat kalian takjub”, tegas dan ekspresi penuh senyuman. 

Tak lama kami pun keluar dari kelas dan menaiki sebuah bus. Satu jam berlalu di perjalanan. Pak Aria mengajak kami bernyanyi di bus dan memaikan gitar yang dibawanya, salah satu temanku Dita ikut maju untuk bernyanyi, dan Trio memaikan gitar dengan sangat indah. Entah kenapa kebersamaan kita mulai terjalin sedikit demi sedikit. Sesampainya di tujuan, terdapat sebuah rumah besar terlihat semacam rumah penampungan anak yatim piatu menurutku. “jadi kita berkunjung ke rumah anak yatim piatu, saya harap kalian bisa memberikan yang terbaik begi mereka”, sambil berjalan ke dalam rumah tersebut. “pak aria kami masih bingung kenapa bapak membawa kami ke tempat ini”,

 Tanya ku ke Pak Aria “asal kalian tahu kehidupan itu mengharuskan kita untuk memiliki rasa kebersamaann dan solidaritas yang tinggi, karena saat bersama, diri kita menjadi utuh”, jawab Pak Aria, “lantas apa hubungannya membawa kami kemari”, Tanya Erin teman anggota geng Trio, “sebuah keluarga mempunyai hubungan erat antara kita dan orang sekitar di lingkungan hidup, pasti kebersamaan dan kebahagiaan sangat di mimpikan dari suatu kondisi sebuah keluarga, kalian bisa menemukan kebersamaan yang muncul pada anak-anak seperti mereka ini ”, jawab Pak Aria, tiba-tiba saja kami menundukkan kepala entah kenapa itu.

                Setelah pulang dari rumah tersebut, aku merasa aneh dengan perilaku Pak Aria yang seperti itu. Di sekolah kami belajar lebih baik dari sebelumnya, beliau sangat enjoy dengan kami, kami pun juga begitu, mengikuti pelajaran dengan sangat baik. Satu bulan lebih kami diajar oleh Pak Aria, tak terasa perubahan sangat drastis terjadi pada karakter satu persatu dari kami. Aku saja masih bingung bisa kah aku untuk merubah sikapku ini, bisakah aku?

 Kenapa aku tak bisa berubah, teman-temanku bisa, lantas apakah aku tidak bisa? Rasa tak pecaya diri mengelabuiku. Sikap Pak Aria yang berubah sangat drastis membuatku lebih nyaman bersama teman-teman, dan lebih bisa mencoba untuk menghargai orang lain. “tak terasa yah pak aria bisa merubah kita untuk lebih dewasa” sahut trio, “iya nih, sekarang aku lebih peduli sama keluarga” jawab harun. Pak aria yang sangat sabar dalam mengajari kami membuat kami bisa menjadi lebih baik. Dalam ceritaku ini, aku hanya ingin menyampaikan perubahan yang aku alami, karena menurutku perubahan yang aku raih bermula dari jutaan tetes keringat dari guruku dalam memberikan pelajaran, motivasi-motivasi terbaik dan juga mengupayakan agar aku dapat memahaminya. Berkat Pak Aria, aku dan teman-temanku bisa merubah karakter masing-masing.

AjengIngrit Musdalifa

/ajengingrit30


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.