CERPEN

Aru-aru

20 Mar 2017 | 20:23 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 21:14 Dibaca : Komentar : Nilai :


“Stttt… kau tanang di siko ya! Aku akan mengecek keadaan di lua” bisik Buyung.

Dengan rasa cemas di hati, Buyung mencoba pelan-pelan  keluar untuk mengintip keadaan di luar.

“Aman-aman, pak Subeb alah pulang, Sal kaluar lah !” teriak Buyung dari luar memanggil Mursal

Begitulah Buyung dan Mursal, letih sudah pak Subeb menghadapinya. Cabut dari sekolah seakan menjadi budaya di hidupnya. Tak jarang juga buyung mengajak temannya yang lainnya, seperti halnya hari itu. Ia mengajak Mursal untuk pergi ke kampung sebelah, menonton adu ayam katanya. Buyung memang suka cabut dari sekolah, tapi tak seperti biasanya, hari ini dia malah mengajak temannya ke kampung sebelah. Terasa ada yang berbeda.

Buyung, anak tak berayah. Ayahnya menghilang sejak 4 tahun yang silam, dan kini pun Buyung sudah berumur 12 tahun. Mande, tempat buyung bergantung. Di nagari Garangmano, Buyung sangat terkenal lincahnya. Tak ada yang tak tau dengan nakalnya Buyung. Kalau tiba tiba ada ayam yang  hilang, pasti tahulah siapa pelakunya. 

Buyung amat suka malala (pergi main ke sana sini), bahkan ia bisa tak pulang semalaman. Mande yang sudah lelah menghadapinya seakan tak peduli lagi dengan kenakalan anaknya. Sudah hambar lidah mande menasehatinya. Buyung tampaknya memanglah anak yang masih belum tahu akan apa yang terjadi pada keluarganya. Ia selalu mengeluh akan keberadaan ayahnya. Tak jarang mande dibuat menangis olehnya. Memang terasa aneh anak umur 12 tahun sudah berani melawan ibu sendiri sampai dibuat menangis, namun itu lah yang terjadi.

Setiap tiga kali seminggu ,Buyung akan menemani makdang Sutan untuk berjualan di hari pakan (hari jual beli ,biasanya pada hari selasa,jumat dan minggu). Makdang Sutan, kakak lelaki tertua mande. Hal ini tentu baik untuknya, Buyung jadi ada pekerjaan dan tidak malala terus. Namun, seringnya Buyung pergi ke pasar menjadi bala baginya. 

Buyung jadi kenal dengan yang namanya maampok (berjudi) dan adu ayam. Makdang yang sibuk dengan dagangannya kadang terkecoh oleh Buyung . Tiba-tiba hilang dari kedai. Saat ditanya, jawabnya bermacam-macam saja. Tak jarang, uang di laci makdang juga hilang tiba tiba. Ayam pak Didin yang hilang kemaren, itu ulahnya siapa? Ayam pak Mukhtar yang hilang tiga minggu yang lalu itu ulah siapa pula? Memang begitu lincahnya Buyung.

Setelah cabut dari sekolah, Buyung dan Mursal pun pergi ke kampung sebelah. Paginya Buyung sudah bilang pada mande ingin pergi ke rumah nyiak Malin untuk belajar silek (pencak silat). Tapi mande tak tahu kalau ternyata ia kabur dari sekolah. Sifat tak jujur ini tampaknya memang melekat dalam darah dagingnya. Bukannya belajar, ia malah kabur dari sekolah. Katanya ingin latihan silek, malah pergi ke kampung sebelah menonton adu ayam.  Kampung sebelah tentu lebih jauh dari pada rumah nyiak Malin. Buyung tentu harus pulang pada sore hari. Padahal mande sudah katakan kepadanya agar tak pulang sore-sore. Sepertinya Buyung lupa akan pesan mande. Selalu melawan saja kerjanya.

“Nak, kau jangan pulang sore ya nak, dengarkan mande sakali ko” tegas mande

“Iyo mande, denai hanyo akan pergi ke rumah inyiak Malin, jangan kau atur-atur denai” jawab Buyung dengan nada tinggi

“Ingek nagari kito sadang dalam keadaan indak aman, kau bisa saja hilang” ucap mande dengan mengutuk.

Seperti yang mande katakan kepada Buyung, nagari Garangmano sedang dalam keadaan tidak aman. Sudah sejak satu tahun belakangan ini,begitu banyak anak anak yang hilang tiba-tiba. Tak seperti biasanya, anak-anak selalu  bermain bersama dari siang hingga sore hari. Namun kini banyak ibu yang lebih memilih mengurung anaknya di dalam rumah. Para ibu begitu takut dengan keamanan anak- anaknya. Ketakutan tentu juga dirasakan oleh mande. Meskipun Buyung anak yang nakal, namun mande tentu tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya,si bungsu tak beradik, si sulung tak berkakak itu. Kepala nagari pun, Datuk Basa masih bingung dengan kejadian apa yang terjadi. 

Setiap sore hari, ada saja yang teriak kehilangan anak. Beberapa warga ada yag curiga bahwa anak-anaknya diculik oleh pemilik rumah ujung nagari. Mereka adalah beberapa bule yang baru tinggal beberapa bulan di nagari ini. Datuk Basa pernah bilang bahwa mereka adalah warga negara asing yag akan mengelola sumber air panas di daerah Bulakkan. Karena tuduhan tak berbukti ini, Datuk Basa menghimbau warga agar tetap jernih dalam berfikir.

Mande yang telah capek seharian di sawah pun pulang kerumah. Sebelum pulang, tak lupa mande singgah terlebih dahulu di pajak (kedai) mak Eti untuk membeli lauk pauk santapan makan malam bersama si sematawayang Buyung.  Sesampainya dirumah, mande menanak nasi dan memasakkan  lauk kesukaan si buyung, ikan tongkol balado. Mande memasakkan lauk kesukaan Buyung karena dia senang Buyung sudah mulai mau bergabung dengan silek (pencak silat). Harap besar mande si Buyuang dapat menjadai anak yang patuh dan penyabar setelah ikut silek. Mande yakin, bila rasa ksatria pandeka (pendekar) anaknya mulai tumbuh, anaknya akan berubah menjadi anak yang patuh dan berbakti         

Hari semakin sore. Mande dengan senang hati menunggu kepulangan si sematawayangnya. Ia yakin anaknya akan pulang cepat, karena tadi mande sudah berpesan kepada Buyung. Tapi lama-kelamaan, Mande risau karena Buyung tak kunjung datang. Mande pun tetap menunggu kedatangan anaknya. Hingga magrib pun tiba, mulai bingunglah mande, tak tau ingin mencari anaknya kemana.Pergilah mande kerumah Ani,teman sekelas Buyung di sikolah. 

Ani bilang Buyung tak ada di sikolah hari ini. Mande tentu tak percaya dengan kata-kata Ani, karena ia tau anaknya tadi pagi berpamitan padanya untuk pergi ka sikolah. Jalan terakhir yang dilakukan mande adalah pergi kerumah makdang Sutan untuk mengabari bahwa anaknya tak kunjung pulang. Dengan tergesa-gesa, hati yang cemas, mande pun menuju rumah makdang. Sesampainya di rumah makdang, mande malah berdebat dengan makdang.

“Uda , kemana anak ambo, belum pulang dari tadi? katanya tadi ingin kerumah inyiak Malin, balatiah silek ”jelas mande dengan nafas terengah-engah.

“Jan cemas, paling anak kau hanya bermain kerumah kawannyo, Buyuangkan selalu begitu. Jan mencemasi anak kau! ‘’ jawab makdang menenangkan mande.

 ‘’Iyo uda,tapi kito tau bahwa nagari iko sadang indak aman. Bagaimana kalau inyo hilang kito indak tau kan?’’ jawaban mande menantang sang kakak.

“Kini ko, karumah guru Buyung kito, kito tanyokan keberadaanyo Buyung dima, mana tau guru Buyung tau ”ajakkan makdang.

Mande dan makdang pun segera menuju rumah pak Subeb. Sesampainya di rumah pak Subeb. kecemasan mande pun makin menjadi-jadi.

‘’Assalamualaikum pak Subeb, kedatangan kami di siko untuk mananyokan keberadaan Buyung,sajak siang Buyung indak pulang pulang ” ucap mande menjelaskan.

‘’Buk, sejak siang Buyung kabur dari sikolah buk, pagar disampiang gudang sikolah dipanjat buyuang sampai rusak” jelas Pak subeb dengan emosi.

‘’Dimalah si Buyuang ko, mambuek cemas taruih’’

‘’Labiah rancak kalau kito pergi karumah Datuak Basa, dan mengumumkan kehilangan Buyung iko di toa (pengeras suara) musala’’ makdang mengajak mande.

Makdang, mande dan Pak Subeb pun segera bergegas menuju rumah Datuk Basa. Datuak Basa begitu bingung akan apa yang terjadi, kenapa bisa anak seperti Buyung bisa hilang. Datuak Basa memerintahkan kepada pamuda sekita untuk mengumumkan berita hilangnya Buyung ini di toa musola. Bagi yang tau dengan keberadaan Buyung, segera beritahu kepada keluarga Buyung. Datuk Basa yakin Buyung sekarang ada di rumah temannya. Mustahil rasanya bila ada yang bisa menculik Buyung.

Azan isya pun berkumandang. Tampaknya tak ada tanda tanda Buyung akan pulang. Datuk Basa pun memutuskan untuk mengajak pemuda dan masyarakat sekitar untuk keliling mencari Buyung. Dengan lampu togok di tangan, semuanya sibuk mencari keberadaan Buyung.

Kehilangan Buyung pun di sampaikan di musala dengan toa , sehingga sehabis solat isya para warga dan pemuda mulai mencari Buyung keliling nagari. Rumah di ujung nagari yang dicurigai itu pun juga ditanyai. Bule yang baru tinggal tiga bulan itu pun tak mengerti apa yang dimaksud oleh para warga. beberapa pemuda juga di kerahkan untuk menuju hutan Rampai untuk mencoba mencari Buyung. Tapi apalah daya, sampai jam dua belas malam Buyung pun masih belum ditemukan. Mande yang kehilangan anaknya tak berhenti menangisi keberadaan anaknya.

Pada pagi hari, saat jam anak-anak akan pergi sekolah. Ada orang yang datang kerumah untuk bertemu mande. Ia adalah Mursal, teman Buyung yang diajaknya pergi menonton pertandingan adu ayam kemaren. Mursal datang bersama pak Subeb. Mursal pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Assalamualaikum mande, Mursal binguang akan mangicek (berkata) apo, Buyuang hilang mande” Mursal bercerita dengan nafas terengah-engah.

‘’Iyo tapi bagaimana kok bisa hilang yo si Buyuang tu, indak mungkin ado yang berani menculiknyo” sanggah pak Subeb.

“Apo nan tajadi, jalehkan pado mande! Dima Buyuang kini nak ‘’ tegas mande.

‘’Jadi , Mursal samo Buyung kabur dari sikolah, Buyuang mangajak Mursal pergi katampek adu ayam”

“Waktu ka pulang, Buyuang pergi kasabalik (belakang) pohon,abis tu Buyung tinggalkan Mursal”

“Mursal pikia Buyung hanyo bagarah (bercanda), saat Mursal tunggu Buyung indak baliak-baliak”

Mande yang mendengar penjelasan Mursal pun meraung menangis. Ia sudah berpikir anaknya sudah diterkam harimau . Hutan Rampai begitu liar untuk anak seumuran Mursal dan Buyung. Tanpa pikir banyak, mande segera pergi ke rumah Datuk Basa dalam keadaan menangis . Mande maminta agar dilakuakan pencarian ulang untuk daerah hutan Rampai. Ia yakin anaknya ada di hutan Rampai. Meskipun hanya tinggal bangkai anaknya, ia tetap ingin bertemu jasad anaknya.

Semua warga dikumpulkan di balai nagari sebahabis sholat dhuha. Para pemuda dikerahkan untuk menuju hutan Rampai. Pada sore hari, beberapa pemuda menemukan bangkai layaknya bangkai manusia. Datuak Basa yang melihanya pun meyakini bahwa itu sisa bangkai dari tubuh Buyung. Mande masih tak percaya dan yakin anaknya tak mungkin sudah mati.

Pencarian ternyata tak berhenti, sampai malam pun para pemuda tetap mencari keberadaan Buyung. Sampailah pada suatu hari, para pemuda bergerak menuju batang gadang ( pohon besar), di sana para pemuda menemukan sosok anak kecil . Beberapa pemuda ada yang ketakutan dan lari karena berpikir itu adala hantu. Bang Ilham, anak Datuk Basa pun memberanikan mendekati batang gadang. Disana ia menemukan Buyung yang sedang tertidur dengan keadaan duduk. Bang Ilham yang menyadari keberadaan buyuang pun segera berlari menghampiri Buyung.

“Buyung, disiko(disini) kau kironyo”

“iyo da..aa” menjawab lalu pingsan

Buyung yang pingsan pun dipangkul oleh bang Ilham menuju nagari Garangmano. Sasampainya di nagari, bang Ilham langsung membawa Buyung menuju rumah Datuk Basa. Buyung begitu linglung. Mande yang tak berhenti menangis di marahi oleh makdang agar segera diam. Buyung yang tak bangun -bangun, di biarkan terlebih dahulu oleh Datuk Basa untuk tidur.

“Biarlah Buyung lalok (tidur) dulu, bisuak (besok) pagi kito tanyokan ‘‘

Malam berlalu, Buyung sadarkan diri pada pagi hari. Namun tak tau mengapa Buyung bertingkah seakan-akan lupa akan dirinya siapa. Buyung juga sangat linglung dan lemas. Bangun-bangun, Buyung langsung meminta makan kepada mandenya.

‘’Jadi apo yang kau ingek (ingat) Buyuang” tanya Datuk Basa

“ Aaa..aa.. ado yang hitam-hitam datuk, Buyuang takuik (takut) “dengan gagap Buyung mencoba menjawab

“Buyung tabang (terbang), yang mambawok Buyuang indak bamungko (punya mungka)” jawab Buyung dengan ketakutan”

Dari ungakapan Buyung, Datuk Basa mulai mengerti apa yang terjadi. Sejak hari itu pun, Datuk Basa menghimbau agar para masyarakat dapat beribadah bersama . Saling menjaga satu sama lain. Anak -anak jangan dibiarkan bermain di luar saat sore hari. Datuk Basa juga mengajak para warga untuk mandoa basamo ( semacam berdoa bersama) . Datuk Basa berharap kejadian ini menjadi yang terakhir.

Semenjak kejadian itu, Buyung mulai berubah. Ia tak senakal biasanya. Ia mulai patuh pada mande. Ia juga mulai rajin bersekolah dan tak hobi lagi menonton adu ayam. Kebiasaan malala sepulang sekolah pun kini tak lagi dijalaninya. Ia bahkan kini mulai rajin ikut bersama mande ke sawah dan juga membantu makdang berjualan saat hari pakan tiba. Kini warga nagari Garangmano juga mulai baribadaik (beribadah) ka musala. Seperti namanya, nagari Garangmano, begitu garang.

Jadi siapa sebenarnya yang hitam itu?

Ananda Putri Ahwallia

/ahwallia


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.