NOVEL

Lingkaran Besar #7

21 Apr 2017 | 11:27 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 11:42 Dibaca : Komentar : Nilai :
Lingkaran Besar #6

Gelas terisi air. Seporsi makanan tertangkup di atas piring datar. Lampu menyala sangat terang. Restaurant ternama sedang menampilkan pramusaji pilihannya. Balkon terlihat di sudut pandang manapun. Seorang biduan akan tampil memukau. Musik mulai dimainkan.

“Terima kasih atas kehadiran tuan-tuan dan nyonya-nyonya di undangan acara ulang tahun pernikahan kami.” Seorang yang berwibawa didampingi seorang wanita berdiri mengambil gelas dan menawarkan minum.

Kami berdiri menghormati tuan rumah dan meminumnya. Seluruh undangan bertepuk tangan dan berterima kasih atas undangan ini. makan malam dan menginap di hotel ternama menjadi sesuatu yang sangat special.

“Silakan menikmati hidangannya.”

Lampu mulai dipadamkan perlahan, musik mulai mengalun. Sepasang penari berlaga di atas balkon. Dan semua undangan menikmati sajian istimewa lalu tertidur.

Hanya beberapa orang saja yang tidak terpengaruh, mereka saling pandang tentang apa yang sedang terjadi. Salah satu undangan berpangkat jenderal merasa menyesal senjatanya telah diamankan sewaktu masuk ke restaurant. Ia sangat gelagapan tanpa senjata di tangan.

Sementara aku berdiri melihat pemandangan mengerikan ini. Aku melihat tuan rumah tadi berdiri di atas balkon.

“Terima kasih atas kehadiran tuan-tuan dan nyonya-nyonya di undangan special ini.” sekarang ia tidak bersama istrinya. Kulihat pendampingnya sendiri terkapar di atas meja hidangan.

“Aku sudah melihat kerja kalian selama ini dan aku ingin bekerja sama dengan kalian. Jika tidak pun tak masalah!”

Salah satu jenderal mendekat dan ingin mencoba melaporkan, ia berlari ke pintu keluar namun sayang langkah kakinya kalah cepat dengan peluru yang telah bersarang di dadanya. Tewas di antara kaki-kaki kami.

Tak satupun berkutik. Terkecuali wanita itu yang dengan santainya membetulkan lipatan gaun merahnya. Ia duduk anggun tak memperhatikan. Di depanku berdiri seorang sebaya sepertiku, kulihat ia mengepalkan tangannya. Tampak tonjolan dada dan otot bisep yang tiba-tiba terlihat.

Aku mula-mulai melangkah menjauh sedikit demi sedikit. Aku menginjak kaki seseorang. Jenderal yang ditembak tadi datang melewatiku bergerak ke depan. Tanpa luka sama sekali. Dan jasad yang tertembak tadi masih tetap disana dengan wajah yang berubah, tidak lagi dia. Aku masih tak mengerti.

Di sebelah kiri. Pramusaji masih bergerak leluasa, tak menghiraukan bahkan tanpa ekspresi. Aku melihat tangannya agak sedikit bergetar dan ada lilitan kabel. Dan masih ada tujuh orang lagi yang berbeda. Hingga aku merasa ini seperti mimpi.

“Tak ada yang bisa keluar dari sini sebelum menandatangi perjanjian kerja sama ini!” ia berdiri menekan tombol merah lalu dinding kaca terpasang diantara kami. Sepertinya ia menjaga jarak dengan kami.

Ia menampilkan slide berisi tayangan-tayangan perang dan penindasan penjajah. Senjata-senjata yang mampu meledakan satu Negara sekaligus.

“Kami telah banyak kehilangan prajurit, hanya untuk perang perbatasan ini. semakin kami membuat alat canggih semakin canggih juga mereka membuatnya.”

“Susan, kemari dan tinggalkan pakaian pramusaji itu.”

Seorang wanita yang tadi kulihat sebagai pramusaji, mengajak teman-temanya untuk berdiri di depan. Dan kami memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan.

Para pramusaji berdiri berjajar seperti angkatan bersenjata. Susan memimpin barisan dan mulai menunjukan sesuatu. Mereka semua membuka pakaiannya. Tak satupun melekat di tubuh mereka. Aku semakin tidak mengerti. Dan makin tidak mengerti mana kala tidak ada satupun dari mereka yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Manusia ataukah robot, sulit dibedakan.

Otot tangannya melingkar dan menyusun membentuk suatu senjata, kedua tangan mereka menghadap ke depan. Dan secara bersamaan memusatkan target pada kami. Dan dengan isyarat Susan tembakan diluncurkan. Aku belum siap dan tiba-tiba peluru datang bertubi-tubi, dalam sedikit kesadaran aku melihat pertarungan mereka. Lalu secara tidak sadar aku menekan tombol merah. Dan berarti iya.

Lampu masih gelap, lalu bergerak cahaya datang dan diiringi lagu. Sepasang penari meliukan badannya dan mengakhiri pertunjukannya. Aku bangun dari tidur, entah apa yang terjadi. Semua undangan bangun dari tidur tanpa mengingat sesuatu dan melanjutkan aktivitasnya.

Aku masih tidak mengerti. Apakah aku bermimpi lagi, rasanya tidak mungkin. Karena aku masih ingat. Aku melangkah keluar perlahan. dan menginjak sepatu sesorang yang berdiri mematung.

“Maaf, tuan. Anda menghalangi saya berjalan.” Orang itu masih berdiri mematung tanpa menghiraukan ucapanku. Aku melihat ke kanan dan kiri. Orang-orang masih berkutat dengan aktivitasnya sendiri.

Seorang wanita bergaun merah berjalan ke arahku. Ia memperhatikanku. Tangannya menyentuh pundak orang besar yang kuinjak sepatunya. Lalu tiba-tiba sesuatu terjadi, orang besar itu melepuh menjadi abu.

Aku berteriak seketika. Orang-orang melihatku kali ini, dan sedetik lalu mengabaikan dan kembali beraktifitas. Wanita itu beranjak pergi ke pintu keluar dipersilakan penjaga pintu.

Seseorang yang bertubuh hampir sama denganku, melihatku dan menggelengkan kepalanya. Apa maksudnya? Aku dalam situasi tak tentu.

“Minumannya tuan?” Seorang pramusaji menawariku minuman. Mungkin ia melihatku menggila. Berteriak di antara pesta.

“Terima kasih!” aku memegang gelas yang diberikannya. Aku sedikit mengingat sesuatu namun sulit untuk menggabungkan semuanya. Hanya sepintas lalu tidak ada lagi. Seperti ada yang menggoreskan memory di kepalaku.

Aku mengingat sesuatu! Satu nama.

“Susan!” aku tak sengaja menyebutkan nama yang aku sendiri belum yakin apa maksud nama itu.

“Ya, ada apa tuan memanggilku? Perlu makanan nanti aku datang membawakan.” Pramusaji itu tersenyum. Ekspresinya membuatku tenang.

“Ah tidak, tolong tunjukan saja kemana kamar inapnya.” Aku merasa tidak enak badan.”Aku ingin istirahat saja di kamar.”

“Baik tuan. Mari ikuti saya!”


Agus Sutisna

/agussutisna

Akademik LCC Tasikmalaya
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.