NOVEL

Bras Katanji #6

21 Apr 2017 | 10:17 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 11:43 Dibaca : Komentar : Nilai :
DOKUMEN PRIBADI

Aku ingin mengingatkanmu agar jangan berlama-lama di luar rumah ketika bulan telah purnama. Apa sebab? Karena pada waktu itu rupa manusia akan menampilkan hal yang sebenarnya. Bisa jadi ia ataupun serupa.

Hujan turun deras. Kota ini dilanda kesedihan. Diberitakan banjir menggenang area perbelanjaan. Dan tidak ada cara untuk kembali pulang. Sebelum surut atau matahari telah terbenam.

Bras mengamati cuaca, berdiri di atas lantai dua. Menatap area pertokoan. Hilir mudik orang-orang berbelanja dan menarik kendaraan dari genangan air bah. Bahaya jika terlalu lama terendam.

Tempat dinasnya yang baru berada di pusat kota, jauh dari segala latihan dan apel pagi yang rutin. Jauh dari sengatan matahari dan derasan hujan. Sebenarnya ia sangat rindu. Ada seutas rindu dimanaia  sedang berjuang dan berlatih di camp pelatihan. Namun Beruntung ia bisa ditempatkan di area perkantoran.

“Bras, hari ini lembur ya?” Kepala cabang  memberikan setumpuk proposal dari ketenagakerjaan untuk diketik ulang. Dan proposal ini harus segera selesai di mejanya esok pagi.

“Baik, Pak!”Sahut Bras singkat.Ia mengingat supaya jangan banyak kata tambahan. Cukup kata itu dan biarkan pimpinan pergi dari hadapan kita. Baru iaberteriak dalam hati. “Sialan!”

Mereka berbagi tugas untuk menyusun proposal. Kebetulan Bras ditugaskan membuat bab tiga yaitu program pelatihan. Membuat kurikulum program, lama pelatihan, dan jadwal kegiatan dengan jumlah sesi 200 pertemuan.

Pelatihan ini mengingatkan kembali ketika ia menginjak camp pelatihan. Ia pernah berbicang dengan salah satu orang yang satu camp bahwa ia datang ke sana karena undangan pelatihan ini.

Jam sudan menunjukan pukul empat sore, sementara data-data baru ia kumpulkan terlebih dahulu. Berkonsultasi pada lembaga lain yang pernah membuat proposal dan bercakap lewat telepon mengenai jadwal perencanaan.

Suasana kantor sudah tidak nyaman. Terkenang cerita lama mengenai kantor ini. Kantor bekas kebakaran suatu lembaga penelitian Genetic. Meski sudah ditutup 30 tahun yang lalu. Namun satu gedung disana sangat ganjil terlihat. Hanya dibiarkan puing-puingnya dan dibiarkan begitu saja. Sedangkan gedung lain yang masih utuh disewakan kepada beberapa perusahaan dan kantor kedinasan.

Dan salah satu gedungnya dipakai sebagai tempatnya berdinas.

“Siapa yang sudah selesai?” Rekan kerjanya mengeprint kertas proposal yang pertama. Ia masih muda. Mieda namanya. Dan satu lagi pegawai magang, Katar namanya. Mereka lah yang selama ini membantu Bras hingga ia bisa naik jabatan.

“Tolong share RAB nyasekalian. Hampirselesai, mas!” Bras melihat jam di dinding sudah pukul Sembilan.“ Pasti mereka ketakutan lembur di kantor.” Pikirnya.

Bisik-bisik terdengar cerita jika dulunya tempat ini dikenakan larangan untuk lembur. Hingga kebakaran itu diberitakan. Tapi pimpinan merka tidak peduli soal itu. Yang penting proposal beres.

Bras sudah kebelinger membuat hal seperti ini. Sungguh jauh dari kebiasaan dan keterampilannya. Bras biasa di lapangan latihan bersenjata dan berperang, sekarang berurusan dengan segala tetek bengek administrasi perkantoran.

Lengan bajunya digulung, kancing bajunya dikeluarkan. Ia memuat otak bagaimana agar proposal cepat selesai. Bras masih mencoba mengecek urutan bab, dan selalu saja menemukan hal yang keliru.

“Mas Bras, memangnya pegawai kita ada yang namanya Rukan dan Hartono?” Mieda mengecek data tenaga pelatihan. Ia mencari data lalu mencocokan.

“Siapa tadi yang membuat profil lembaga?” Bras mendengar suara omelan Mieda dan sesekali menjawab pertanyaannya. Sementara tangannya sibuk mengeprint ulang karena selalu saja ada yang keliru.

“Saya Mas!” Katar datang dari arah dapur. Ia membawa kopi hitam dan menaruhnya di meja mereka.

“Darimana kamu dapatkan data pegawai?” Aku sempat bertanya padanya. Lalu ku seruput kopi hitam buatannya.

“Dari data karyawan di meja Mas Bras.” Ia dengan polosnya mengatakan itu. “Bener mas!”

“Tapi karyawan kita tidak ada yang namanya Hartono dan Rakan?” Mieda memukul mejanya karena kesal sebab ia harus mengulang pekerjaannya. Padahal sudah hampir selesai.

“Tenang, Mieda.” Bras menenangkan Mieda dan menyelamatkan Katar.“Coba saya cek lagi!” Bras meminta Katar membawakan map hijau data pegawai lalu mencocokannya.

Katar tidak salah memang ada dua biodata disana. Dan Bras baru tahu selama ini ada pegawai bernama rakan dan Hartono. Ya bukan salahnya jika keliru karena pegawai kedinasan banyak dan belum ia kenal semua.

“Benarkan, Mas?” Katar senang ia tidak keliru mengerjakan. Lalu Bras melihat biodatanya dan alangkah terkejutnya ia ketika tahu mereka adalah pegawai lembaga penelitian Genetic di gedung sebelah. Dan mereka adalah korban kebakaran 30 tahun lalu.

Bras mencoba tetap tenang. Ia mencoba membuat pikirannya tetap waras. Dan berusaha agar karyawan lain tidak panik. Katar mengetahuinya. Kuinjak kakinya agar tidak berusaha dan tidak bikin panik.

“Besok pagi hari sudah ada di meja saya!” Kepala pimpinan tiba-tiba datang. Ketenangan seakan dirobek olehnya. “Sekarang saya mau pulang, jangan lupa besok pagi sudah selesai!”

Ia berlalu pergi. Bras melihatnya berbeda. Tergesa-gesa.

Bagaikan menirukan suara kelelawar, keyboard ini sudah berdecit-decit minta dihentikan untuk dipijit. Dan tiba-tiba computer tidak bisa mengakses si pengolah kata. “Sial. Aku harus me-restart ulang!” Bras memukul mejanya.

“Mas, aku tunggu diparkiran ya, sudah ngantuk.” Ia melihat jam sudah tepat di atas kepala. Entah ia memang mengantuk atau kepalang takut.

“Ya, ayo kita pulang saja.”Bras meregangkan otot. Lalu membereskan tas dan mengajak mereka berdua.

Malam ini bulan purnama. Terbentuk lingkarannya yang sempurna.

“Aduh, lapar nih kita makan dulu nasi goreng di pinggir jalan ya!” Mieda mencoba mengusulkan. Katar masih dengan wajah pucatnya.

“Boleh!”Bras mencoba mengalihkan mereka dari gedung tempatnya bekerja. Sudah malam. Sudah tidak beres.

Mereka melewati parkiran, sejenak istirahat. Bulan sudah purnama. Cahayanya masuk ke dalam ruang perkantoran. Ruang-ruang yang gelap terasa ditumpahi cahaya. Lorong-lorong gelap sudah seperti pagi hari, sangat tenang dan cerah.

Lalu ia melihat sesuatu ditempat tadinya mengetik.

Bras memandang lantai dua, cahaya masuk ke dalam kaca kantor. Disana tadi ia bekerja. Bras berpikir apakah kalau siang hari orang-orang bisa melihatanya bekerja. Seperti rumah kaca.

“Mas, siapa yang belumpulang?” Mieda mengintip pandang ke gedung.

“Kita yang terakhir.” Katar menegaskan.

“Itu disana seperti ada yang sedang bekerja, mengeprint.!” Terdengar suara print berbunyi memang.

“Mas, jangan-jangan kantor kita ada penunggunya?” ia hampir berlari dan berteriak mencari pertolongan. Disana ada satpam, orang-orang kantor dan masyarakat yang masih begadang di pinggir jalan.

Bras menarik tangannya. Dan sekuat tenaga agar tidak melepaskannya.

“Apa yang kau lakukan? Sakit sekali.” Katar berusaha melepaskan ikatannya. Bras melepaskannya.

“Aku mau pulang! Ada yang aneh dengan kantor ini.” Ia seperti ketakutan.

Bras akhirnya membiarkan ia pergi. Biar saja tidak ada yang akan percaya padanya. Bras melihatnya berlari ke dalam mobilnya dan meninggalkannya. Nasi gorengnya tidak jadi.

Katar meninggalkan mereka. Di lorong parkiran berdua bersama Mieda.

“Mas Bras aku jadi takut!” Mieda terlihat ingin berteriak tapi perjalanan masih jauh untuk sampai di pintu gerbang.

Bras melihat ke lantai dua. Makhluk itu sedang mencoba mengerjakan tugasku. Bras melambaikan tangan ku padanya. Tapi ia tidak merespon. Mungkin ia sedang sibuk. “Ini kesempatan bagus!” Pikirnya.

“Mas, ngapain melambaikan tangan ke arah gedung? Jangan mengerjaiku. Mieda takut!” Mieda menahan nafas dan jantungnya. Ia tidak berani berjalan di depan ataupun dibelakang. Ia sudah tidak bisa menahan dirinya.

Bras menangkap pergerakan tangannya.

“Maaf Mieda. Kau harus ikut dengan mereka.”Bras melepaskan pelukannya.

“Mas Bras, tolong.Jangan ..” Bras mendengar setiap teriakan dan tangisannya yang tertahan.Ia tidak berani menatap ketika kakinya diseret dua makhluk hitam yang datang dari arah kantor.

Bras melenggang keluar parkiran. Tanpa beban.

“Mas Bras, Koq pulang cepat, Yang lain koq belum pulang. Padahal sudah malam?” Satpam kantor memberikan kunci padanya dan menyiapkan mobil.

“lagi rapat, Pak. Oh iya disuruh pak Bos ke dalam. Aku lupa mengatakannya.”

Bras mengenakan sabuk pengaman dan memberi tips pada satpam.

“Biar aku pegang kunci gerbangnya sendiri. Bapak ke kantor dulu ketemu pak Bos. Biar saya yang gantiin jaga disini sebentar. ”Bras menawarkan diri. Dan ia merasa sungkan. Tapi dengan alasan Pak Bos akan marah besar maka ia segera pergi ke kantor.

”Hati-hati ini malam purnama, banyak makhluk yang berkeliaran  di gedung sebelah.”

“Ah, mas Bras bercandanya berlebihan.” Ia tertawa kesenangan ketika Bras menggoda.

Bras buru-buru mengunci gerbang pintu, setelah pak Satpam pergi.

Malam ini ada yang tidak beres memang.Ia harus segera pergi dari tempat terkutuk ini. Malam hari memang penuh misteri. Ia tidak tahu yang ia temui itu makhluk atau manusia.

Yang penting ia selamat dan bermain cantik.Begitu prinsipnya.

Bras melihat dari luar gerbang.Kronologi kebakaran tiga puluh tahun lalu terjadi lagi. Arwah-arwah yang tidak ingin mati kembali datang mengenakan setelan baru dan mengulang peristiwa. Arwah seperti itu tidak berbahaya. Yang Bras herankan adalah arwah yang tidak tahu jika Ia sudah mati dan memilih merasa hidup dan berperilaku seperti manusia. Mereka akan menjadi makhluk abadi, dan akan mencari pegawai baru untuk dijebak disana.

Rencana mereka telah iaketahui. Alasan perekrutan pegawai dan pendaftaran pelatihan karyawan baru adalah bukti yang tidak terbantahkan. Sebelum ada korban lagi. Ia segera memasang garis polisi.

Bras sudah membaca data pegawai dan mereka semua terdata dalam data korban meninggal tiga puluh tahun lalu, termasuk Mieda.

Ada yang mengetuk kaca jendela mobilnya. Bras membuka kacanya perlahan. Tampak seorang lelaki sedang berkeliling penuh kepanikan.Ia seperti mencari sesuatu.

“Apa yang sedang kau lakukan disana?” Bras melihat katar belum pulang.Mondar mandir diantara kegelapan.

“Aku kehilangan kunciku!”

“Kunci ini?” Bras memperlihatkan kunci gerbang kantornya.

“Betul mas, aku mau kembali kesana. Diluar sini tidak aman.”Ia merebut kunci dariku dengan cepat.  Wajahnya menunduk, ia tidak berani menatap mata.

“Masuklah.”Bras mengasihaninya sekarang.

“Tidak mas, aku mau pergi ke sana saja.”

“Sebentar saja, masuklah ke dalam.”Bras mempertegas ucapannya. Membuat Katar terkejut dan ketakutan hingga dengan ragu-ragu ia memutar badan dan menerima tumpangan.

“Duduk di depan!” Bras mengatur ulang ucapannya. Setelah ia duduk, terlihat wajahnya sangat pucat. Ketakutan macam apa yang membuatnya begitu menundukan wajahnya.

“Aku tidak mengganggu, mas. Maafkan saya!” ia memohon-mohon padanya. Tapi Bras mengatur senapannya. Dan dengan dinginnya memutar senapan lalu melontarkannya ke dalam isi kepala Katar.

Seseorang perempuan datang diantara kegelapan dan membuka kaca jendelanya. Rambautnya terurai hitam mengalun sesuai irama langkah kakinya. Jenjang dan mulai mengetuk kaca dengan lembut.

“Lumayan!” Ia mengucapkan kata pujian. Mariah Hasli datang terlambat.

Agus Sutisna

/agussutisna

Akademik LCC Tasikmalaya
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.