CERPEN

"Kak, Anterin Aku Pulang Ya..."

19 May 2017 | 16:22 Diperbarui : 19 May 2017 | 16:49 Dibaca : Komentar : Nilai :

“Kak, nanti anterin aku pulang ke rumah lagi ya...”, begitu suara celotehan anak kecil yang selalu menegurku setiap sore, berulang-ulang setiap kali aku pulang kerja atau sekedar melewati rongsokan mobil truk colt diesel lama itu.

Saat itu hari jum’at dan hari itu sudah menjelang malam, jarum jam tanganku sudah menunjukkan jam 17.20 wib, yang menandakan jam kerjaku akan segera berakhir 10 menit lagi. Hembusan angin dingin yang disertai dengan hujan yang agak gerimis sore itu agak sedikit menusuk-nusuk ke pori-pori kulitku. Sesekali ntah mengapa perhatianku kembali tertuju ke arah yang sama, ke sebuah truk colt diesel tua dengan bak kayu bercat merahnya. Ntah sudah berapa lama truk merah itu sudah teronggok di belakang gudang tempatku bekerja. Meskipun semua permukaan bodi dan bak kayunya sudah tertutupi debu namun kesan agak sedikit menyeramkan masih terasa setiap kali aku melaluinya.

Beberapa menit kemudian terdengar sayup-sayup seperti ada anak-anak yang sedang tertawa, bermain kejar-kejaran sambil berlarian ke sana ke mari di antara mobil tua itu Sepertinya ramai sekali, perkiraanku mungkin ada sekitar 4 atau 5 orang anak yang bermain. Tapi menurutku itu agak tidak mungkin, karena waktu itu sudah bukan waktunya anak-anak untuk bermain, karena waktu itu sudah menjelang waktu maghrib. Sebelumnya mungkin aku tidak terlalu memperhatikan atau bahkan tidak terpikir sama sekali kalau masih ada anak-anak yang suka bermain di sana. Mungkin karena di sekitar area tempatku bekerja dekat sekali dengan pemukiman penduduk yang jalan akses masuknya hanya satu. bisa jadi masih ada anak-anak daerah sini yang iseng dan berkeliaran bermain di sana.

“Dek…adek….sedang apa di sini ?, sudah sore.., pulang gih ”, teriakku sambil berjalan menuju ke arah mereka. Ntah apa jalanku yang melambat atau memang suara panggilanku kurang terdengar, sepertinya panggilanku tidak dihiraukan sama sekali oleh mereka dan gerakan merekapun sepertinya cepat sekali sehingga aku agak sulit untuk mengenali wajah mereka. Tiba-tiba angin dingin lembut berhembus disertai aroma yang tidak biasa, menyeruak di sekitar tempat itu. Sambil mempercepat langkah kakiku, kucoba menghampiri mereka. Akan tetapi ketika sesampai di sana, semuanya terlihat sunyi, lengang seperti tidak ada aktifitas sama sekali dalam beberapa menit sebelumnya.

Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku seperti tersadar dari sesuatu, sambil mencoba melihat ke sekelilingku dan ternyata hari sudah gelap, sepertinya securiti yang bertugas jaga sore itu agak terlambat menghidupkan lampu area belakang dan jarum jam tanganku sudah menunjukkan hampir 18.10 malam. Seketika itu juga aku pun bergegas pulang tanpa memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada sore itu.

Keesokkan harinya, aku bekerja seperti biasa dengan tidak sedikitpun membicarakan kejadian yang terjadi kemarin pada rekan-rekan di tempatku bekerja, walaupun sebenarnya masih menyimpan sedikit tanda tanya buatku. Untuk memenuhi rasa penasaran dan keingintahuanku, pada setiap sorenya kucoba lagi mendatangi tempat itu dan kali ini suasananya agak sedikit berbeda seperti hari-hari kemarin.

Masih terdengar suara tertawa dan suara derap langkah kaki anak kecil yang berlarian namun sepertinya tidak seramai kemarin, paling hanya 2-3 orang anak yang sedang bermain. Tampak olehku seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 atau 8 tahun, dengan kaos abu-abu lusuhnya, duduk manis diam di bak kayu mobil tua itu sambil sesekali memperhatikan teman-temanya yang berlarian.

Sesekali wajahnya polosnya menunduk ke bawah seperti sedang mengingat-ngingat akan sesuatu, kucoba mendekatinya sambil mencoba duduk di sampingnya.

“Sedang apa ya dek di sini, kok nggak ikut bermain dengan yang lain….?”, tegurku padanya. Adik kecil itu tidak menjawab, hanya diam sambil memberikan tatapan kosong ke arah teman-temannya.

“Pulang kemana ya dek..?”. Pertanyaanku hanya dijawabnya dengan menunjukkan jari telunjuk kecilnya ke arah lapangan yang rumput ilalangnya sudah sangat tinggi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

“Pulang yuk, sudah sore, nanti dicari orang tuamu.”

“Nanti saya temenin pulang..” ujarku sambil tetap mencoba mencairkan suasana obrolan sore itu.

Tiba-tiba dengan tangan kecilnya yang terasa agak dingin, anak kecil itu meraih tanganku seolah-olah memberikan isyarat padaku akan kesediaannya untuk diantar pulang olehku dengan tidak memperdulikan teman-temanya yang masih asik bermain. Karena hari sudah agak sedikit gelap, tempo langkah kakiku agak sedikit dipercepat sambil mengikuti petunjuk arah yang diisyaratkan olehnya dengan tanpa memperhatikan daerah sekelilingku. Langkah kakiku terhenti seiring langkah kaki anak kecil yang kian melambat.

“Masih jauh ya dek…?” ujarku pada anak kecil itu.

“Sudah sampai kak, sampai di sini aja nggak apa-apa “

 “Kak, besok anterin aku pulang lagi ya, tapi sampai di sini aja ”, dengan suara kecilnya anak kecil itu menjawab.

“Kok di sini ya dek, kan gak ada rumah di sini “, jawabku

Seketika itu juga angin berhembus disertai aroma yang tidak biasa, seperti aroma bunga melati dalam pikiranku. Sambil memperhatikan daerah sekelilingku yang sudah semakin gelap, hanya diterangi sebuah lampu jalan yang sudah redup pancaran cahayanya.

Beberapa menit kemudian aku mencoba berpaling ke arah tempat anak itu berdiri, namun aku hanya terdiam terpaku. Sosok anak kecil yang sebelumnya ada, tidak tampak lagi dihadapanku seperti menghilang dengan begitu saja seiring dengan semerbaknya aroma melati yang semakin menyengat indera penciumanku.

Dengan tanpa pikir panjang, bergegas aku meninggalkan tempat itu dan belum hilang rasa kekagetanku, tiba-tiba terdengar suara sayup-sayup di telingaku.

“Kak besok anterin aku pulang lagi ya….”

Agus Ahmad Fathullah

/agusfathullah

TERVERIFIKASI

Graphic designer n IT Support di sebuah perusahaan swasta di bidang paper n pulp packaging dan blogger pemula
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.